Ia kuliah di fakultas hukum. Itu bukan pilihannya, tetapi kehendak ayahnya. Ayah yang, sejak Halim kecil, lebih sering diam ketimbang bicara. Sehari-hari ia bekerja di sawah, membawa cangkul, menanam padi, menggiring bebek. Bila ia pulang, tak ada cerita. Hanya rokok yang dibakar perlahan, lalu habis dalam senyap.
Mereka tinggal di sebuah dusun kecil yang seperti tak pernah berubah sejak masa penjajahan. Pohon randu masih berdiri di halaman, kandang ayam tak pernah kosong dari bau kotoran, dan radio tua di sudut rumah hanya sebagai pajangan, rusak, tapi sudah puluhan tahun tetap di situ, seperti ada berita yang masih ditunggu. Di dinding tergantung foto hitam putih: seorang lelaki kurus berpeci, berdiri kaku di samping sepeda onthel. Itulah kakeknya. Lelaki yang lenyap satu malam, dijemput sekelompok tentara dan orang-orang kampung yang sedang marah, tanpa surat, tanpa kata perpisahan, tanpa nisan.
Halim tahu kisah itu sejak menginjak remaja. Dari bibir tetua kampung yang berbicara pelan dan berputar-putar, seolah takut udara bisa jadi saksi. Katanya, kakeknya dulu “orang partai.” Entah partai apa. Zaman itu, orang bisa diseret hanya karena ikut rapat RT atau menyimpan koran salah terbitan. Yang jelas, suatu malam kira-kira di bulan Desember, truk tentara datang, kakeknya keluar rumah, lalu dibawa. Sejak itu, tak ada jejak. Hilang. Menguap.
Ayahnya, yang saat itu baru delapan tahun, menyaksikan sendiri peristiwa itu. Tapi ia tidak pernah bercerita banyak. Ia menanamnya dalam dada, seperti menanam benih yang tak diinginkan, tapi terus tumbuh. Keheningan ayah, lama-lama, menjadi warisan yang juga tumbuh pada Halim. Diam itu menular, seperti penyakit yang tak diobati, lalu menjalar pelan-pelan ke generasi berikutnya.
Namun suatu hari, ketika Halim lulus SMA, ayahnya berkata lirih, “Kuliah, Lim. Kau harus kuliah.”
Itu saja. Tanpa penjelasan. Tapi Halim tahu, dalam kalimat pendek itu ada harapan yang terlalu lama dikubur. Mungkin itulah bentuk perlawanan ayahnya terhadap waktu yang mencuri bapaknya. Mungkin ia ingin Halim jadi orang, sebagaimana bapaknya tak sempat jadi siapa-siapa.
Dan Halim pun kuliah. Ia belajar hukum. Ia tahu, hukum tak bisa membawanya menemukan kubur kakeknya, tapi mungkin bisa membuatnya mengerti kenapa negeri ini bisa sekejam itu terhadap rakyatnya sendiri. Ia membaca undang-undang, pasal-pasal, dan sejarah yang dibungkus seperti dongeng hitam-putih. Tapi tiap kali sampai ke tahun 1965, hatinya tercekat.
Setiap tanggal satu Oktober, ketakutan yang tak berwujud menyelinap lagi ke tubuhnya. Ia tidak hidup di zaman ketika film propaganda ditonton wajib di lorong-lorong gelap, ketika kata “komunis” lebih mematikan dari peluru. Tapi bayangannya tetap terasa. Seperti tangan tua yang menggenggam pergelangan kaki, menahan langkah, walau tak kelihatan.
Pernah, dalam diskusi kelas, temannya berkata enteng, “Ah, soal PKI itu sudah selesai. Itu cerita lama.”
Halim hanya diam. Tapi dalam dadanya ada sesuatu yang meletup.
“Tidak,” katanya dalam hati. “Belum selesai. Karena kami masih hidup dengan yang hilang itu. Dengan nisan yang tak ada. Dengan cerita yang tak lengkap.”
Kadang Halim membayangkan, kakeknya masih hidup entah di mana, mungkin di balik semak yang tak dikenal, berjalan tertatih menembus pagi yang dingin, menggigil di balik baju kumal sambil menahan perut yang kosong. Ia membayangkan tubuh renta itu dipaksa bekerja, menggali tanah, memanggul batu, atau sekadar menyapu halaman yang bukan miliknya. Apakah kakeknya pernah tertawa? atau paling tidak tersenyum?
Lalu dalam kekalutan itu ia seperti melihat kakeknya keluar dari semak. Pelan, sambil menyeret-nyeret kakinya, matanya sembunyi-sembunyi melihat sekeliling. Ia menyelinap melewati kawat berduri, bajunya tersangkut, darah menetes, dan tiba-tiba: DORR!
Mungkin itu yang terbaik. Kakeknya sudah lama mati. Selesai!
Tapi luka sejarah tak pernah benar-benar sembuh. Ia seperti tulang patah yang dibetulkan seadanya. Bisa jalan, tapi sakitnya tetap ada, apalagi saat hujan turun.
Sekarang, di sudut ruang tamu kecil, Halim menatap foto kakeknya. Wajah itu tenang. Seperti tahu bahwa suatu hari nanti, cucunya akan menanyakan ke mana ia dibawa. Dan tak ada siapa-siapa yang bisa memberi jawaban. Sebab negeri ini bukan tempat untuk menjawab. Ia hanya pandai menghapus dan menghadirkan lagi sejarah dengan bekas merah yang tak pernah selesai
Maud Khan 2019







0 Comments:
Posting Komentar