Latest blog posts

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Beberapa Jam Setelah Pesan yang Panjang itu

Pesanmu panjang bahkan terlalu panjang, datang tiba-tiba. Bukan karena isi, maksud atau siapa yang mengirim. Tapi aku menjadi heran, karena baru pertama aku menerima "sms" sepanjang itu. Telepon genggamku terseok-seok karena huruf-huruf kecil itu tak pernah habis. Kubaca sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali sehingga dapat mafhum kata demi kata. Atau sekedar meyakinkan bahwa "sms" itu tak salah orang.

Sebenarnya ingin aku membalas pesan panjangmu dengan beberapa kata saja, tak perlu berbelit. Cukup menekan beberapa huruf, selesai. Kupikir ini sepele. Tak perlu memeras otak apalagi menyita waktu berhargaku yang akhir-akhir ini sudah terbuang percuma. Tapi rupanya aku tertarik. Aku mulai sedikit memikirkan... "apa yang harus kutulis?"

Aku tidak suka menulis terlalu banyak. Bahkan buat mengisi blog atau kolom catatan saja aku tak pernah sempat. Tapi beberapa orang bisa melalui ini. Mereka terbiasa menulis dan membiarkannya tergeletak diatas meja atau bahkan dibuang begitu saja tanpa berharap akan sesuatu yang lebih "menghasilkan". Aku menyukai cara berpikirmu, simpel, cerdas tapi tidak serawut. Setidaknya menurutku.

Jujur, aku tidak pernah ingin terlibat dengan apapun, siapapun. Pertemuan dengan dia dan kau adalah sebuah kebetulan dan sebenar-benarnya kebetulan. Aku tak pernah tau sejauh mana aku mengenal kalian. Aku hanya bisa bersyukur bisa terlanjur berkumpul pada lingkaran kekonyolan kecil ini.

Dua tahun lalu,  di ibu kota. Saat semua mata tertuju pada kalian, di ruangan itu, hening. Setelah beberapa bait sajak terseret dan beberapa lagi hilang. Aku ingin katakan bahwa "kalian adalah pasangan duet yang serasi".
Sejak itulah aku mulai bersahabat dengan laki-laki aneh itu. Ada beberapa cerita kecil, kisah kecil dan beberapa lelucon kecil yang menghinggapi kami. Termasuk pada beberapa bait yang hilang itu.

Tetapi dia, si Broer itu... Ya, si Broer. Penyair kondang itu, yang terkenal angkuh di panggung dengan puisi-puisi cemerlangnya bahkan tak bisa jujur dengan dirinya sendiri. Ia juga suka membual sepertiku meski mungkin tak separah aku. Bisa kau bayangkan bagaimana jika kami berkumpul. Bahkan kerikil-kerikil di sekitar kami pun ikut beterbangan mendengar derai tawa yang tak kunjung hilang itu. Jika ada orang asing, kami akan disangka gila.

Sesekali aku memancing dan mengarahkan pembicaraan pada hal-hal berbau romantis. Tapi bukan karena dia tidak romantis, justru karena romantis, dia semakin menggila, kata-katanya membakar langit, beberapa bagian lagi ia hilangkan. Pernah kupaksakan untuk membongkar isi kepalanya, tapi kosong, sepertinya sudah ia simpan pada bagian lain.

Kau tahu, Jika sebentar lagi dia hendak menikah. Dan tahukah kau? Dari siapa aku mendengar kabar itu? Bahkan si Broer pun tak pernah bersedia membuka mulutnya atau mengetik beberapa pesan pendek dan mengabariku. Hanya ada kawan yang kebetulan berkawan denganku sudi memberitahuku soal itu.

Lalu, hanya karena sekelumit cerita itu kau mengirimiku pesan begitu panjang??? Atau ada beberapa orang lagi yang menjadi sasaran pesan panjangmu seperti "Vivi" atau yang lain atau bahkan si Broer juga?

Hmm... sepertinya aku mulai lelah. Buat apa kuteruskan. Sedang si Broer sudah menutup cerita setelah menemukan Utari-nya. Begitu pula kau yang lebih dulu menemukan tokoh Broer idamanmu. Sedang aku, hanya figuran yang berputar-putar, tenggelam dalam elegi hidupku sendiri. Dan sekali lagi menjadi korban SMS panjang.

Semoga cerita ini masih menemukan sekuel-nya.....

Surabaya, Okt 2010


Kamar Sebelah (Cerpen)

Rafi mulai menghitung hari dengan rasa jemu yang semakin pekat. Ia tinggal di kamar kost nomor tujuh, sebuah bilik sempit di gang sempit pula seukuran lemari baju keluarga kecil. Dinding-dindingnya kurus, mudah sekali mengantar suara dari kamar sebelah. Kipas angin tua berdengung sepanjang malam, dan udara pengap Surabaya bulan September membuat napas terasa seperti mendaki tangga tanpa akhir. Belum genap sepekan sejak kepindahannya ke rumah kost kecil di gang sempit daerah Kalimas, ia mulai merasakan jenuh yang menyesakkan.

Namun, bukan hanya pekerjaan yang mengusik ketenangannya. Dari kamar sebelah, tiap malam terdengar batuk panjang dan berat. Awalnya Rafi merasa terganggu. Dinding tipis kost itu seolah tak mampu meredam suara apapun. Tapi lama-kelamaan, batuk itu seperti panggilan yang asing: nyaring namun menyiratkan luka. Ada kesedihan yang samar di dalamnya. Bukan sekadar gangguan, melainkan tanda dari sesuatu yang lebih dalam.

Kamar itu dihuni seorang pria. Umurnya sekitar tiga puluh tujuh, mungkin lebih. Tubuhnya agak kurus, kulitnya cokelat kegelapan seperti baru terkena sinar matahari. Setiap pagi, ia keluar lebih dulu, berangkat dengan langkah tenang menuju pelabuhan, katanya bekerja sebagai kuli angkut. Ia jarang bicara, hanya tersenyum kecil setiap kali berpapasan. Anehnya, ia tak tampak seperti kuli. Baju-bajunya rapi, jam tangannya mahal, sejenis merek yang biasa dilihat lewat kaca etalase toko arloji.

Rasa ingin tahu akhirnya mendorong Rafi untuk bertanya pada penjual somay di depan gang. Dari lelaki tua itu, ia mendapat secuil kisah.

"Mas Jati itu sudah tiga tahun tinggal di situ," ujar penjual somay sambil meracik pesanan. "Orangnya baik, tenang. Tapi ya... hidupnya berat."

Rafi mengangguk pelan. Malam itu, batuk dari kamar sebelah terdengar lebih lama dari biasanya. Seakan ada beban yang tak habis-habis ditumpahkan lewat suara serak itu.

Beberapa hari kemudian, secara tak sengaja mereka berbicara. Hanya obrolan ringan di depan kamar, namun dari cara Mas Jati menatap, tampak ada kepercayaan yang hendak ia bagi. Beberapa hari setelahnya, ia bahkan mengajak Rafi makan.

"Anggap saja traktiran kecil. Habis gajian," katanya. Suaranya tenang, sedikit berat.

Di warung sederhana itu, cerita yang selama ini tertutup mulai terbuka.

Dulu, katanya, ia tinggal di rumah besar. Ayahnya seorang pengusaha hotel, ibunya perempuan yang lembut dan penuh kasih. Tapi dunia berubah ketika ibunya wafat, dan sang ayah menikah lagi dengan perempuan beranak satu. Tak lama berselang, sang ayah pun meninggal dunia. Dari sanalah semuanya mulai runtuh. Keluarga besar ayahnya menuduh ia bukan anak kandung, hanya anak angkat yang tak berhak atas apapun.

"Katanya aku hanya anak pungut," ujarnya perlahan. "Ibu dan Bapak mengangkatku karena mereka tak punya anak. Tapi setelah mereka tiada, siapa peduli? Aku disuruh pergi."

Ia pergi tanpa harta, hanya membawa beberapa koper berisi pakaian dan jam tangan yang kini masih dikenakannya, satu-satunya barang berharga yang tersisa dari kehidupan lamanya. Kuliah yang sempat dijanjikan pun sirna. Ia berpindah-pindah, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu kota ke kota berikutnya. Hingga akhirnya ia tiba di Surabaya.

Kadang, saudara tirinya datang membayarkan uang kost dan memberinya sedikit uang makan. Tapi selebihnya, hidup ia jalani sendirian. Batuk yang terdengar tiap malam itu adalah hasil dari tubuh yang tidak terbiasa kerja kasar, tapi tetap dipaksa oleh kebutuhan hidup.

Malam itu, di bawah lampu neon yang temaram, Rafi memandang kamar sebelah. Suara batuk kembali terdengar, pelan, serak, nyaris seperti bisikan.

Dan entah mengapa, dalam keremangan itu, Rafi merasa kecil. Ia yang mengeluh karena panas dan brosur yang ditolak orang-orang, ternyata masih lebih beruntung. Ada manusia lain di dinding sebelah, yang bertahun-tahun bertahan hanya dengan sisa-sisa kasih yang pernah ia kenal.

Kadang, derita bukan untuk diadu siapa lebih parah. Tapi untuk menyadari bahwa di dunia ini, luka punya banyak suara. Salah satunya, terdengar setiap malam... dari kamar sebelah.

Surabaya, Maret 2010

Tak Berkesudahan

Sedikitpun tiada pernah terbersit dalam benakku menjalani hidup yang dijalari pikiran macam ini. Tapi pantaskah kita mengeluh? sedang keluhan tidak akan menyelesaikan semuanya. Hidup selalu butuh keputusan, apapun itu. Aku sadar, jika keadaan menentukan seberapa banyak pilihan kita. Kemudian kita akan berdalih dengan berbagai cara bahwa... kita tak ada pilihan.
Hmmm, rupanya ketersediaan maaf pada diri sendiri pun terbatas. Kala kepasrahan telah memuncak, tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali memaki dan mengumpat pada diri yang penuh rasa bersalah.
"Tuhan, aku butuh petunjuk-Mu atas semua ini. Biarlah semua termakan waktu, tetapi percayalah jiwaku masih bertunduk pada-Mu."
Kemudian cahaya yang melintas hilang sudah, entah kapan ia akan datang lagi. Benar-benar pertobatan yang sia-sia. Seiring dengan berjaannya hari, aku terpaku meratap dan melamun dengan dalih-dalihku yang tak berkesudahan. Ternyata aku masih menginginkan dia.

Maud Khan
di Suatu malam... Lupa
Diberdayakan oleh Blogger.

Trending now

Popular Posts