Latest blog posts

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sebab Sebuah Rumah di atas Neraka (Sajak)

hidup tak kan berakhir, kawan!

hidup tak kan berhenti seiring degupan jantung yang kian mengencang

sebab hidup ini begitu indah

begitu lengkap dengan perkakas-perkakasnya

di sini….

di rumah yang dibangun tuhan dengan cinta-Nya

rumah abadi

yang tak satupun mampu menghancurkan

sekalipun para dewa dan malaikat…

di rumah ini

aku bahagia

aku telah menacapai puncak tujuan dalam hidup dan matiku

di rumah ini…

tapi kau salah! (kata tuhan)

ternyata,

rumah itu tidak kekal, kawan!

rumah itu penuh bercak….

penuh kotoran dari sekian orang yang mengharapkan

penuh lumuran darah dari tangan-tangan mereka

tak sempurna

ya….

sekalipun rumah yang berada di atas neraka itu…

terlalu banyak orang menumpahkan darah

terlalu banyak orang terjebak egoisme

terlalu banyak orang tersesat

terlalu banyak orang menuding sesat

mereka rela berdesakan masuk

mereka rela antri

bahkan hingga ratusan tahun

hanya demi jatah kamar lusuh

sekalipun di bawah kolong meja emas

sekalipun dekat pintu selokan susu

sekalipun di pingggiran sungai yang semerbak

rumah diatas neraka itu, kawan!

telah banyak menimbulkan derita

tapi banyak menumbuhkan cinta

sebab rumah itu

rumah impian…

rumah masa depan

aku pun tau itu

lantas

bagaimana dengan neraka?

dan ternyata

tidak ada yang kekal dan abadi selain kasih-Nya


Surabaya, 23 April 2008

Maud Khan

Some Pictures

Hanya beberapa gambar bodoh...
tak ada yang keren... ahhahahaa



Rokok bukan Segalanya.....
Tapi Rokok membuat segalanya jadi indah



Pelantikan BEM Unesa 2008





Lomba Hadrah Katrok...




Pose depan hotel MEGA (gak pake Wati)




KBA 2007 (MAHANAIM)




Stuba Jogja (Hotel Puspita)




Stuba Jakarta (UNJ)

Sorry.....photonya itu2 aja yang isa ditampilin

Beri Kami Setetes Air (Sajak)

tuhan!

beri kami setetes air

dahaga yang tak kunjung hilang, membuat kami buta

lama kami terkungkung di tepi fajar ini menunggu surutnya hari

berlapis keringat dan kotoran bertumpuk di badan

kami tak sabar lagi menunggu ….

tuhan berikan kami setetes air saja

berapa tubuh tergeletak di setiap fajar, menunggu pagi di kamar kecil ini

berapa mayat terangkut di setiap penghujung pagi

berapa lagi yang akan kau ambil tuhan?

hanya setetes saja

setetes air yang bergelantungan bebas terguyur

kapan lagi dogma-dogma kesejukan menghiasi bumiku yang kering ini

saat pendeta-pendeta itu bergelayut di atas atap rongsokan tiap senja

sedang yang lain merengek minta kejatuhan sebutir keringat saja dari mereka

kami tak butuh keringat itu

kami lebih mendambakan setitik air saja…

berapa kali..

kuperingatkan agar tak berduyun-duyun datang ke tempat menjijikkan itu

berapa kali kuangkatkan tangan ini ke dagu-dagu mereka

ah,

kemilau sesaat memang menggiurkan

walau harus terkorbankan hanya dengan sebutir keringat yang kian lama kian melepah

dan kini mereka satu persatu meninggalkan sudut kota

dan pencarian pun terus berlanjut demi setitik keringat itu

tuhan

kapan kau turunkan setetes air?

setetes air saja

air kebebasan!!

29-06-2008



Maud Khan

Selamat Datang di Blog Maud Khan

Setelah berbulan-bulan didera oleh keinginan menciptakan formulasi baru dalam perjalanan hidup saya. Alhamdulillah, saat ini blog pribadi yang saya impi-impikan sudah selesai lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan.

Tidak ada harapan selain semua hal baik yang bisa kita ambil dengan adanya teknologi canggih yang membangun sekaligus menghancurkan ini.

So, karena ini masih merupakan awal dari sebuah dunia baru. Maka akan menjadi hal yang baik pula jika Anda mampu memaklumi segala kekurangan yang masih sering ditemukan dalam blog ini.

Akhirnya, selamat berlayar di dunia maya. Dan selamat berkarya.  
 
Catatan: 

  1. Blog ini adalah Blog pribadi, yang lebih mengacu pada pengalaman dari keseharian kehidupan saya. Tidak ada orientasi bisnis, politik, SARA atau afiliasi tertentu.
  2. Blog ini adalah murni hasil usaha tangan saya (meski domainnya numpang) bukan hasil beli, pinjem atau bahkan nyolong.
  3. Seluruh tulisan dalam Blog ini yang meliputi catatan, tutorial, sajak, cerpen maupun artikel adalah murni tulisan saya, bukan membajak, atau njiplak. (kecuali beberapa tulisan pada category Cerpen Mereka, itu saja)
  4. Seluruh tulisan dalam Blog ini masih pada batasan yang bisa saya pertanggungjawabkan
  5. Dikarenakan  lalu lintas dunia maya yang tak pernah ada habisnya dan tak kenal waktu, saya mengijinkan siapapun yang mampir di Blog ini untuk me-repost, mengambil atau menyebarkan sampah-sampah ini selama masih mencantumkan nama authornya, dan akan lebih bagus lagi jika disertakan link ke blog ini.
  6. Silahkan dikritik jika perlu dikritik, karena memang banyak kekurangan disana-sini (maklum, mungkin saya satu dari beberapa blogger miskin yang bergantung pada komputer hasil pinjaman dan mempostingnya dari warnet-warnet di pinggiran jalan)






any re-publication, copy, edit is please. dont forget to attach this credit, maudkhan.blogspot.com
For any critics, advice, sugestion, question, or disclaimer, tell us by fill this form or straight trhough our email: maud.khan@gmail.com

Navigator::| Blog | Contact Us | hit: 5141

Sajak Pertinggalan Diri 2




Tentang Sepotong Roti

sepotong roti tak berarti

sehingga ia tertinggal di atas sebuah piring kotor

sepotong roti tak berguna

ia mengambang di atas air keruh

sepotong roti tak bernilai

ia tercecer di jalanan

di pinggiran bertumpuk sampah

sepotong roti itu,

bahkan pengemis sekalipun enggan memungutnya

hanya menunggu dermawan yang hendak lalu

meski sepotong roti telah berbaik hati berbagi...

Surabaya, Juli 2007




Ijinkan Kami Mengamen

gema subuh serasa menghujam kami

retakan pagi memulai harinya demi hidup di uluran tangan orang

ku tahu tak banyak yang menyukai

malah membenci

sontak terdengar cercaan dari mulut yang tak kenal bijak

sejenak teringat, teriakan karena kami hanya anak jalanan

tetapi memang kadang tak beda

antara menghibur orang dengan mengemis tangan

walau receh….

sebab hanya itu yang kami anggap pekerjaan

kutahu tak banyak yang menerima

kadang mengusir walau dengan manisnya kata beku

derita!

sungguh derita

jauh dari sanak saudara

di luar, kehilangan segalanya

kepercayaan, kebahagiaan, masa depan atau mungkin juga tuhan?

tetapi…

kami masih punya

kehormatan, kebersamaan, kebebasan serta kepuasan

ah…

memang sulit memberi celah antara menghibur dengan meminta

tapi bagi kami tak jadi soal

karena celah sangat terlihat antara meminta dengan mencuri

walau tak semua orang melihatnya

Surabaya, 26 Juli 2008


Profil Penulis

Maud Khan adalah nama pena dari Mahfud, pria kelahiran Sampang, 6 Februari 1986. Ia tumbuh besar di kota kecil yang kerap dipandang sepi, namun justru di situlah ia pertama kali jatuh cinta pada dunia sastra—lewat novel-novel Balai Pustaka dan majalah Horison yang sering ia simpan di bawah tumpukan buku pelajaran sekolahnya.

Saat menempuh kuliah di Jurusan Sejarah, Universitas Negeri di Surabaya, Mahfud sempat mencicipi segala dinamika aktivisme mahasiswa: mulai dari menjadi ketua BEM jurusan, aktif di lingkar BEM universitas, hingga berkutat dalam organisasi ekstra kampus seperti GmnI. Ruang kelas hanya sebagian dari "kampus"-nya, sisanya adalah warung kopi, diskusi malam, dan catatan-catatan reflektif yang ia tulis di buku tipis, kadang berisi cerpen, kadang hanya puisi setengah jadi.

Pernah bermimpi menulis novel, tapi sampai sekarang lebih sering menulis setengah jalan, lalu ditinggalkan. Meski begitu, semangat menulisnya tak pernah benar-benar padam. Dunia blog menjadi salah satu ruang baginya untuk terus menyusun kata, menyimpan keresahan, atau sekadar merapikan memori.

Sebagai alumnus pesantren di Sampang, Mahfud juga akrab dengan pemikiran Islam, tapi ia percaya bahwa keberagaman cara berpikir adalah kunci bagi kemajuan umat. Ia menyukai diskusi lintas wacana—dari filsafat, sejarah, sosiologi, hingga geografi—dan merasa semua itu saling berkelindan, memperkaya cara pandang terhadap dunia.

Kini Mahfud tinggal di Probolinggo, bersama dua anak yang seringkali jadi pengingat bahwa hidup bukan cuma soal cita-cita lama, tapi juga tentang menikmati hari ini dengan apa adanya. Blog ini adalah sebagian dari itu—tempat ia kembali menjadi “Maud”, menulis untuk dirinya sendiri dan siapa pun yang kebetulan nyasar dan betah membaca.

Kehidupan

Idul Adha

Malam bertakbir

aku merokok

nyamuk-nyamuk bertakbir

aku merokok

semua binatang malam bertakbir

tapi aku tetap merokok

Seluruh alam bertakbir

dinding-dinding itu,

langit...

Hanya yang tidak kutahu

rokok di jari tanganku...

benarkah ia bertakbir di mulutku?

untuk idul adha yang mulia

Surabaya, 19 Desember 2007



Hidup dan Mati

Sebab Sebuah Rumah di atas Neraka

hidup tak kan berakhir!
hidup tak kan berhenti seiring degupan jantung yang kian mengencang
sebab hidup ini begitu indah
begitu lengkap dengan perkakas-perkakasnya

di sini….
di rumah yang dibangun tuhan dengan cinta-Nya
rumah abadi
yang tak satupun mampu menghancurkan
sekalipun para dewa dan malaikat…

di rumah ini
aku bahagia
aku telah mencapai puncak tujuan dalam hidup dan matiku
di rumah ini…

tapi kau salah! (kata tuhan)

ternyata,
rumah itu tidak kekal!
rumah itu penuh bercak….
penuh kotoran dari sekian orang yang mengharapkan
penuh lumuran darah dari tangan-tangan mereka
tak sempurna

ya….

sekalipun rumah yang berada di atas neraka itu…
terlalu banyak orang menumpahkan darah
terlalu banyak orang terjebak egoisme
terlalu banyak orang tersesat
terlalu banyak orang menuding sesat

mereka rela berdesakan masuk
mereka rela antri
bahkan hingga ratusan tahun
hanya demi jatah kamar lusuh
sekalipun di bawah kolong meja emas
sekalipun dekat pintu selokan susu
sekalipun di pingggiran sungai yang semerbak

rumah diatas neraka itu!
telah banyak menimbulkan derita
tapi banyak menumbuhkan cinta

sebab rumah itu
rumah impian…
rumah masa depan
aku pun tau itu
lantas?
bagaimana dengan neraka?

dan ternyata
tidak ada yang kekal dan abadi selain kasih-Nya


Surabaya, 23 April 2008




Sajak Pertinggalan Diri




Tak Ada Akhir

Mungkin sudah waktunya mengakhiri risau ini

Sebab musim pun telah berganti lama sejak dirimu tak kulihat lagi

Dan dengan derai tawamu yang masih menganga di depan mataku

Aku masih terdiam dalam bisu tak tentu, harus kumulai darimanakah?

Dengan hening yang kerap datang mendera

Saat terhempas di pesimpangan penuh derita

Dan jiwa,

Memang tak lagi mampu bertahan dengan dirimu yang selalu hadir

Dan betul,

Dirimu takkan pernah hilang bersama risauku itu...

Surabaya, 4 Juni 2009

(pukul 01.18 WIB)

Puisi Buat Dia

UNTUKMU YANG JAUH DI SANA

saat kutatapkan penglihatan ini

bintang-bintang berkilauan

gemerlapnya,

menghiasi malam yang dilanda kesepian

malam ini…

tentu!

sebab hari-hariku telah penuh dengan keindahan

indah yang tak dapat kulukiskan

saat bunga-bunga bermekaran

jalan kampungku yang sepi

telah kau buat ramai dalam penglihatanku

bulan belum bersinar

namun cahayanya telah mampu kurasakan

mataku pun seolah melihatnya

dan tentu hanyalah untukmu

mataku terbuka sekarang

ku sadar…

hatiku luluh

sebab dirimu hadir untukku

bukan untuk orang lain

kuingat kala itu

terlihat matamu yang bersinar

memberikan pengharapan

untukku…

semenjak itu aku selalu berharap

kau menjadi akhir hidupku

menjadi teman di setiap hariku

dengan kasih suci

denganku…

kau pasti ingat

kala aku mengucapkan kata itu

untukmu

malam itu…

dan hanya untukmu

bukan yang lain,

dan tiada pernah diriku setulus itu

sebelumnya…

sungguh tiada lagi

yang nampak diatas kelopak mata ini

selain tatapan matamu

dan tentu…

senyum mungilmu

masih kuingat semua

kau adalah cahaya

yang selalu menyinari kesendirianku

selalu bersamaku

bayanganmu…

bersinar laksana kau

kau lihat…

berapa kali musim berganti

tidak bagiku

semuanya masih seperti dulu

kala itu…

semua belum lekang

masih utuh

tinggal kau

bagaimana dengan kau

ahh..!

kau hanya…

atau mungkin aku yang salah

aku memang serba salah

tapi mengapa hanya kau

kau…

bahagiakan aku

senangkan aku

sakiti aku

kau buatku buta

tapi kau buatku lebih melihat

aneh…

coba dengar ratapan ini

lihatlah mata ini

rasakan olehmu

bayanganmu yang hadir di sana

inilah aku

kau akan mampu menilainya

inilah diriku yang selama ini kau tahu

lihatlah…

sebab di balik diri yang lemah

kau kan temukan hati yang suci

di sana

di balik diri yang angkuh

kau akan dapatkan kasih dan keikhlasan

tentu di sana

ahhh…

kau hanya mengada-ada

ya…

jika kau menganggapku demikian

dan aku memang menyukai lelucon…

tapi tidak!

dan kuyakin kau juga tahu tentang itu

tentang tulus hati

dan hancurnya diri

kini aku tak mengerti

tentang semuanya

karena telah hilang sadar ini

sebab cinta…

dan aku lebih berharap

kau akan selalu hadir di sini

temani hariku

dengan cinta…

setidaknya harapan…

taukah kau

jika sekarang tiada pernah lagi kulihat

bintang-bintang itu…

sebab bagiku sudah hilang gemerlapnya

dan lihatlah

jalan di kampungku telah kembali sepi

bunga-bunga itu tiada lagi mekar

tanpa bayanganmu di mata ini

sebab penglihatan ini tiada lagi mampu

menghadirkan kau…

mungkin aku yang tak sanggup

atau kau yang tiada mengijinkan

lihat dan tolonglah…

tuk menghadirkanmu lagi

sekadar demi bintang-bintang

sekadar demi jalan kampung

sekadar demi bunga-bunga

biarlah walau sekedap

walau menyakitkan

dan harus kehilangan

(13/03/07)


Sajak-Sajak Maud Khan

Sebuah Kabar di Pengasingan

daun-daun itu berguguran

tepat di taman yang dipenuhi semak belukar bersama angin yang hadir dari barat,

membangunkan semangat yang telah lama mati

angin itu…

telah membawa bermacam kabar selama pengasinganku

kabar yang membuat aku tersenyum dalam marah, tertawa dalam tangis.

terbayangkan wajah-wajah mereka yang kucengkeram dengan tangan kiriku

ingin ku katakan pada mereka

tak malukah kau yang selalu merasa terbang di atas?

menghinakan yang terasing…

seperti daun-daun yang berguguran itu

kita pun akan kembali…

Surabaya, 6 Mei 2008





Pesan dari Kegelapan I

bila tiba masanya kelak

tatkala tubuh ini ingin segera terlepas dari jiwa

maka jangan ada yang mengenangku selain dari apa yang aku tulis

sebab mulut tak dapat dipercaya

dan ucapan mampu berubah arah dengan mudahnya laksana angin

dan tahukah bahwa mata dan telinga adalah sesuatu yang paling menipu bagimu?

mata dan telingamu itu, belum mampu menebak hatiku…

dan karena itu, mulut-mulut kalian akan terbiasa untuk mengoceh,

mengoceh dengan enaknya

***

dan jika kau ingin tahu akan kabar tentangku

maka carilah aku ditempat tersunyi di muka bumi

di suatu malam yang sepi

datanglah padaku kawan…

tapi jangan kau ganggu, sebab aku sedang bercakap-cakap dengan tuhan

jika tak bisa,

maka tanyakanlah pada pohon-pohon yang masih rindang itu

jika tetap tak bisa,

maka sadarilah dirimu, kawan…

***

atau jika kau terlambat datang..

sebab telah lebih dulu ajal menjemputku, maka datangilah pusaraku

bayangkanlah apa yang dilakukan oleh tuhan terhadapku

tapi jangan kau rusak kuburku….

6 Mei 2008

Pesan dari Kegelapan II

Dan ingatlah, kawan

Di setiap kematian seorang manusia di luar kewajaran yang kau lihat

Sedikitpun kau tak kan tahu apa yang diperbuat tuhan terhadapnya

Sekali lagi,

Mata dan telinga adalah pembual terbesar

6 Mei 2008





Avorisme kehidupan

Semakin lama kau menjalani kehidupan
maka semakin dekat padamu kematian
(Spg 02/03/2004)


Suatu hari kumakan buah duku
Enaknya, rasanya, manisnya betapa menggoda seleraku

Seketika terkunyahlah bijinya di dalam
Manis, pahit, bercampur jadi satu

Dan kukeluarkan semua dari dalam mulutku
Tak berguna
(Spg 02/03/2004)


Mengapa kita lebih suka mencari kesalahan orang lain,
daripada kebenarannya?
Atau mencari kesalahan diri kita?
(Spg 10/03/2004)


Banyak manusia yang cenderung senang
jika melihat kesalahan orang lain,
Tanpa harus mafhum
(Spg 26/04/2004)



Setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan
yang berbeda
(Spg 26/04/2004)


Seseorang yang selalu menampakkan kelemahannya

Maka saat ia menampakkan kelebihannya
Hanya kelemahannya saja yang kan tampak
(Spg 26/04/2004)


Jangan engkau terbiasa menghitung anak ayam
yang belum menetas
(Spg 26/04/2004)


Sungguh lebih baik jika kita memberikan pinjaman
kepada mereka yang butuh pinjaman
Daripada memberikan hadiah
pada orang yang sebenarnya tak membutuhkan hadiah
(Spg 26/04/2004)


Orang yang baik bukanlah mereka
yang selalu melakukan perbuatan terpuji,
Orang baik adalah orang yang selalu berusaha
menjauhi perbuatan tercela
(Spg 26/04/2004)


Kadang aku menggelengkan kepala saat kulihat
seseorang mulai tidak waras

Tapi seringkali orang menggelengkan kepalanya
saat melihat ketidakwarasanku
(Spg 26/04/2004)


Lihat ke atas!
Maka akan kau lihat bintang-bintang gemerlapan
Tapi lihat pula ke bawah!
Maka akan kau temukan kerikil-kerikil berserakan
(Spg 14/05/2004)


Cinta murni tertinggi adalah
cinta Illahi dan cinta nabi'
Tapi adakah yang bisa mengalahkan
Cinta pada diri sendiri?
(Spg 14/05/2004)


Di seberang desa ada sebuah toko
yang berdiri puluhan tahun yang lalu
tapi tetap baru
Dan mungkin duapuluh atau seratus tahun lagi akan tetap baru

Kau tahu kenapa?
Karena nama toko tersebut memang ”Toko Baru”
(Spg 01/08/2004)


Jangan kita berpikir
Bagaimana agar dapat memukul
walau pantas memukul,
Tetapi marilah berpikir
Agar tak ada yang memukul kita
karena memang tak pantas dipukul
(Spg 01/08/2004)


Lezat tidaknya suatu masakan
Adalah tergantung dari
siapa yang akan memakan masakan itu
(Spg 01/08/2004)


Betapapun hebatnya seorang maling
Pasti ia akan kesal
jika kehilangan salah satu dari miliknya
(Spg 01/08/2004)
Diberdayakan oleh Blogger.

Trending now

Popular Posts