Latest blog posts

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Sajak Maud Khan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak Maud Khan. Tampilkan semua postingan

Ketika Senyum Mengembang di Wajahmu

Kau mungkin tak kan pernah sadar jika setiap tatapan itu akan terpaku kaku
dan tentu dengan segala puji bersama lirih kata bisa terlontar dengan...
“aduhai... siapakah gerangan dirimu?”
tapi aku sama sekali tak mendengarnya

Kupikir mereka takut dengan...
kalau-kalau, jika senyum itu hanya buatku
dan kupikir, mereka begitu bersahabat, dengan kembang di senyuman mereka....
dan, tentu hati yang takjub akan kebersahajaanmu

Hanya,
Kau tak begitu ikhlas rupanya
dengan senyummu itu, kau buat aku makin takut
kalau-kalau......
Kau sudah tak ingin bersamaku rupanya


Sby, 2 September 2009

Puasa Ritual

Tuhan...adakah ibadah yang bukan ritual?
Atau adakah ritual yang bisa mendekatkanku kepada-Mu,

Atau...
Ah, aku hanya melihat orang-orang kelaparan dan kekenyangan,
orang-orang berpesta pora dan menangis

Atau...
mereka yang menunggu-nunggu adzan di maghrib,
yang sebelumnya tiada pernah mereka sediakan waktu buat mendengarnya,
apalagi menungguinya seperti itu...

dan orang-orang itu....
Adalah aku sendiri

Aku ingin puasa Ritual ya, Rab...

jika shalat itu ritual, Aku ingin puasa
jika zakat itu ritual, aku ingin puasa
jika haji itu ritual, aku akan puasa
jika puasa itu ritual, aku puasa

Puasa dari segala ritual....

betapa sulitnya!!

Puasa hati...
kita terlalu terlena


Surabaya, 29-08-09




Marah Pada Tuhan



Aku marah pada tuhan

Ia terlalu kaku

terlalu arogan...


Aku marah pada tuhan,

biar dia tahu bahwa aku juga bisa marah


Aku marah pada tuhan,

karena aku tak tahu apakah tuhan bisa marah...


Aku marah pada tuhan,

saku tak tahu, adakah manusia yang semarah aku?


Tak seperti mereka

yang selalu menggantungkan dirinya pada harapan,

tunduk, tunduk dan tunduk

berjejer rapi seperti remaja kesurupan...


Aku marah pada tuhan,

bukan karena membencinya

melainkan karena aku membenci diriku.....


Aku marah pada tuhan

Marah!!! Marah sekali!!! Dengan marah yang amat sangat


Aku marah pada-Mu

sebab aku tahu,

bahwa Kau tak kan pernah memarahiku,

tiada pernah...


Surabaya, 28-08-09

Sebab Sebuah Rumah di atas Neraka (Sajak)

hidup tak kan berakhir, kawan!

hidup tak kan berhenti seiring degupan jantung yang kian mengencang

sebab hidup ini begitu indah

begitu lengkap dengan perkakas-perkakasnya

di sini….

di rumah yang dibangun tuhan dengan cinta-Nya

rumah abadi

yang tak satupun mampu menghancurkan

sekalipun para dewa dan malaikat…

di rumah ini

aku bahagia

aku telah menacapai puncak tujuan dalam hidup dan matiku

di rumah ini…

tapi kau salah! (kata tuhan)

ternyata,

rumah itu tidak kekal, kawan!

rumah itu penuh bercak….

penuh kotoran dari sekian orang yang mengharapkan

penuh lumuran darah dari tangan-tangan mereka

tak sempurna

ya….

sekalipun rumah yang berada di atas neraka itu…

terlalu banyak orang menumpahkan darah

terlalu banyak orang terjebak egoisme

terlalu banyak orang tersesat

terlalu banyak orang menuding sesat

mereka rela berdesakan masuk

mereka rela antri

bahkan hingga ratusan tahun

hanya demi jatah kamar lusuh

sekalipun di bawah kolong meja emas

sekalipun dekat pintu selokan susu

sekalipun di pingggiran sungai yang semerbak

rumah diatas neraka itu, kawan!

telah banyak menimbulkan derita

tapi banyak menumbuhkan cinta

sebab rumah itu

rumah impian…

rumah masa depan

aku pun tau itu

lantas

bagaimana dengan neraka?

dan ternyata

tidak ada yang kekal dan abadi selain kasih-Nya


Surabaya, 23 April 2008

Maud Khan

Beri Kami Setetes Air (Sajak)

tuhan!

beri kami setetes air

dahaga yang tak kunjung hilang, membuat kami buta

lama kami terkungkung di tepi fajar ini menunggu surutnya hari

berlapis keringat dan kotoran bertumpuk di badan

kami tak sabar lagi menunggu ….

tuhan berikan kami setetes air saja

berapa tubuh tergeletak di setiap fajar, menunggu pagi di kamar kecil ini

berapa mayat terangkut di setiap penghujung pagi

berapa lagi yang akan kau ambil tuhan?

hanya setetes saja

setetes air yang bergelantungan bebas terguyur

kapan lagi dogma-dogma kesejukan menghiasi bumiku yang kering ini

saat pendeta-pendeta itu bergelayut di atas atap rongsokan tiap senja

sedang yang lain merengek minta kejatuhan sebutir keringat saja dari mereka

kami tak butuh keringat itu

kami lebih mendambakan setitik air saja…

berapa kali..

kuperingatkan agar tak berduyun-duyun datang ke tempat menjijikkan itu

berapa kali kuangkatkan tangan ini ke dagu-dagu mereka

ah,

kemilau sesaat memang menggiurkan

walau harus terkorbankan hanya dengan sebutir keringat yang kian lama kian melepah

dan kini mereka satu persatu meninggalkan sudut kota

dan pencarian pun terus berlanjut demi setitik keringat itu

tuhan

kapan kau turunkan setetes air?

setetes air saja

air kebebasan!!

29-06-2008



Maud Khan

Sajak Pertinggalan Diri 2




Tentang Sepotong Roti

sepotong roti tak berarti

sehingga ia tertinggal di atas sebuah piring kotor

sepotong roti tak berguna

ia mengambang di atas air keruh

sepotong roti tak bernilai

ia tercecer di jalanan

di pinggiran bertumpuk sampah

sepotong roti itu,

bahkan pengemis sekalipun enggan memungutnya

hanya menunggu dermawan yang hendak lalu

meski sepotong roti telah berbaik hati berbagi...

Surabaya, Juli 2007




Ijinkan Kami Mengamen

gema subuh serasa menghujam kami

retakan pagi memulai harinya demi hidup di uluran tangan orang

ku tahu tak banyak yang menyukai

malah membenci

sontak terdengar cercaan dari mulut yang tak kenal bijak

sejenak teringat, teriakan karena kami hanya anak jalanan

tetapi memang kadang tak beda

antara menghibur orang dengan mengemis tangan

walau receh….

sebab hanya itu yang kami anggap pekerjaan

kutahu tak banyak yang menerima

kadang mengusir walau dengan manisnya kata beku

derita!

sungguh derita

jauh dari sanak saudara

di luar, kehilangan segalanya

kepercayaan, kebahagiaan, masa depan atau mungkin juga tuhan?

tetapi…

kami masih punya

kehormatan, kebersamaan, kebebasan serta kepuasan

ah…

memang sulit memberi celah antara menghibur dengan meminta

tapi bagi kami tak jadi soal

karena celah sangat terlihat antara meminta dengan mencuri

walau tak semua orang melihatnya

Surabaya, 26 Juli 2008


Kehidupan

Idul Adha

Malam bertakbir

aku merokok

nyamuk-nyamuk bertakbir

aku merokok

semua binatang malam bertakbir

tapi aku tetap merokok

Seluruh alam bertakbir

dinding-dinding itu,

langit...

Hanya yang tidak kutahu

rokok di jari tanganku...

benarkah ia bertakbir di mulutku?

untuk idul adha yang mulia

Surabaya, 19 Desember 2007



Hidup dan Mati

Sebab Sebuah Rumah di atas Neraka

hidup tak kan berakhir!
hidup tak kan berhenti seiring degupan jantung yang kian mengencang
sebab hidup ini begitu indah
begitu lengkap dengan perkakas-perkakasnya

di sini….
di rumah yang dibangun tuhan dengan cinta-Nya
rumah abadi
yang tak satupun mampu menghancurkan
sekalipun para dewa dan malaikat…

di rumah ini
aku bahagia
aku telah mencapai puncak tujuan dalam hidup dan matiku
di rumah ini…

tapi kau salah! (kata tuhan)

ternyata,
rumah itu tidak kekal!
rumah itu penuh bercak….
penuh kotoran dari sekian orang yang mengharapkan
penuh lumuran darah dari tangan-tangan mereka
tak sempurna

ya….

sekalipun rumah yang berada di atas neraka itu…
terlalu banyak orang menumpahkan darah
terlalu banyak orang terjebak egoisme
terlalu banyak orang tersesat
terlalu banyak orang menuding sesat

mereka rela berdesakan masuk
mereka rela antri
bahkan hingga ratusan tahun
hanya demi jatah kamar lusuh
sekalipun di bawah kolong meja emas
sekalipun dekat pintu selokan susu
sekalipun di pingggiran sungai yang semerbak

rumah diatas neraka itu!
telah banyak menimbulkan derita
tapi banyak menumbuhkan cinta

sebab rumah itu
rumah impian…
rumah masa depan
aku pun tau itu
lantas?
bagaimana dengan neraka?

dan ternyata
tidak ada yang kekal dan abadi selain kasih-Nya


Surabaya, 23 April 2008




Sajak Pertinggalan Diri




Tak Ada Akhir

Mungkin sudah waktunya mengakhiri risau ini

Sebab musim pun telah berganti lama sejak dirimu tak kulihat lagi

Dan dengan derai tawamu yang masih menganga di depan mataku

Aku masih terdiam dalam bisu tak tentu, harus kumulai darimanakah?

Dengan hening yang kerap datang mendera

Saat terhempas di pesimpangan penuh derita

Dan jiwa,

Memang tak lagi mampu bertahan dengan dirimu yang selalu hadir

Dan betul,

Dirimu takkan pernah hilang bersama risauku itu...

Surabaya, 4 Juni 2009

(pukul 01.18 WIB)

Puisi Buat Dia

UNTUKMU YANG JAUH DI SANA

saat kutatapkan penglihatan ini

bintang-bintang berkilauan

gemerlapnya,

menghiasi malam yang dilanda kesepian

malam ini…

tentu!

sebab hari-hariku telah penuh dengan keindahan

indah yang tak dapat kulukiskan

saat bunga-bunga bermekaran

jalan kampungku yang sepi

telah kau buat ramai dalam penglihatanku

bulan belum bersinar

namun cahayanya telah mampu kurasakan

mataku pun seolah melihatnya

dan tentu hanyalah untukmu

mataku terbuka sekarang

ku sadar…

hatiku luluh

sebab dirimu hadir untukku

bukan untuk orang lain

kuingat kala itu

terlihat matamu yang bersinar

memberikan pengharapan

untukku…

semenjak itu aku selalu berharap

kau menjadi akhir hidupku

menjadi teman di setiap hariku

dengan kasih suci

denganku…

kau pasti ingat

kala aku mengucapkan kata itu

untukmu

malam itu…

dan hanya untukmu

bukan yang lain,

dan tiada pernah diriku setulus itu

sebelumnya…

sungguh tiada lagi

yang nampak diatas kelopak mata ini

selain tatapan matamu

dan tentu…

senyum mungilmu

masih kuingat semua

kau adalah cahaya

yang selalu menyinari kesendirianku

selalu bersamaku

bayanganmu…

bersinar laksana kau

kau lihat…

berapa kali musim berganti

tidak bagiku

semuanya masih seperti dulu

kala itu…

semua belum lekang

masih utuh

tinggal kau

bagaimana dengan kau

ahh..!

kau hanya…

atau mungkin aku yang salah

aku memang serba salah

tapi mengapa hanya kau

kau…

bahagiakan aku

senangkan aku

sakiti aku

kau buatku buta

tapi kau buatku lebih melihat

aneh…

coba dengar ratapan ini

lihatlah mata ini

rasakan olehmu

bayanganmu yang hadir di sana

inilah aku

kau akan mampu menilainya

inilah diriku yang selama ini kau tahu

lihatlah…

sebab di balik diri yang lemah

kau kan temukan hati yang suci

di sana

di balik diri yang angkuh

kau akan dapatkan kasih dan keikhlasan

tentu di sana

ahhh…

kau hanya mengada-ada

ya…

jika kau menganggapku demikian

dan aku memang menyukai lelucon…

tapi tidak!

dan kuyakin kau juga tahu tentang itu

tentang tulus hati

dan hancurnya diri

kini aku tak mengerti

tentang semuanya

karena telah hilang sadar ini

sebab cinta…

dan aku lebih berharap

kau akan selalu hadir di sini

temani hariku

dengan cinta…

setidaknya harapan…

taukah kau

jika sekarang tiada pernah lagi kulihat

bintang-bintang itu…

sebab bagiku sudah hilang gemerlapnya

dan lihatlah

jalan di kampungku telah kembali sepi

bunga-bunga itu tiada lagi mekar

tanpa bayanganmu di mata ini

sebab penglihatan ini tiada lagi mampu

menghadirkan kau…

mungkin aku yang tak sanggup

atau kau yang tiada mengijinkan

lihat dan tolonglah…

tuk menghadirkanmu lagi

sekadar demi bintang-bintang

sekadar demi jalan kampung

sekadar demi bunga-bunga

biarlah walau sekedap

walau menyakitkan

dan harus kehilangan

(13/03/07)


Sajak-Sajak Maud Khan

Sebuah Kabar di Pengasingan

daun-daun itu berguguran

tepat di taman yang dipenuhi semak belukar bersama angin yang hadir dari barat,

membangunkan semangat yang telah lama mati

angin itu…

telah membawa bermacam kabar selama pengasinganku

kabar yang membuat aku tersenyum dalam marah, tertawa dalam tangis.

terbayangkan wajah-wajah mereka yang kucengkeram dengan tangan kiriku

ingin ku katakan pada mereka

tak malukah kau yang selalu merasa terbang di atas?

menghinakan yang terasing…

seperti daun-daun yang berguguran itu

kita pun akan kembali…

Surabaya, 6 Mei 2008





Pesan dari Kegelapan I

bila tiba masanya kelak

tatkala tubuh ini ingin segera terlepas dari jiwa

maka jangan ada yang mengenangku selain dari apa yang aku tulis

sebab mulut tak dapat dipercaya

dan ucapan mampu berubah arah dengan mudahnya laksana angin

dan tahukah bahwa mata dan telinga adalah sesuatu yang paling menipu bagimu?

mata dan telingamu itu, belum mampu menebak hatiku…

dan karena itu, mulut-mulut kalian akan terbiasa untuk mengoceh,

mengoceh dengan enaknya

***

dan jika kau ingin tahu akan kabar tentangku

maka carilah aku ditempat tersunyi di muka bumi

di suatu malam yang sepi

datanglah padaku kawan…

tapi jangan kau ganggu, sebab aku sedang bercakap-cakap dengan tuhan

jika tak bisa,

maka tanyakanlah pada pohon-pohon yang masih rindang itu

jika tetap tak bisa,

maka sadarilah dirimu, kawan…

***

atau jika kau terlambat datang..

sebab telah lebih dulu ajal menjemputku, maka datangilah pusaraku

bayangkanlah apa yang dilakukan oleh tuhan terhadapku

tapi jangan kau rusak kuburku….

6 Mei 2008

Pesan dari Kegelapan II

Dan ingatlah, kawan

Di setiap kematian seorang manusia di luar kewajaran yang kau lihat

Sedikitpun kau tak kan tahu apa yang diperbuat tuhan terhadapnya

Sekali lagi,

Mata dan telinga adalah pembual terbesar

6 Mei 2008





Puisi Diri

Aku

Kau ingin tau siapa aku?

Aku adalah seorang yang akrab bersama malam

Dengan sebatang rokok yang menempel di bibir keringku

Rambut sebahu,

Berteman dengan binatang-binatang yang menari dalam kegelapan

Sedang angin terus berdesir menusuk badan

Aku adalah pemuda yang akrab dengan malam

Karena mampu melihat malaikat-malaikat yang bergelantungan di atas sana

Yang memberiku kesejukan dalam kegundahan

Dengan wajahku yang memucat seiring waktu…

Surabaya, 4 Mei 2008



Aku dan Seorang Chairil

di bawah pohon ini aku melihat

betapa kuncup-kuncup bunga itu kan berjatuhan

hingga hilanglah kuasa raga tuk mencegahnya

rumput-rumput itu pun berayun karena hembusan angin

membuat mereka tumbuh dengan bebasnya

walau harus mati menanggung kutuk dan sumpah serapah dari alam sekitarnya

seperti Chairil,

aku ingin menggapai semangat yang tak pernah mati

di setiap luka yang menggores...

di setiap minuman yang kuteguk...

di setiap waktu yang terbuang...

ku hanya ingin menggapainya

kehidupan abadi

dan itulah hidup,

di setiap tamparan yang kau terima

di setiap cercaan yang kau dapat

pengasingan yang kau jalani

kan kuikuti walau dalam gelap

walau dengan sebuah lilin yang diterpa angin malam

tapi dalam hatiku..

jejakmu tetap terlihat

tak kabur sedikitpun

dan di usiamu yang semakin menua

Surabaya, 3 Juni 2008

Diberdayakan oleh Blogger.

Trending now

Popular Posts