Latest blog posts

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Catatan Maud Khan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Maud Khan. Tampilkan semua postingan

DPR, Parpol, dan Masyarakat: Tiga Pilar yang Harus Berubah

Oleh: Mahfud

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sudah lama mendapat label sebagai lembaga yang tidak populer. Survei demi survei menempatkan DPR di posisi bawah soal kepercayaan publik. Banyak orang melihat DPR hanya sibuk rapat, lambat bekerja, dan sering terlibat kasus korupsi. Bahkan ketika ada anggota yang rajin, kerja itu jarang terlihat langsung oleh masyarakat.

Secara kolektif anggota DPR juga harus sadar bahwa kerja mereka selalu disorot masyarakat sama seperti kerja eksekutif. Bagi kebanyakan orang, DPR dan pemerintah dianggap sama-sama “pejabat” yang punya tanggung jawab langsung terhadap rakyat. Karena itu, tidak heran jika publik sering membandingkan kinerja DPR dengan eksekutif yang jelas terlihat hasilnya di lapangan. Sehingga DPR pun dituntut memberi kontribusi yang terasa bukan sekedar “tukang stempel” kebijakan pemerintah.

Fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran harus dijalankan serius. Kalau tiga fungsi ini diperkuat, publik akan melihat DPR punya arti. Transparansi dan integritas menjadi kunci agar kepercayaan bisa kembali dibangun.

Demonstrasi yang terjadi belakangan ini seharusnya menjadi alarm keras bagi DPR sebagai lembaga. Suara protes di jalanan menunjukkan ada jarak yang makin lebar antara wakil rakyat dengan rakyat yang mereka wakili. Ketidakpuasan publik yang tumpah dalam bentuk aksi massa bukan hanya kritik sesaat, tetapi tanda bahwa DPR perlu berbenah serius. Jika aspirasi masyarakat terus diabaikan, maka legitimasi DPR akan semakin runtuh, dan lembaga ini hanya akan semakin kehilangan wibawa di mata publik.

Partai Politik dan Kaderisasi

Tanggung jawab perbaikan DPR tidak bisa hanya dibebankan pada anggota yang sudah terpilih. Partai politik adalah pintu masuk utama. Masalahnya, selama ini partai hanya sibuk berburu kursi. Kualitas kader sering terabaikan. Yang penting populer, punya modal besar dan bisa menang, Cukup.

Hadirnya wajah baru DPR yang berasal dari kalangan artis dan publik figur tentu sah-sah saja, tapi publik tahu betul: menjadi terkenal tidak otomatis membuat seseorang siap mengurus legislasi. Di mana arena DPR akhirnya hanya menjadi arena belajar atau menghabiskan waktu untuk adaptasi. Sementara itu, politisi berpengalaman atau ahli kebijakan justru sulit bersaing atau terlempar dari persaingan.

Pemilu 2024 memberi gambaran jelas bagaimana partai-partai politik berebut kursi di DPR dengan segala cara. Persaingan berlangsung keras, penuh intrik, dan tidak sedikit yang memakai cara-cara kotor seperti politik uang serta kampanye hitam. Situasi ini bahkan disebut sebagian pengamat sebagai salah satu yang terburuk dibanding pemilu-pemilu sebelumnya, karena orientasi partai benar-benar sempit: bukan kualitas wakil rakyat, melainkan semata-mata jumlah kursi di Senayan.

Partai politik sebenarnya punya modal besar berupa jejaring yang tersebar dari tingkat desa hingga pusat. Dengan jaringan seluas itu, seharusnya partai mampu menyaring dan mengkader orang-orang berkualitas, bukan sekadar figur yang populer atau bermodal logistik besar. Memang prosesnya tidak instan, tetapi kalau tidak dimulai sejak sekarang, partai akan terus terjebak pada pola lama: mengusung calon instan demi mengejar kursi, lalu sibuk berkilah saat kadernya terjebak korupsi. Dengan kaderisasi jangka panjang, partai bisa melahirkan politisi yang betul-betul layak dipercaya rakyat bukan sekedar DPR yang penuh wajah populer tapi minim gagasan.

Masyarakat dan Politik Uang

Tidak adil juga kalau hanya DPR dan partai yang diminta berubah. Masyarakat sebagai pemilih juga punya andil besar. Survei menunjukkan bahwa politik uang masih kuat. Ada yang mengaku menerima uang atau sembako dari calon, dan memilih calon itu. Tidak sedikit calon pemilih menerima uang dari beberapa caleg, sehingga ia secara rasional akan memilih uang paling besar atau caleg yang disukainya. Praktik ini membuat politik kita sulit sehat. Selama uang bisa membeli suara, calon berkualitas akan kalah oleh calon bermodal.

Celakanya, caleg-caleg bermodal ini tahu bahwa sekurang-kurangnya separuh dari modal yang ia gelontorkan akan menguap di timses atau para calon pemilihnya. Budaya “tilep” ini mengharuskan seorang calon legislatif harus menyiapkan minimal 2-3 kali modal untuk bisa memenangkan pertarungan menuju senayan ini.

Jadi, mari kita sudahi menganggap pemilu sebagai pesta lima tahunan untuk mencari uang cepat. Pemilu adalah kesempatan memilih wakil rakyat yang benar-benar bisa memperjuangkan kepentingan bersama. Kalau pemilih hanya melihat siapa yang memberi uang atau siapa yang populer, maka wajah DPR akan selalu sama, penuh patronase dan pragmatisme.

Masyarakat harus lebih berani menolak politik uang. Patronase berbasis tokoh lokal juga harus dipertanyakan. Jangan lagi memilih karena tekanan atau kedekatan pribadi. Pilihlah karena kualitas, gagasan, dan rekam jejak.

Perubahan DPR tidak mungkin terjadi kalau hanya menunggu kesadaran anggota DPR sendiri. Partai politik harus sungguh-sungguh menyeleksi kader terbaik, dan masyarakat harus kritis dalam memilih. Kalau tiga pilar ini bergerak bersama, DPR yang sadar diri, partai yang serius, dan masyarakat yang cerdas, barulah demokrasi kita bisa sehat.

Kalau tidak, lima tahun ke depan akan sama saja, DPR tetap dianggap lembaga yang tidak dipercaya, partai terus pragmatis, dan rakyat kembali kecewa.

Celakanya, caleg-caleg bermodal ini tahu bahwa sekurang-kurangnya separuh dari modal yang ia gelontorkan akan menguap di timses atau para calon pemilihnya. Budaya “tilep” ini mengharuskan seorang calon legislatif harus menyiapkan minimal 2-3 kali modal untuk bisa memenangkan pertarunga

Pertanyaan Usang

“Kapan menikah?”

Kalimat itu seperti jam dinding yang tak pernah mati, berdetak di kepala tiap kali aku pulang ke rumah. Terkadang dari mulut tetangga yang bahkan tak hafal namaku, kadang dari paman jauh yang lebih sering mengirim broadcast dakwah daripada kabar pribadi. Tak jarang dari teman sendiri yang datang membawa pasangannya—bukan dalam niat menyombongkan, tapi tetap saja menyisakan perasaan: mengapa aku belum?

Sebenarnya, aku pun bertanya hal yang sama. Tapi dengan nada yang berbeda. Bukan “kapan menikah?” dengan tanda tanya. Melainkan “kapan menikah...” dengan titik tiga di ujungnya.

Sebab menikah, bagiku, bukan sekadar peristiwa. Ia bukan hanya soal menggenggam tangan seseorang di pelaminan dan makan-makan di depan kamera. Menikah, seperti yang kudengar dari para pembaca makna dan penjaga sunyi, adalah sebuah perjalanan panjang: menggenggam dunia yang tak selalu ramah bersama-sama.

Kahlil Gibran pernah menulis: “Biarlah ada ruang dalam kebersamaanmu, dan biarkan angin langit menari di antara kalian.” Mungkin itulah sebabnya aku merasa, cinta yang dewasa tidak lahir dari tekanan. Ia butuh ruang. Ia perlu waktu. Ia hanya akan tumbuh dari hati yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Tapi di luar sana, suara-suara itu tak henti bergaung. “Menikah itu ibadah.” “Menikah biar nggak sendirian terus.” “Menikah, biar ada yang ngurus kamu.”
Dan aku hanya tersenyum. Kadang angguk-angguk, meski hati tak sepenuhnya sejalan.
Karena mengapa lebih banyak orang bertanya “kapan menikah?” dibanding “apa kau butuh pekerjaan?”
Mengapa tak ada yang bertanya, “apa kau butuh uang?”

Padahal, menikah butuh lebih dari cinta. Ia butuh kerja. Butuh mental yang kuat dalam menghadapi realitas. Mungkin butuh konseling. Butuh saling memaafkan bahkan sebelum ada kesalahan. Menikah bukan soal cukup umur atau mapan secara ekonomi. Ia soal siap atau tidak berbagi ruang, berbagi luka, berbagi waktu, berbagi diam yang tidak selalu nyaman.

Saat ini, aku sedang merajut semua yang berserakan—potongan-potongan hidup yang tercecer di jalan panjang bernama pencarian. Bukan karena aku tak ingin menikah. Tapi karena aku ingin, ketika nanti seseorang itu datang, aku telah cukup mengenal diriku sendiri agar tak mencintainya dalam kebingungan.

Aku percaya, setiap cinta yang besar harus diberi ruang tumbuh dalam kesabaran. Sebab bukan pertemuan yang menciptakan keutuhan, tapi kesiapan untuk menampung luka-luka kecil yang akan datang setelahnya. Dan itu, bukan perkara siapa yang datang lebih dulu. Tapi siapa yang mau tinggal saat cahaya padam.

Aku tidak sedang menunda. Aku sedang mematangkan musim. Karena dalam hidup, ada hal-hal yang hanya indah bila datang tepat waktu—seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.

***

Kadang aku membayangkan, andai ada seorang perempuan yang datang, duduk bersamaku di bangku taman yang sepi. Ia tak perlu cantik seperti yang disarankan dunia. Ia hanya perlu mengerti, bahwa aku sedang menata ulang jalan hidup yang sudah lama tergerus hujan.

Aku tak ingin menjadi orang yang salah memulai, hanya karena merasa dikejar. Atau merasa sendirian. Atau demi membungkam pertanyaan yang terus menerus datang. Menikah bukan pintu keluar dari kesepian. Ia adalah pintu masuk menuju komitmen, kerja sama, dan kadang—konflik yang kita pilih sendiri.

Mungkin suatu hari, saat semua cukup tenang, dan hatiku telah berhenti mencari bentuk cinta yang ideal, aku akan menjawab pertanyaan itu dengan yakin. Bukan dengan senyum hambar, bukan dengan gumaman “belum tahu.” Tapi dengan langkah nyata.
Dan mungkin, pada hari itu, tak ada lagi yang perlu bertanya,
karena jawabannya akan hadir tanpa perlu diucapkan.

Maud

Probolinggo, 2013

Beberapa Jam Setelah Pesan yang Panjang itu

Pesanmu panjang bahkan terlalu panjang, datang tiba-tiba. Bukan karena isi, maksud atau siapa yang mengirim. Tapi aku menjadi heran, karena baru pertama aku menerima "sms" sepanjang itu. Telepon genggamku terseok-seok karena huruf-huruf kecil itu tak pernah habis. Kubaca sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali sehingga dapat mafhum kata demi kata. Atau sekedar meyakinkan bahwa "sms" itu tak salah orang.

Sebenarnya ingin aku membalas pesan panjangmu dengan beberapa kata saja, tak perlu berbelit. Cukup menekan beberapa huruf, selesai. Kupikir ini sepele. Tak perlu memeras otak apalagi menyita waktu berhargaku yang akhir-akhir ini sudah terbuang percuma. Tapi rupanya aku tertarik. Aku mulai sedikit memikirkan... "apa yang harus kutulis?"

Aku tidak suka menulis terlalu banyak. Bahkan buat mengisi blog atau kolom catatan saja aku tak pernah sempat. Tapi beberapa orang bisa melalui ini. Mereka terbiasa menulis dan membiarkannya tergeletak diatas meja atau bahkan dibuang begitu saja tanpa berharap akan sesuatu yang lebih "menghasilkan". Aku menyukai cara berpikirmu, simpel, cerdas tapi tidak serawut. Setidaknya menurutku.

Jujur, aku tidak pernah ingin terlibat dengan apapun, siapapun. Pertemuan dengan dia dan kau adalah sebuah kebetulan dan sebenar-benarnya kebetulan. Aku tak pernah tau sejauh mana aku mengenal kalian. Aku hanya bisa bersyukur bisa terlanjur berkumpul pada lingkaran kekonyolan kecil ini.

Dua tahun lalu,  di ibu kota. Saat semua mata tertuju pada kalian, di ruangan itu, hening. Setelah beberapa bait sajak terseret dan beberapa lagi hilang. Aku ingin katakan bahwa "kalian adalah pasangan duet yang serasi".
Sejak itulah aku mulai bersahabat dengan laki-laki aneh itu. Ada beberapa cerita kecil, kisah kecil dan beberapa lelucon kecil yang menghinggapi kami. Termasuk pada beberapa bait yang hilang itu.

Tetapi dia, si Broer itu... Ya, si Broer. Penyair kondang itu, yang terkenal angkuh di panggung dengan puisi-puisi cemerlangnya bahkan tak bisa jujur dengan dirinya sendiri. Ia juga suka membual sepertiku meski mungkin tak separah aku. Bisa kau bayangkan bagaimana jika kami berkumpul. Bahkan kerikil-kerikil di sekitar kami pun ikut beterbangan mendengar derai tawa yang tak kunjung hilang itu. Jika ada orang asing, kami akan disangka gila.

Sesekali aku memancing dan mengarahkan pembicaraan pada hal-hal berbau romantis. Tapi bukan karena dia tidak romantis, justru karena romantis, dia semakin menggila, kata-katanya membakar langit, beberapa bagian lagi ia hilangkan. Pernah kupaksakan untuk membongkar isi kepalanya, tapi kosong, sepertinya sudah ia simpan pada bagian lain.

Kau tahu, Jika sebentar lagi dia hendak menikah. Dan tahukah kau? Dari siapa aku mendengar kabar itu? Bahkan si Broer pun tak pernah bersedia membuka mulutnya atau mengetik beberapa pesan pendek dan mengabariku. Hanya ada kawan yang kebetulan berkawan denganku sudi memberitahuku soal itu.

Lalu, hanya karena sekelumit cerita itu kau mengirimiku pesan begitu panjang??? Atau ada beberapa orang lagi yang menjadi sasaran pesan panjangmu seperti "Vivi" atau yang lain atau bahkan si Broer juga?

Hmm... sepertinya aku mulai lelah. Buat apa kuteruskan. Sedang si Broer sudah menutup cerita setelah menemukan Utari-nya. Begitu pula kau yang lebih dulu menemukan tokoh Broer idamanmu. Sedang aku, hanya figuran yang berputar-putar, tenggelam dalam elegi hidupku sendiri. Dan sekali lagi menjadi korban SMS panjang.

Semoga cerita ini masih menemukan sekuel-nya.....

Surabaya, Okt 2010


Tak Berkesudahan

Sedikitpun tiada pernah terbersit dalam benakku menjalani hidup yang dijalari pikiran macam ini. Tapi pantaskah kita mengeluh? sedang keluhan tidak akan menyelesaikan semuanya. Hidup selalu butuh keputusan, apapun itu. Aku sadar, jika keadaan menentukan seberapa banyak pilihan kita. Kemudian kita akan berdalih dengan berbagai cara bahwa... kita tak ada pilihan.
Hmmm, rupanya ketersediaan maaf pada diri sendiri pun terbatas. Kala kepasrahan telah memuncak, tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali memaki dan mengumpat pada diri yang penuh rasa bersalah.
"Tuhan, aku butuh petunjuk-Mu atas semua ini. Biarlah semua termakan waktu, tetapi percayalah jiwaku masih bertunduk pada-Mu."
Kemudian cahaya yang melintas hilang sudah, entah kapan ia akan datang lagi. Benar-benar pertobatan yang sia-sia. Seiring dengan berjaannya hari, aku terpaku meratap dan melamun dengan dalih-dalihku yang tak berkesudahan. Ternyata aku masih menginginkan dia.

Maud Khan
di Suatu malam... Lupa

Ironi dibalik Panji Kilapah

Suatu siang di awal 2008, aula Fakultas Ilmu Sosial dipenuhi mahasiswa dari berbagai jurusan. Seminar bertajuk "Wajah Islam di Tengah Perubahan Zaman" digelar oleh sebuah organisasi dakwah kampus. Salah satu pembicara yang hadir adalah perwakilan dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sejak awal, suasana di acara terasa janggal. Ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya diputar, sang pembicara yg rambutnya mengkikap itu tetap duduk di kursinya, kaku. Banyak mahasiswa mengikuti sikapnya seolah memberi isyarat bahwa mereka tak menganggap lagu itu layak dihormati. Tatapan heran dan gumam pelan pun mulai terdengar di antara para peserta.

Diskusi yang berlangsung pun menggulirkan pertanyaan yang menggugah, "bagaimana wajah Islam dalam merespons perubahan zaman?" HTI, sebagaimana biasa, mengangkat ideal khilafah sebagai satu-satunya solusi. Perubahan zaman, menurut mereka, hanya bisa dijawab dengan satu sistem berbasis hukum Islam, di bawah satu kepemimpinan tunggal sedunia. Namun ketika ditanya tentang posisi Indonesia, atau negara-bangsa secara umum, jawabannya tegas d "NKRI bukan sistem Islam, ia ciptaan penjajah dan hukum-hukumnya adalah taghut."

Pandangan seperti itu, meski disampaikan dengan keyakinan penuh, menyimpan sejumlah ironi yang tak mudah diabaikan. Pertama-tama, HTI dengan lantang menolak konsep negara-bangsa (termasuk Indonesia) namun mereka tetap memakai nama "Hizbut Tahrir Indonesia". Aneh, kan? Jika NKRI dianggap batil dan kafir, mengapa tetap membonceng nama geografis dan identitas nasional yang tertolak secara ideologis?

Lebih jauh lagi, retorika penolakan terhadap demokrasi, Pancasila, dan hukum Indonesia seringkali dibarengi dengan partisipasi aktif dalam ruang-ruang publik yang disediakan oleh sistem tersebut. Mereka berdakwah dengan memanfaatkan kebebasan berekspresi yang dijamin negara. Mereka berdemonstrasi, menyebar pamflet, dan berkampanye gagasan secara terbuka, sesuatu yang justru tidak mungkin terjadi dalam sistem khilafah yang mereka dambakan, di mana kebebasan berpikir sangat mungkin diseragamkan oleh satu tafsir.

Lucunya, dan yang mungkin paling memprihatinkan dari semua ini adalah bagaimana HTI merekrut anak-anak muda kampus yang agamanya masih mentah dan ala kadarnya. Banyak di antara mereka mengaku ingin hidup sepenuhnya Islami, namun ironisnya tak sedikit yang bahkan belum mampu membaca tulisan Arab. bahasa halusnya "nggak bisa ngaji". Namun mereka sangat rajin mengikuti halaqah (atau entah apa namanya), yang intensitasnya hampir menyamai kuliah reguler. Doktrin khilafah menjadi semacam jalan pintas menjadi "islami" tanpa harus memahami khazanah Islam itu sendiri.

Dalam semangat idealisme yang menggebu, HTI seringkali menawarkan kesederhanaan yang terdengar hebat, yakni khilafah untuk semua masalah umat. Tapi kehidupan umat tak sesederhana itu. Ada sejarah panjang, budaya lokal, perbedaan mazhab, hingga dinamika politik global yang tak bisa dipukul rata dengan satu sistem universal. Apalagi bila sistem itu sendiri tak pernah diuji di zaman modern ini.

Di tahun 2009 ini, ketika Indonesia masih terus berjuang mencari bentuk demokrasi yang lebih matang, gerakan seperti HTI justru menawarkan jalan mundur. Mereka menyerukan revolusi sistem, tapi tak menawarkan detail konkrit dan realistis. Mereka tidak sadar bahwa mereka berada di dalam masyarakat yang sepenuhnya berbeda-beda, yakni masyarakat yang plural. Dan yang paling menyedihkan, mereka mengkafirkan sistem yang justru memberi mereka ruang untuk berbicara.

Kritik terhadap HTI bukanlah kritik terhadap semangat keberislaman, tetapi kritik terhadap cara berislam yang kaku, tertutup, dan tidak mengerti realitas. Islam adalah agama yang merangkul perubahan zaman, bukan menolaknya secara apriori. Di tengah zaman yang terus berubah, justru yang diperlukan adalah sikap terbuka, dialogis, dan cerdas. Bukan klaim-klaim eksklusif atas satu-satunya kebenaran, apalagi yang dibungkus dalam jargon khilafah yang kosong.

Kau

Aduhai, ternyata satu kata itu yang membuatku mulai terbangun. Satu kata, yang , entah darimana asalnya. Dari gubuk kejujuran, ataukah rumah kedustaan. Dan jika aku memikirnya, menasbihkannya pada butiran-butiran ombak di lautan. Maka teranglah, satu kata itu.. dengan sejujurnya. Tapi aku tak mau, biarlah ia bohong, karena hanya bohong itu yang bisa mengobatiku.
Dan taukah kau..??? kampungku kembali ramai walau tak ada dirimu di sana. Aku telah bersemangat memanggil orang-orang. Meski tanpa kau. Tampaknya ini semua pasti berlanjut, hanya masalah waktu bukan?
Kau menyerah pada takdir. Kau menyerah pada kebohongan. Sehingga penyerahanmu itu membebankan sesuatu hal yang begitu berat buatku. Apalah? kau yang selama ini menjadi tonggak hidupku, harus runtuh. Diterjang ketidaktahuan yang arogan, yang buatku semata-mata hanya demi... entahlah.

Kau membuat puisi? aku yakin kau tak bisa..
Tapi seburuk apapun itu, aku akan dengan senang membacanya. Hatiku tak kan pernah tertutup dengan semua ucapanmu walau tak paham 'bisa' apa lagi yang kau keluarkan. Kau pernah makan dengan sejuta kesenangan? tapi aku pernah, walau kau mungkin tak merasakannya. Jika kau merasa, maka aku akan lebih merasakannya.
Kau pernah marah? aku selalu marah, pada diriku yang bodoh, berteriak-teriak, memaki-maki di setiap sudut ruangan. Mengutuk siapapun yang sebenarnya tak pantas dikutuk. Kau pernah sadar? kau memang selalu sadar...

Avorisme kehidupan

Semakin lama kau menjalani kehidupan
maka semakin dekat padamu kematian
(Spg 02/03/2004)


Suatu hari kumakan buah duku
Enaknya, rasanya, manisnya betapa menggoda seleraku

Seketika terkunyahlah bijinya di dalam
Manis, pahit, bercampur jadi satu

Dan kukeluarkan semua dari dalam mulutku
Tak berguna
(Spg 02/03/2004)


Mengapa kita lebih suka mencari kesalahan orang lain,
daripada kebenarannya?
Atau mencari kesalahan diri kita?
(Spg 10/03/2004)


Banyak manusia yang cenderung senang
jika melihat kesalahan orang lain,
Tanpa harus mafhum
(Spg 26/04/2004)



Setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan
yang berbeda
(Spg 26/04/2004)


Seseorang yang selalu menampakkan kelemahannya

Maka saat ia menampakkan kelebihannya
Hanya kelemahannya saja yang kan tampak
(Spg 26/04/2004)


Jangan engkau terbiasa menghitung anak ayam
yang belum menetas
(Spg 26/04/2004)


Sungguh lebih baik jika kita memberikan pinjaman
kepada mereka yang butuh pinjaman
Daripada memberikan hadiah
pada orang yang sebenarnya tak membutuhkan hadiah
(Spg 26/04/2004)


Orang yang baik bukanlah mereka
yang selalu melakukan perbuatan terpuji,
Orang baik adalah orang yang selalu berusaha
menjauhi perbuatan tercela
(Spg 26/04/2004)


Kadang aku menggelengkan kepala saat kulihat
seseorang mulai tidak waras

Tapi seringkali orang menggelengkan kepalanya
saat melihat ketidakwarasanku
(Spg 26/04/2004)


Lihat ke atas!
Maka akan kau lihat bintang-bintang gemerlapan
Tapi lihat pula ke bawah!
Maka akan kau temukan kerikil-kerikil berserakan
(Spg 14/05/2004)


Cinta murni tertinggi adalah
cinta Illahi dan cinta nabi'
Tapi adakah yang bisa mengalahkan
Cinta pada diri sendiri?
(Spg 14/05/2004)


Di seberang desa ada sebuah toko
yang berdiri puluhan tahun yang lalu
tapi tetap baru
Dan mungkin duapuluh atau seratus tahun lagi akan tetap baru

Kau tahu kenapa?
Karena nama toko tersebut memang ”Toko Baru”
(Spg 01/08/2004)


Jangan kita berpikir
Bagaimana agar dapat memukul
walau pantas memukul,
Tetapi marilah berpikir
Agar tak ada yang memukul kita
karena memang tak pantas dipukul
(Spg 01/08/2004)


Lezat tidaknya suatu masakan
Adalah tergantung dari
siapa yang akan memakan masakan itu
(Spg 01/08/2004)


Betapapun hebatnya seorang maling
Pasti ia akan kesal
jika kehilangan salah satu dari miliknya
(Spg 01/08/2004)
Diberdayakan oleh Blogger.

Trending now

Popular Posts