“Kapan menikah?”
Kalimat itu seperti jam dinding yang tak pernah mati, berdetak di kepala tiap kali aku pulang ke rumah. Terkadang dari mulut tetangga yang bahkan tak hafal namaku, kadang dari paman jauh yang lebih sering mengirim broadcast dakwah daripada kabar pribadi. Tak jarang dari teman sendiri yang datang membawa pasangannya—bukan dalam niat menyombongkan, tapi tetap saja menyisakan perasaan: mengapa aku belum?
Sebenarnya, aku pun bertanya hal yang sama. Tapi dengan nada yang berbeda. Bukan “kapan menikah?” dengan tanda tanya. Melainkan “kapan menikah...” dengan titik tiga di ujungnya.
Sebab menikah, bagiku, bukan sekadar peristiwa. Ia bukan hanya soal menggenggam tangan seseorang di pelaminan dan makan-makan di depan kamera. Menikah, seperti yang kudengar dari para pembaca makna dan penjaga sunyi, adalah sebuah perjalanan panjang: menggenggam dunia yang tak selalu ramah bersama-sama.
Kahlil Gibran pernah menulis: “Biarlah ada ruang dalam kebersamaanmu, dan biarkan angin langit menari di antara kalian.” Mungkin itulah sebabnya aku merasa, cinta yang dewasa tidak lahir dari tekanan. Ia butuh ruang. Ia perlu waktu. Ia hanya akan tumbuh dari hati yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.
Tapi di luar sana, suara-suara itu tak henti bergaung. “Menikah itu ibadah.” “Menikah biar nggak sendirian terus.” “Menikah, biar ada yang ngurus kamu.”
Dan aku hanya tersenyum. Kadang angguk-angguk, meski hati tak sepenuhnya sejalan.
Karena mengapa lebih banyak orang bertanya “kapan menikah?” dibanding “apa kau butuh pekerjaan?”
Mengapa tak ada yang bertanya, “apa kau butuh uang?”
Padahal, menikah butuh lebih dari cinta. Ia butuh kerja. Butuh mental yang kuat dalam menghadapi realitas. Mungkin butuh konseling. Butuh saling memaafkan bahkan sebelum ada kesalahan. Menikah bukan soal cukup umur atau mapan secara ekonomi. Ia soal siap atau tidak berbagi ruang, berbagi luka, berbagi waktu, berbagi diam yang tidak selalu nyaman.
Saat ini, aku sedang merajut semua yang berserakan—potongan-potongan hidup yang tercecer di jalan panjang bernama pencarian. Bukan karena aku tak ingin menikah. Tapi karena aku ingin, ketika nanti seseorang itu datang, aku telah cukup mengenal diriku sendiri agar tak mencintainya dalam kebingungan.
Aku percaya, setiap cinta yang besar harus diberi ruang tumbuh dalam kesabaran. Sebab bukan pertemuan yang menciptakan keutuhan, tapi kesiapan untuk menampung luka-luka kecil yang akan datang setelahnya. Dan itu, bukan perkara siapa yang datang lebih dulu. Tapi siapa yang mau tinggal saat cahaya padam.
Aku tidak sedang menunda. Aku sedang mematangkan musim. Karena dalam hidup, ada hal-hal yang hanya indah bila datang tepat waktu—seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.
***
Kadang aku membayangkan, andai ada seorang perempuan yang datang, duduk bersamaku di bangku taman yang sepi. Ia tak perlu cantik seperti yang disarankan dunia. Ia hanya perlu mengerti, bahwa aku sedang menata ulang jalan hidup yang sudah lama tergerus hujan.
Aku tak ingin menjadi orang yang salah memulai, hanya karena merasa dikejar. Atau merasa sendirian. Atau demi membungkam pertanyaan yang terus menerus datang. Menikah bukan pintu keluar dari kesepian. Ia adalah pintu masuk menuju komitmen, kerja sama, dan kadang—konflik yang kita pilih sendiri.
Mungkin suatu hari, saat semua cukup tenang, dan hatiku telah berhenti mencari bentuk cinta yang ideal, aku akan menjawab pertanyaan itu dengan yakin. Bukan dengan senyum hambar, bukan dengan gumaman “belum tahu.” Tapi dengan langkah nyata.
Dan mungkin, pada hari itu, tak ada lagi yang perlu bertanya,
karena jawabannya akan hadir tanpa perlu diucapkan.
Maud
Probolinggo, 2013







kunjungan perdana, izin nyimak ya...salam kenal dari kami, blog jagadkawula. sukses selalu untuk anda :)
BalasHapus