Kau mungkin tak kan pernah sadar jika setiap tatapan itu akan terpaku kaku dan tentu dengan segala puji bersama lirih kata bisa terlontar dengan... “aduhai... siapakah gerangan dirimu?” tapi aku sama sekali tak mendengarnya
Kupikir mereka takut dengan... kalau-kalau, jika senyum itu hanya buatku dan kupikir, mereka begitu bersahabat, dengan kembang di senyuman mereka.... dan, tentu hati yang takjub akan kebersahajaanmu
Hanya, Kau tak begitu ikhlas rupanya dengan senyummu itu, kau buat aku makin takut kalau-kalau...... Kau sudah tak ingin bersamaku rupanya
Tuhan...adakah ibadah yang bukan ritual? Atau adakah ritual yang bisa mendekatkanku kepada-Mu,
Atau... Ah, aku hanya melihat orang-orang kelaparan dan kekenyangan, orang-orang berpesta pora dan menangis
Atau... mereka yang menunggu-nunggu adzan di maghrib, yang sebelumnya tiada pernah mereka sediakan waktu buat mendengarnya, apalagi menungguinya seperti itu...
dan orang-orang itu.... Adalah aku sendiri
Aku ingin puasa Ritual ya, Rab...
jika shalat itu ritual, Aku ingin puasa jika zakat itu ritual, aku ingin puasa jika haji itu ritual, aku akan puasa jika puasa itu ritual, aku puasa
Sebab Sebuah Rumah di atas Neraka hidup tak kan berakhir! hidup tak kan berhenti seiring degupan jantung yang kian mengencang sebab hidup ini begitu indah begitu lengkap dengan perkakas-perkakasnya
di sini…. di rumah yang dibangun tuhan dengan cinta-Nya rumah abadi yang tak satupun mampu menghancurkan sekalipun para dewa dan malaikat…
di rumah ini aku bahagia aku telah mencapai puncak tujuan dalam hidup dan matiku di rumah ini…
tapi kau salah! (kata tuhan)
ternyata, rumah itu tidak kekal! rumah itu penuh bercak…. penuh kotoran dari sekian orang yang mengharapkan penuh lumuran darah dari tangan-tangan mereka tak sempurna
ya….
sekalipun rumah yang berada di atas neraka itu… terlalu banyak orang menumpahkan darah terlalu banyak orang terjebak egoisme terlalu banyak orang tersesat terlalu banyak orang menuding sesat
mereka rela berdesakan masuk mereka rela antri bahkan hingga ratusan tahun hanya demi jatah kamar lusuh sekalipun di bawah kolong meja emas sekalipun dekat pintu selokan susu sekalipun di pingggiran sungai yang semerbak
rumah diatas neraka itu! telah banyak menimbulkan derita tapi banyak menumbuhkan cinta
sebab rumah itu rumah impian… rumah masa depan aku pun tau itu lantas? bagaimana dengan neraka?
dan ternyata tidak ada yang kekal dan abadi selain kasih-Nya
Hidup bukanlah suatu tanggung jawab besar untuk menjalaninya.
tak perlu kita terbeban, tak perlu mengeluh, sebab hanya mereka yang mengeluh saja yang tak kan menang menanggung nasibnya kelak.
lantas apakah kita akan berdiam saja?
Aku hanya banyak bicara tentang hidup, tapi tidak dengan prakteknya.
sebab kita hanyalah belajar...belajar buat hidup.
belajar buat mati.