Latest blog posts

Dilema antara Kera dan Manusia Pertama

oleh: Mahfud


Bagi pembelajar sejarah, terutama yang beragama Islam (dan lebih khusus lagi bagi para guru sejarah pemula) topik manusia purba kerap menjadi bahan yang membingungkan. Sering kali muncul pertanyaan dari siswa dengan wajah heran: “Bu, mana yang benar? Manusia purba atau Nabi Adam?” Pertanyaan ini, walau sederhana, bisa mengguncang keyakinan, apalagi jika sang pengajar belum memiliki landasan pengetahuan yang cukup tentang teori evolusi dan bagaimana menyikapinya dalam bingkai kepercayaan.

Salah kaprah yang paling sering muncul dalam masyarakat kita adalah anggapan bahwa teori evolusi mengatakan manusia berasal dari kera. haha!  Padahal, ini bukan pernyataan yang tepat. Charles Darwin, dalam bukunya The Origin of Species (1859), tidak pernah secara langsung menyatakan bahwa manusia adalah keturunan kera. Ia hanya menunjukkan bahwa secara biologis manusia dan kera memiliki leluhur yang sama sebagaimana makhluk hidup lain juga memiliki nilai kekerabatan  dari suatu makhluk purba yang hidup jutaan tahun lalu. Dari sana, bukan berarti manusia adalah 'anak cucu' kera yang ada sekarang, melainkan bahwa manusia dan kera saat ini adalah dua cabang berbeda dari cabang evolusi yang sama.

Lantas, apakah mempercayai evolusi berarti menafikan penciptaan oleh Tuhan? Tidak juga. Memahami evolusi tidak otomatis menghilangkan kepercayaan terhadap penciptaan. Justru, bisa dikatakan bahwa evolusi itu sendiri adalah bagian dari proses penciptaan yang berkelanjutan.

Evolusi bukan sesuatu yang “berhenti di masa lalu.” Ia adalah proses yang masih hidup dan berlangsung sekarang. Dan memahami itu, kita bisa lebih sadar bahwa menjadi manusia bukanlah titik akhir ciptaan, tapi bagian dari perjalanan panjang kehidupan yang terus bertumbuh dan berubah. Dalam bagian lain, spesies-spesies baru terus bermunculan sebagai bagian dari penciptaan Tuhan yang tiada akhir.

Memang, sulit mencampurkan pemahaman agama yang dogmatis dengan pendekatan sains yang empiris. Namun, keduanya sebetulnya bisa berjalan berdampingan, jika kita memahami bahwa agama memberi arah makna, sementara sains menjelaskan cara kerja. Agama memberi nilai, sains memberi metode. Keduanya tidak mesti saling meniadakan.

Sebagian tokoh Islam klasik dan modern bahkan telah berupaya menjembatani keduanya. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya, misalnya, menyebut tentang perubahan bertahap dalam makhluk hidup, meski belum sampai pada gagasan evolusi seperti Darwin. Bahkan sebelumnya, Nasiruddin at-Tusi juga mengemukakan bahwa makhluk hidup berkembang secara bertahap dari mineral, tumbuhan, hewan, sampai manusia.

Penulis percaya bahwa ketika kita memisahkan antara “kapan” dan “mengapa”, persoalan bisa lebih jernih. Misalnya, sains menjawab: manusia modern (Homo sapiens) muncul sekitar 200 ribu tahun lalu di Afrika. Itu berdasarkan bukti fosil, analisis DNA, dan rekaman geologis. Sementara agama bisa menjawab: mengapa manusia diciptakan untuk mengenal Tuhan, menjadi khalifah, dan sebagainya. Kedua jawaban ini tidak saling menabrak, asalkan tidak dipaksakan untuk menjawab pertanyaan yang bukan bidangnya.

Jadi, guru sejarah tidak perlu merasa bersalah atau ragu saat menjelaskan manusia purba. Katakan saja apa yang menjadi temuan ilmiah, dan pada saat yang sama tegaskan bahwa ini tidak meniadakan kepercayaan terhadap Nabi Adam sebagai sosok pertama yang menerima wahyu dan kesadaran penuh sebagai manusia utuh. Nabi Adam bukan hasil akhir dari evolusi biologis semata, melainkan puncak dari sebuah transformasi spiritual yang melampaui sekadar perubahan bentuk fisik.

Ilmu itu luas. Semakin kita membuka diri terhadap hamparan ilmu, semakin kita menyadari bahwa dunia tidak pernah sesempit keraguan kita. Menerima keberagaman cara pandang akan selalu memperkaya cakrawala berpikir. Dan barangkali, seperti rumah besar yang dibangun bertahap, pemahaman kita pun juga sedang dibentuk, disempurnakan oleh ilmu, oleh iman, dan oleh waktu.

Surabaya, 27-11-2009


4 komentar:

  1. wah.. judul blognya sama isinya jauh kali hahahaha

    BalasHapus
  2. siipppp./.follow blog ge juga donk,.,

    BalasHapus
  3. @Anonim: ahahah itu lah sebabnya kalau kita udah bingung mau nulis apa....

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Trending now

Popular Posts