Tampilkan postingan dengan label Cerpen Maud Khan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Maud Khan. Tampilkan semua postingan
Bekas Merah (Cerpen)
Pemuda itu, namanya Halim. Wajahnya biasa saja, tapi matanya sering menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Bila kau cukup lama duduk bersamanya, dalam diam yang cukup panjang, siapapa pun akan mulai merasakan hawa yang aneh: seperti kabut yang tak tebal, tapi dingin, menyelinap pelan-pelan ke pori-porimu. Bukan karena ia pendiam, bukan pula karena ia banyak berpikir. Tapi karena ada yang menggantung dalam dirinya, seperti kerikil yang tertinggal di dasar cangkir kecil, tapi cukup mengganggu tiap teguk hidupnya.
Ia kuliah di fakultas hukum. Itu bukan pilihannya, tetapi kehendak ayahnya. Ayah yang, sejak Halim kecil, lebih sering diam ketimbang bicara. Sehari-hari ia bekerja di sawah, membawa cangkul, menanam padi, menggiring bebek. Bila ia pulang, tak ada cerita. Hanya rokok yang dibakar perlahan, lalu habis dalam senyap.
Mereka tinggal di sebuah dusun kecil yang seperti tak pernah berubah sejak masa penjajahan. Pohon randu masih berdiri di halaman, kandang ayam tak pernah kosong dari bau kotoran, dan radio tua di sudut rumah hanya sebagai pajangan, rusak, tapi sudah puluhan tahun tetap di situ, seperti ada berita yang masih ditunggu. Di dinding tergantung foto hitam putih: seorang lelaki kurus berpeci, berdiri kaku di samping sepeda onthel. Itulah kakeknya. Lelaki yang lenyap satu malam, dijemput sekelompok tentara dan orang-orang kampung yang sedang marah, tanpa surat, tanpa kata perpisahan, tanpa nisan.
Halim tahu kisah itu sejak menginjak remaja. Dari bibir tetua kampung yang berbicara pelan dan berputar-putar, seolah takut udara bisa jadi saksi. Katanya, kakeknya dulu “orang partai.” Entah partai apa. Zaman itu, orang bisa diseret hanya karena ikut rapat RT atau menyimpan koran salah terbitan. Yang jelas, suatu malam kira-kira di bulan Desember, truk tentara datang, kakeknya keluar rumah, lalu dibawa. Sejak itu, tak ada jejak. Hilang. Menguap.
Ayahnya, yang saat itu baru delapan tahun, menyaksikan sendiri peristiwa itu. Tapi ia tidak pernah bercerita banyak. Ia menanamnya dalam dada, seperti menanam benih yang tak diinginkan, tapi terus tumbuh. Keheningan ayah, lama-lama, menjadi warisan yang juga tumbuh pada Halim. Diam itu menular, seperti penyakit yang tak diobati, lalu menjalar pelan-pelan ke generasi berikutnya.
Namun suatu hari, ketika Halim lulus SMA, ayahnya berkata lirih, “Kuliah, Lim. Kau harus kuliah.”
Itu saja. Tanpa penjelasan. Tapi Halim tahu, dalam kalimat pendek itu ada harapan yang terlalu lama dikubur. Mungkin itulah bentuk perlawanan ayahnya terhadap waktu yang mencuri bapaknya. Mungkin ia ingin Halim jadi orang, sebagaimana bapaknya tak sempat jadi siapa-siapa.
Dan Halim pun kuliah. Ia belajar hukum. Ia tahu, hukum tak bisa membawanya menemukan kubur kakeknya, tapi mungkin bisa membuatnya mengerti kenapa negeri ini bisa sekejam itu terhadap rakyatnya sendiri. Ia membaca undang-undang, pasal-pasal, dan sejarah yang dibungkus seperti dongeng hitam-putih. Tapi tiap kali sampai ke tahun 1965, hatinya tercekat.
Setiap tanggal satu Oktober, ketakutan yang tak berwujud menyelinap lagi ke tubuhnya. Ia tidak hidup di zaman ketika film propaganda ditonton wajib di lorong-lorong gelap, ketika kata “komunis” lebih mematikan dari peluru. Tapi bayangannya tetap terasa. Seperti tangan tua yang menggenggam pergelangan kaki, menahan langkah, walau tak kelihatan.
Pernah, dalam diskusi kelas, temannya berkata enteng, “Ah, soal PKI itu sudah selesai. Itu cerita lama.”
Halim hanya diam. Tapi dalam dadanya ada sesuatu yang meletup.
“Tidak,” katanya dalam hati. “Belum selesai. Karena kami masih hidup dengan yang hilang itu. Dengan nisan yang tak ada. Dengan cerita yang tak lengkap.”
Kadang Halim membayangkan, kakeknya masih hidup entah di mana, mungkin di balik semak yang tak dikenal, berjalan tertatih menembus pagi yang dingin, menggigil di balik baju kumal sambil menahan perut yang kosong. Ia membayangkan tubuh renta itu dipaksa bekerja, menggali tanah, memanggul batu, atau sekadar menyapu halaman yang bukan miliknya. Apakah kakeknya pernah tertawa? atau paling tidak tersenyum?
Lalu dalam kekalutan itu ia seperti melihat kakeknya keluar dari semak. Pelan, sambil menyeret-nyeret kakinya, matanya sembunyi-sembunyi melihat sekeliling. Ia menyelinap melewati kawat berduri, bajunya tersangkut, darah menetes, dan tiba-tiba: DORR!
Mungkin itu yang terbaik. Kakeknya sudah lama mati. Selesai!
Tapi luka sejarah tak pernah benar-benar sembuh. Ia seperti tulang patah yang dibetulkan seadanya. Bisa jalan, tapi sakitnya tetap ada, apalagi saat hujan turun.
Sekarang, di sudut ruang tamu kecil, Halim menatap foto kakeknya. Wajah itu tenang. Seperti tahu bahwa suatu hari nanti, cucunya akan menanyakan ke mana ia dibawa. Dan tak ada siapa-siapa yang bisa memberi jawaban. Sebab negeri ini bukan tempat untuk menjawab. Ia hanya pandai menghapus dan menghadirkan lagi sejarah dengan bekas merah yang tak pernah selesai
Maud Khan 2019
Kamar Sebelah (Cerpen)
Rafi mulai menghitung hari dengan rasa jemu yang semakin pekat. Ia tinggal di kamar kost nomor tujuh, sebuah bilik sempit di gang sempit pula seukuran lemari baju keluarga kecil. Dinding-dindingnya kurus, mudah sekali mengantar suara dari kamar sebelah. Kipas angin tua berdengung sepanjang malam, dan udara pengap Surabaya bulan September membuat napas terasa seperti mendaki tangga tanpa akhir. Belum genap sepekan sejak kepindahannya ke rumah kost kecil di gang sempit daerah Kalimas, ia mulai merasakan jenuh yang menyesakkan.
Namun, bukan hanya pekerjaan yang mengusik ketenangannya. Dari kamar sebelah, tiap malam terdengar batuk panjang dan berat. Awalnya Rafi merasa terganggu. Dinding tipis kost itu seolah tak mampu meredam suara apapun. Tapi lama-kelamaan, batuk itu seperti panggilan yang asing: nyaring namun menyiratkan luka. Ada kesedihan yang samar di dalamnya. Bukan sekadar gangguan, melainkan tanda dari sesuatu yang lebih dalam.
Kamar itu dihuni seorang pria. Umurnya sekitar tiga puluh tujuh, mungkin lebih. Tubuhnya agak kurus, kulitnya cokelat kegelapan seperti baru terkena sinar matahari. Setiap pagi, ia keluar lebih dulu, berangkat dengan langkah tenang menuju pelabuhan, katanya bekerja sebagai kuli angkut. Ia jarang bicara, hanya tersenyum kecil setiap kali berpapasan. Anehnya, ia tak tampak seperti kuli. Baju-bajunya rapi, jam tangannya mahal, sejenis merek yang biasa dilihat lewat kaca etalase toko arloji.
Rasa ingin tahu akhirnya mendorong Rafi untuk bertanya pada penjual somay di depan gang. Dari lelaki tua itu, ia mendapat secuil kisah.
"Mas Jati itu sudah tiga tahun tinggal di situ," ujar penjual somay sambil meracik pesanan. "Orangnya baik, tenang. Tapi ya... hidupnya berat."
Rafi mengangguk pelan. Malam itu, batuk dari kamar sebelah terdengar lebih lama dari biasanya. Seakan ada beban yang tak habis-habis ditumpahkan lewat suara serak itu.
Beberapa hari kemudian, secara tak sengaja mereka berbicara. Hanya obrolan ringan di depan kamar, namun dari cara Mas Jati menatap, tampak ada kepercayaan yang hendak ia bagi. Beberapa hari setelahnya, ia bahkan mengajak Rafi makan.
"Anggap saja traktiran kecil. Habis gajian," katanya. Suaranya tenang, sedikit berat.
Di warung sederhana itu, cerita yang selama ini tertutup mulai terbuka.
Dulu, katanya, ia tinggal di rumah besar. Ayahnya seorang pengusaha hotel, ibunya perempuan yang lembut dan penuh kasih. Tapi dunia berubah ketika ibunya wafat, dan sang ayah menikah lagi dengan perempuan beranak satu. Tak lama berselang, sang ayah pun meninggal dunia. Dari sanalah semuanya mulai runtuh. Keluarga besar ayahnya menuduh ia bukan anak kandung, hanya anak angkat yang tak berhak atas apapun.
"Katanya aku hanya anak pungut," ujarnya perlahan. "Ibu dan Bapak mengangkatku karena mereka tak punya anak. Tapi setelah mereka tiada, siapa peduli? Aku disuruh pergi."
Ia pergi tanpa harta, hanya membawa beberapa koper berisi pakaian dan jam tangan yang kini masih dikenakannya, satu-satunya barang berharga yang tersisa dari kehidupan lamanya. Kuliah yang sempat dijanjikan pun sirna. Ia berpindah-pindah, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu kota ke kota berikutnya. Hingga akhirnya ia tiba di Surabaya.
Kadang, saudara tirinya datang membayarkan uang kost dan memberinya sedikit uang makan. Tapi selebihnya, hidup ia jalani sendirian. Batuk yang terdengar tiap malam itu adalah hasil dari tubuh yang tidak terbiasa kerja kasar, tapi tetap dipaksa oleh kebutuhan hidup.
Malam itu, di bawah lampu neon yang temaram, Rafi memandang kamar sebelah. Suara batuk kembali terdengar, pelan, serak, nyaris seperti bisikan.
Dan entah mengapa, dalam keremangan itu, Rafi merasa kecil. Ia yang mengeluh karena panas dan brosur yang ditolak orang-orang, ternyata masih lebih beruntung. Ada manusia lain di dinding sebelah, yang bertahun-tahun bertahan hanya dengan sisa-sisa kasih yang pernah ia kenal.
Kadang, derita bukan untuk diadu siapa lebih parah. Tapi untuk menyadari bahwa di dunia ini, luka punya banyak suara. Salah satunya, terdengar setiap malam... dari kamar sebelah.
Surabaya, Maret 2010
Kenangan Dari Sebuah Bunga Mawar
Risih memang…! Ketika sebuah mawar liar harus tumbuh di samping pekarangan rumah. Tapi tak apa, toh aku masih bisa bernapas lega. Sebab bagiku tak terlalu merusak pemandangan. Kupikir, biarlah mawar itu tumbuh dengan indahnya. Nanti bila tiba saatnya ia telah berbunga kuputuskan untuk kupindah pada taman yang berada tepat di depan rumah.Aku memang menyukai bunga, atau mungkin semacam tanaman-tanaman hias. Apapun! Namun satu hal yang sangat aku sukai dari sekuntum bunga. Yaitu bentuknya. Bagiku bunga akan dikatakan indah ketika ia merekah, dari sebuah kuncup yang kecil menjadi merona dan memesona tatkala mekar. Ah! Aku hanya menyukai bunga yang telah mekar, bukan kuncup. Dan semoga saja pikiranku ini tidaklah salah, sebab kebanyakan orang memang menyukai bunga-bunga yang mekar. Sama halnya ketika aku menyukai sekuntum bunga di pekarangan orang. Sekuntum bunga yang berharga mahal, yang tak boleh tersentuh oleh tangan-tangan jahil siapapun. Termasuk aku. Yang secara tak sengaja selalu melihatnya di setiap penghujung pagi. Dan entah sudah berapa kali pemilik rumah itu memperhatikan tingkahku. Yang jelas, setiap pagi aku selalu menyempatkan diri walau sekedar melihatnya. Dan aku sedikit menyesal, mengapa aku harus suka pada bunga milik orang?
Sebenarnya aku memiliki banyak koleksi bunga. Di taman yang kubuat tiga tahun lalu semenjak lulus SMA, bunga-bunga itu selalu tertata rapi. Biasanya tatkala bunga-bunga itu mulai bermekaran aku akan memilih beberapa bunga yang paling indah untuk kubelikan pot. Adakalanya kugantung di depan jendela kamar atau kutaruh di teras dekat pintu masuk rumah. Tak hanya aku, bahkan sebagian besar bunga-bunga itu adalah ibuku yang menanamnya. Ibuku pun sangat menyayanginya. Konon, bunga-bunga itu bibitnya ibu beli dari seorang famili yang ada di luar kota.
“Buatku?”
“Tentu saja.”
Satu hal lagi, aku suka sekali bertualang ke gunung-gunung, sungai-sungai, sawah-sawah atau bahkan ke rawa-rawa yang letaknya jauh di luar sana hanya untuk urusan yang satu ini. Hampir seminggu sekali kuagendakan untuk keluar kota bersama teman-teman yang hingga kini aktif di organisasi pecinta alam. Apalagi jika terdengar kabar tentang akan diadakannya pameran bunga atau tanaman-tanaman hias, maka sepadat apapun kegiatanku hari itu harus urung kukerjakan. Dalam hal ini, teman-teman sering menjuluki aku sebagai ‘pecinta bunga sejati’, sebagai orang yang menghabiskan seluruh waktunya untuk bunga, bunga, dan bunga.
“Bukan julukan yang jelek…” pikirku.
Tapi entah mengapa? menurutku bunga paling indah hanya milik seorang yang tinggal di pinggiran kota yang tak jauh dari kampus. Tempat aku lewat setiap pagi, tempat yang di setiap waktu aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar menjenguknya. Tak jarang kudapati seorang tukang kebun tengah menyiramnya. Pernah suatu ketika tukang kebun itu kuhampiri. Kukatakan kalau aku menyukai bunga yang ada dekat kolam ikan itu.
“Waduuuh! Jangan, Den!” katanya pelan-pelan. “Bunga ini kesukaan Den Bagus, putra yang punya rumah.”
“Berapapun saya beli, Pak!” kataku meyakinkan.
“Bukan masalah itu, Den. Tapi memang saya selalu dapat pesan agar merawat dan menjaga bunga ini baik-baik. Pernah bunga ini ditawar mahal sama seorang pengusaha dari Jakarta. Tapi tetap saja tidak boleh.”
“Ooo, ya sudah, Pak! Terima kasih.” ucapku sambil menyalakan motor. Aku pun bergegas meninggalkan rumah mewah itu menuju tempat kuliah.
Sebenarnya satu yang paling membuat aku khawatir. Mungkin si pemilik rumah sudah mengira jika aku menyukai bunga di pekarangan miliknya. Dan mungkin karena seringnya aku nongkrong di tempat itu lama kelamaan timbul pula kekhawatiran dari yang punya rumah. Keesokan harinya sebuah papan kecil terpampang dengan tulisan huruf balok tebal yang dari jarak sepuluh meter pun aku sudah mampu membaca isinya,“not for sale” (tidak untuk dijual). Ah, terlalu beresiko memang untuk menyukai bunga di pekarangan orang. Sebab jika sewaktu-waktu bunga itu raib sebab dicuri orang, maka akulah orang pertama yang akan disangkanya. Semacam tersangka pencurian bunga, meski aku sebenarnya bukanlah seorang pencuri….
Ah, Mungkin cukup sekian saja cerita tentang bunga di pekarangan orang itu. Sebab mawar liar di samping pekarangan rumahku mulai memiliki kuncup. Setidaknya sedikit ke sedikit aku mulai memperhatikannya. Aneh, padahal aku tak seberapa suka bunga mawar. Entahlah, secara tak sengaja aku mulai menyukainya. Seringkali bunga itu kurapikan, kubersihkan dari debu-debu kotor yang menempel di beberapa helai daunnya. Kupikir, sesuatu telah merasukiku. Ada perasaan teduh dan damai ketika aku memperhatikan mawar liar itu. Mawar liar yang dahulu selalu menjadi tumpahan sumpah serapahku. Bahkan kadang terlintas pikiran hendak mencabutnya lalu kubuang saja ke sungai.
Beberapa kawan sempat memberitahuku bahwa kelak bunga itu akan menjadi bunga yang indah. Kata mereka dari bentuk kuncupnya saja sudah kelihatan sehingga mereka menyuruh aku agar lebih memerhatikannya. Ada-ada saja! Kukatakan pada mereka. Bukankah ini hanya bunga liar? Aku sendiri tak tahu siapa yang seenaknya meletakkan bibit bunga itu sebelumnya. Atau mungkin seseorang sengaja menanamkannya untukku? Sudahlah. Tak perlu kupikirkan. Yang jelas seindah apapun bunga itu tetap saja bunga liar bahkan bikin risih sebab letaknya yang sedikit menjorok ke jalan.
Tapi siapa yang merawat bunga liar ini? Dan yang menyiramnya? Bukankah aku orangnya… yang jelas aku memang orang paling munafik untuk berbicara tentang cinta.
***
Pagi itu tak banyak orang turun ke jalan. Hanya satu dua orang yang terlihat sedang asyik jogging atau mengayuh sepeda. Hujan yang turun malam tadi sedikit mengurangi minat beberapa warga yang biasanya gemar berolah raga. Genangan air masih terlihat di sebagian ruas jalan apalagi udara masih dingin merasuki badan. Aku masih duduk bersantai. Seorang kawan, Hafid, menghampiriku. Masih seperti biasa, ia datang mengenakan sarung bermotif kotak-kotak dengan setelan baju koko. Sebenarnya tak hanya kawan, bahkan ia telah kuanggap sebagai saudara terbaikku sejak lama. Satu hal yang tak pernah kulupa tentang kami berdua, jika aku adalah tipe orang yang paling suka meminta tolong, ia merupakan tipe orang yang paling tidak bisa untuk berkata ‘tidak’. Intinya, aku banyak berhutang padanya…
Setelah memberi salam kusilahkan ia duduk berdampingan denganku. Awalnya kami membicarakan cuaca pagi itu. Tetapi entah sengaja atau tidak pembicaraan mulai menjalar hingga sampailah akhirnya pada topik ‘bunga’. Rupanya ia sudah menyiapkan topik itu jauh-jauh sebelum perjalanan kemari.
“Mawar itu indah juga.”
“Ah tidak juga, aku pun tak terlalu menyukainya.” Potongku singkat.
“Kupikir kau bukanlah tipe orang yang menyukai bunga semacam itu. Apalagi hanya bunga liar yang masih terlihat kuncupnya.”
“Kalau kau mau ambillah?” Entah mengapa tiba-tiba aku mengatakan itu. Ah, biarlah sudah terlanjur.
“Benarkah?” Ia melongo seakan tak percaya. “Dari dulu aku memang sudah menyukainya. Bukankah bunga itu dikatakan indah bila mampu membuat setiap yang melihatnya merasa teduh? Dan terus terang, Fid. Bunga ini benar-benar indah.”
“Mengapa tak kau katakan dari dulu?” Tanyaku. “Bukankah jika kau cerikan, bunga ini bisa kuserahkan padamu sejak kemarin-kemarin.”
“Entahlah, kupikir tanah di sini terlihat lebih subur dibandingkan tempatku.”
“Kalau begitu ambillah, tak apa.”
Kulihat ia bergegas menuju kran di samping kamar mandi, mengambil setengar ember air dan menyiramkannya pada mawar itu. Membersihkannya dari kotoran debu sisa hujan tadi malam.
“Akan aku belikan pot yang paling mahal.” Katanya sambil menyiramkan air itu perlahan.
Aku sempat berfikir sejenak. Kulihat bunga itu. Memang indah. Pantaslah jika beberapa kawan menyukainya, mengingininya untuk dipindah ke tempat mereka tinggal. Dan tak satupun yang kuijinkan dari mereka. Kupikir, tepat sekali. Sebab ternyata seseorang yang selama ini paling peduli dengan bunga, paling menyukai bunga, dan banyak tahu sesuatu tentang bunga, bukanlah aku. Melainkan dia, kawanku sendiri. Ialah pencinta bunga sejati. Dan dialah yang pantas memiliki bunga ini.
“Hari ini pun kau bisa mengambilnya. Asal hati-hati saja menjaganya. Dan jangan lupa kau merawatnya di sana,” kataku sekenanya. Sebab aku pun paling tak bisa untuk berkata ‘tidak’ padanya. Toh, aku masih banyak koleksi bunga, apa salahnya jika bunga liar yang selalu membuatku risih selama ini kuberikan saja padanya. Bagiku membuat ia senang adalah suatu kebaikan tersendiri. Setidaknya sebagai balas jasa terhadap apa yang telah ia lakukan buatku.
***
Tapi ternyata aku salah. Kejadian pagi itu telah berakibat fatal. Setelah sekian lama aku menyukai bunga di pekarangan orang. Kini aku hanya mampu menyukai bunga di pekarangan saudaraku sendiri. Saudaraku yang telah mengarungi hidup dengan pedih dan senang bersamaku.
Mungkin ia tak pernah tahu jika seringnya diriku bertandang ke rumahnya bukan sekedar datang ataupun melihat bunga peliharaannya itu. Aku datang dengan kerinduan, dengan sesal yang mendalam yang tak mampu dirasakan oleh siapapun. Dan ternyata kini aku menyukainya. Semakin sering aku berkunjung ke rumah kawanku itu, maka semakin indahlah bunga itu di kedua kelopak mataku.
Andai saja dahulu kudengarkan saran beberapa kawan untuk memeliharanya dengan baik, memindahnya ke taman tepat di depan rumahku. Mungkin aku tak akan merasa kehilangan seperti ini. Sekarang hanya ada sesal yang bertarung dengan sedikit kebahagiaan dan kepuasan. Sesal karena ternyata aku mencintai bunga itu, dan bahagia karena bunga itu menjadi milik seorang yang tepat buat menjaganya.
Ah, setidaknya aku masih beruntung bisa setiap hari melihatnya.
Sementara itu, bunga-bunga yang lain masih menunggu...
Surabaya, 29 Juli 2008
(03.00 WIB)
Ma’ud Khan
Mengulang Hidup
Salah satu kebiasaan buruk saya yang hingga sekarang sulit dihilangkan adalah melamun. Bila ada waktu kosong di sela-sela pekerjaan, maka tanpa sengaja pikiran saya akan melayang jauh meninggalkan diri saya saat itu juga. Sering pula saya melamunkan suatu hal untuk beberapa waktu yang cukup lama tanpa banyak menghiraukan apapun di sekeliling.Suatu ketika saya mendatangi kawan lama yang kebetulan juga seorang psikiater. Saya sampaikan keluhan-keluhan yang saya alami. Termasuk akibatnya terhadap pekerjaan saya. Saya sampaikan bahwa kebiasaan ini sangat mengganggu dan membebani. Berat sekali rasanya. Apalagi di kantor, beberapa rekan sering melihat saya sebagai seorang yang aneh dan tentu mengundang rasa iba terhadap mereka. Lantaran keadaaan saya yang belum berkeluarga hingga sekarang, kebanyakan mereka berpikir bahwa saya dipusingkan oleh perkara perempuan. Tapi saya masihlah sangat muda, saya belum hendak kawin, bahkan meminang seseorang untuk menjadi calon istri sekalipun. Saya belum siap.
Saya ceritakan semua masalah saya, kecuali tentang percintaan lama yang putus tanpa alasan empat tahun lalu. Sebab buat saya tak perlu diceritakan, saya sudah lama melupakannya. Saya mulai bertanya kepada kawan saya itu bagaimana menghilangkan sifat melamun dan membuangnya jauh-jauh. Walau tidak seluruhnya minimal dapat dikurangi. Ia masih manggut-manggut mendengar dan pertanyaan saya. Ia belum menjawab. Kemudian ia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya, menuliskan beberapa yang saya pikir sebagai resep.
Ia kembali memandang saya. Sebagai teman lama ia tahu betul watak dan perangai saya. Termasuk kebiasaaan saya itu. Ia lantas mengatakan bahwa hobi melamun itu tidaklah buruk. Saya katakan bahwa saya sudah keterlaluan. Namun ia tetap saja berkelit melindungi profesinya, dikatakannya saya telah menghakimi diri sendiri. Padahal saya belum pernah mengukur kadar lamunan masing-masing orang. Menurutnya tak pantas jika saya merasa sebagai orang paling sering atau setidaknya lebih sering melamun daripada orang lain. Baginya penyakit saya hanya satu, yaitu kurang bisa melamunkan sesuatu sebagai hal-hal yang positif. Itulah yang biasanya membuat saya lupa keadaan.
“Bukankah pekerjaan presiden hanyalah melamun?” katanya pula sambil tersenyum.
Saya hanya diam. Memang tak bisa saya bedakan antara melamun, termenung, berpikir, konsentrasi atau semacamnya termasuk menghitung, membaca dan menulis yang bagi saya semuanya adalah proses kerja otak. Dan saya baru merasa bahwa otak saya sudah terlalu banyak salah di setiap kerjanya. Mungkin benar kata dia, bahwa saya hanya kurang memanfaatkan lamunan saya itu.
Ia kembali bertanya tentang apa yang akan saya lakukan seandainya tuhan memberi kesempatan kepada saya untuk mengulang hidup dari titik manapun, termasuk dari patokan waktu kapanpun yang saya mau.
“Tentu saja memperbaiki hidup,” jawab saya sambil tertawa kecil. Termasuk memperbaiki kisah cinta saya dengan Jeny, pikir saya. Ah, pikiran itu masih saja menghantui saya.
“Coba kau katakan, pada titik mana akan kau ulang hidupmu itu?”
”Lima tahun lalu.” jawab saya cepat sambil tersenyum kecil mendengarkan leluconnya. ”Sudahlah tak usah mengada-ada!”
”Aku tidak mengada-ada!”
”Tapi itu tidak mungkin, John?”
“Bisa saja,” katanya meyakinkan.
”Caranya?” saya semakin heran.
”Anggap saja saat ini kau sedang berada di titik yang kau inginkan itu. Beres, kan?”
”Maksudmu?” saya sedikit tidak paham jalan pikirannya, namun saya tetap mengejar pembicaraan. Ia memandang wajah saya.
”Coba kau bayangkan, lima tahun lagi kau akan jadi apa? Semakin baik atau burukkah? Tentu kita tak tahu. Jadi, anggaplah sekarang adalah masa mengulang hidupmu dari kehidupan yang telah salah nanti, kau tak kan mengulangi kesalahan yang telah kau kerjakan satu sampai lima tahun ke depan, bukan?”
”Jadi aku harus berpikir lima tahun ke depan dan kembali ke ’lima tahun lalu’ tepat ke sekarang?”
”Tepat sekali!”
”Seakan-akan aku pernah hidup di masa lima tahun lagi?”
”Ya!”
”Lalu bagaimana caranya?”
”Kau bayangkan saja.” jawabnya santai. Kemudian saya pergi.
Aku baru mengerti. Membayangkan sesuatu yang belum terjadi? Benar, tapi aneh pula ucapannya. Ah, setidaknya hal itu akan mendorong saya menghindari hal-hal buruk yang akan terjadi. Saya perhatikan jam tangan. Kemudian saya percepat laju mobil sambil mendengarkan lagu favorit dari radio.
Sepanjang jalan saya masih memikirkan apa yang dikatakan John itu. Seperti teka-teki. Dan tentu saya hargai ide dan pikiran cemerlangnya. Apalagi sudah banyak orang yang disembuhkannya dan pulang dengan muka tersenyum. Kembali ke masa lalu dari masa depan? Cukup masuk akal. Bahkan terlalu mudah untuk saya lamunkan malam nanti.
***
Biasanya jika malam mulai larut, tanpa harus menyuruh atau memanggil, pembantu saya akan datang membawakan segelas susu hangat ke kamar. Merapikan baju dan bawaan saya kemudian menaruhnya di samping almari pakaian. Termasuk setiap kali pulang kerja lembur. Bila sesekali saya terjaga dan menginginkan sesuatu tengah malam itu, saya tak sungkan membangunkan ia buat mencari atau mendapatkannya. Walau demikian ia tak pernah keberatan melakukan pekerjaan itu. Kadang saya berpikir, betapa mudanya ia, cantik dan perhatian. Bahkan jika dipikir sekali lagi, tentu ia lebih pantas menjadi istri saya daripada pembantu. Tak jarang setiap kali pergi ke mall atau keluar menemui beberapa kawan lama, saya ajak ia sekadar buat menutupi kesendirian saya. Jika tak mau, saya paksa.
Tapi malam ini saya tak ingin membangunkannya. Saya rebahkan tubuh di ranjang sebentar setelah tiba di kamar dan membikin secangkir kopi hangat. Malam ini saya tak akan tidur. Besok tak ada agenda penting yang harus dikerjakan. Saya coba mengarang-ngarang cerita kecil di dalam kepala. Tentang masa lalu, tentang Jeny, tentang pembantu saya yang cantik, tentang siapa calon istri saya nanti atau tentang karir dan pekerjaan saya. Membayangkan sedikit masa kecil. Dan tak lama setelah itu pikiran saya mulai terbang meninggalkan tubuh saya yang masih rebah di kamar. Kemudian entah, saya sudah terhanyut dengan bermacam lamunan dan mimpi malam itu juga.
***
Kira-kira setahun setelah pertemuan saya dengan kawan psikiater itu, sedikit ke sedikit hidup saya mulai berubah. Saya sudah jarang melamun. Di kantor, saya selalu cepat mengambil keputusan, saya tak pernah lagi membuang-buang waktu. Hanya saja entahlah, urusan mencari pasangan masih belum melintas di benak saya. Jangankan mencari, buat membicarakannya saya tak ada sedikit waktu. Pernah saya dekat dengan seorang perempuan, rekan bisnis dari luar kota. Namun tak lebih dari menungguinya di klab semalaman atau menemani menghabiskan beberapa botol minuman. Itupun karena permintaannya yang lebih suka bicara bisnis di ’tongkrongan-tongkrongan’ malam daripada mengobrol di kantor yang serba formal. Selebihnya tidak ada. Saya hanya sibuk dengan pekerjaan, meeting, ke luar kota, atau bertemu kolega di lapangan golf.
Dalam satu bulan ini misalnya, akan ada agenda penting di luar negeri yang tak boleh saya lewatkan. Mau tidak mau rumah harus saya kosongkan untuk beberapa waktu. Saya mulai memanggil tiga orang sewaan untuk menjaga rumah. Sebab saya takut jika rumah saya akan menjadi sasaran pencuri. Seminggu lalu, salah seorang tetangga sebelah mengaku kehilangan uang dan perhiasannya senilai satu milyar lebih. Saya tak peduli. Sebab sudah saya ingatkan kalau akhir-akhir ini banyak maling berkeliaran. Akhirnya persis seperti dugaan. Rumahnya kebobolan saat sekeluarga pergi liburan. Sekarang rumahnya sepi, istrinya sakit-sakitan. Anak-anaknya yang jika sore selalu bermain di depan rumah saya tak pernah lagi tampak. Agaknya mereka sekeluarga menahan diri. Karena kasihan, akhirnya saya bantu membiayai pengobatan istrinya selama beberapa hari. Sementara itu jalanan sepi. Rumah-rumah pun sepi. Kabarnya, satu atau dua bulan lagi mereka akan pindah ke tempat lain.
Ratna, pembantu yang dulu belum genap setahun bekerja di rumah ini sudah lama saya pecat. Ia terlalu bersikap baik dalam banyak hal, saya kira ia hanya berniat mengambil hati saya saja. Dan yang paling membikin saya jengkel, ia suka menangis jika saya tegur. Pernah ia kedapatan sedang memegang perhiasan peninggalan mendiang ibu saya dengan alasan membersihkan lacinya yang sudah berdebu. Padahal perhiasan itu hanya akan saya perlihatkan kepada calon istri saya nanti sesuai wasiat. Begitu saya tegur, ia menangis. Dasar perempuan. Saya begitu khawatir dengan keberadaannya di sini. Apalagi ia selalu membuat saya tergoda dan seakan menghalangi saya secara tidak langsung untuk mencintai seseorang. Saat saya pecat, ia menangis meraung-raung. Padahal saya tak memukulinya. Tapi apalah peduli saya jika ia sudah tak cocok lagi bekerja di sini, ia hanya akan menjadi benalu di kebebasan saya. Menikahinya? Mana mungkin. Sekali lagi saya belum hendak kawin. Setidaknya itu alasan saya.
Setelah tiba saatnya berangkat, saya putuskan menelpon Om Iwan yang kebetulan tinggal di kota tempat saya singgah sementara. Saya kabarkan saya akan mampir dan akan sampai sekitar jam tiga sore. Ia dan putrinya akan menjemput di bandara. Saya begitu mengenal putrinya, perempuan bergelar Master of Arts setelah empat tahun tinggal dan belajar di Amerika. Terakhir kali kami berkumpul hanya saat masih SMP, sedang SMA hingga Sarjana ia jalani di negeri Jiran. Sekarang ia sudah kembali ke Malaysia dan bekerja di kantor Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur. Meski begitu setahun sekali ia masih sempatkan diri berkunjung kemari, bertemu kakek atau famili di kampung. Berbeda dengan saya yang dengan terpaksa kembali mengurus perusahaan. Ah, tentu ia sudah tidak manja lagi seperti dulu. Sebagai saudara sepupu saya begitu mengharapkan ia bahagia dengan jodohnya nanti.
Di perjalanan saya bertemu dengan perempuan yang kira-kira dua tahun lebih muda daripada saya. Di pesawat. Ia duduk sejajar dengan saya. Mengenakan jas abu-abu dengan kemeja putih bermotif bunga-bunga di sepanjang jahitan kancingnya, sedang rambutnya dicat sedikit pirang. Saya bingung, seakan ada firasat yang mengatakan saya pernah mengalami kejadian ini. Entahlah, mungkin dalam mimpi. Masih seperti lima tahun lalu dalam bayangan saya. Wajahnya yang merona terlihat anggun tatkala ia melepaskan ikat rambutnya. Saat saya pandang, ia tersenyum. Saya berpikir, masihkah ia mengenal saya? Saya coba mengingat-ingat apa yang terjadi saat silam itu. Ya, kejadiannya hampir sama. Mirip. Mirip sekali. Setelah beberapa menit terbuang akhirnya saya memberanikan diri untuk mengawali pembicaraan.
”Ke Kuala Lumpur?” tanya saya membuka percakapan.
”Ke Bangkok” jawabnya ramah ”Anda?”
”Kebetulan, saya juga hendak ke Bangkok, tapi masih mampir di Kuala Lumpur untuk dua sampai tiga hari,” saya mengulurkan tangan. ”Nama saya Ricky.”
”Jessica.” ucapnya penuh senyum ”panggil saja Jessy.”
Jessica? Saya ingat betul nama itu. Saya coba mengumpulkan ingatan yang kadangkala timbul tenggelam. Benarkah ia Jessy tunangan saya dulu? Ya, dialah yang seharusnya menjadi calon istri saya. Kalau bukan lantaran Ratna yang melarang dan mengarang-ngarang cerita tentang keburukan ia bersama laki-laki lain, tentu saya sudah menikahinya. Biarlah, saya memang sedikit menyesal sering meminta pertimbangan mantan pembantu yang sok baik itu. Tapi beruntung saya keburu memecatnya sebelum kembali berulah aneh.
”Ada perlu apa ke Bangkok?” tanyanya sopan.
”Urusan kantor” jawab saya singkat.
”Lama?”
”Kira-kira sebulan.”
”Sering ke Bangkok?”
”Baru sekarang.”
”Istri anda?” ia mulai mengarah kepada pribadi saya namun tetap berwibawa dengan senyumnya.
”Belum” jawab saya ”saya belum beristri. Apakah saya terlalu tua untuk melajang?” tanya saya sedikit tertawa.
”Tidak. Bukan begitu, maaf. Hanya menurut saya orang seperti anda seharusnya sudah layak dan mapan buat berkeluarga,” rupanya pertanyaan saya membuatnya malu.
”Sebenarnya saya masih belum siap.”
”Atau mungkin soulmate or whatever, lah?”
”Belum, saya terlalu sibuk dengan pekerjaan” jawab saya, ”bukankah Anda juga demikian?” Ah, seharusnya saya tak menanyakan itu.
”Maksudnya?” ia keheranan.
”Maaf, maksud saya apakah Anda sudah berkeluarga?” tanya saya merasa bodoh.
”Oo... belum” jawabnya santai.
Sulit buat saya mengendalikan arah pikiran yang masih sedikit tak percaya dengan perjumpaan ini. Saya kembali membuka ingatan. Ya, saya tinggalkan dia hanya karena isu perselingkuhan yang saya sendiri tak bisa membuktikannya. Tapi tak perlu menyesal, bukankah hubungan itu bisa saya perbaiki kembali? Ia masih cantik, masih segar, masih seperti ketika saya kenal ia di pesawat lima tahun lalu.
Selama di pesawat kami berbicara santai. Ia ceritakan sedikit tentang kehidupannya, pendidikannya, termasuk mengapa ia memilih fashion sebagai jantung hidupnya. Rasanya baru sekarang ada perempuan yang membicarakan hal-hal pribadinya pada saya. Bukan melulu bisnis. Saya katakan bahwa sangat menyukai perempuan mandiri, bermasadepan jelas dan tidak canggung menjalani kehidupan. Ah, saya memang tak pernah belajar memikat hati perempuan. Tetapi bukankah perempuan juga pernah belajar dari bermacam pengalaman dan bentuk rayuan? Minimal perempuan cerdas lebih menyukai lelaki yang masih polos dalam asmara. Macam saya.
”Nona, sesampainya di Bangkok nanti, bila ada waktu bolehkah saya ajak Anda makan malam?”
Saya perhatikan ia masih berpikir sejenak menjawab pertanyaan saya.
”Tapi bukankah Anda ke sana untuk urusan kantor? bukan berlibur,” ia masih ragu dengan ucapan saya, ”tentu Anda akan sibuk sekali di Bangkok.”
”Saya akan usahakan ada waktu buat bertemu Anda.”
”Baiklah, saya juga usahakan”
Kira-kira sepuluh menit berselang, kami sudah sampai di Kuala Lumpur. Setelah keluar dari pesawat saya bergegas menemui keluarga Om Iwan yang sudah menunggu seperempat jam sebelumnya. Saya hampiri Jessica untuk berpamitan. Saya katakan betapa beruntungnya saya jika bertemu kembali di Bangkok.
”Akan saya tunggu,” ucapnya.
”Baiklah, terima kasih,” saya jabat tangannya kembali, ”Selamat jalan, semoga perjalanannya menyenangkan.”
”Menyenangkan sekali...!” jawabnya seraya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum. Lalu saya berbalik. Namun tiba-tiba tangan saya diraihnya. ”Saya tak suka dipanggil Nona, panggil saja Jessy!”
”Baiklah”
Saya pun pergi meninggalkan dia dari ruang tunggu penumpang. Sambil menggeret bawaan, saya menoleh ke kanan kiri. Saya lihat om dan tante melambaikan tangan dari kejauhan. Kami pun akhirnya berkumpul. Tak sulit memang menemukan rombongan Om Iwan dan keluarganya di bandara. Wajahnya masih tak asing buat saya meski di keramaian semacam ini. Satu-persatu keduanya memeluk dan bersalaman dengan saya. Azizah yang berdiri pula di sana tampak cekatan menyambut kehadiran saya. Ia tampak lebih dewasa. Mukanya bersih.
Setelah sedikit bercengkerema di Bandara, meluncurlah kami ke kediaman om di kawasan Kelap Golf Diraja Selangor tepat di pusat kota. Rupanya kedatangan saya dimanfaatkan mereka untuk mengabarkan jadwal pernikahan Azizah dua bulan lagi. Saya terperanjat. Mengapa saat tunangan tidak memberi tahu saya? Akhirnya saya mafhum sebab acara tunangannya diadakan di Australia. Jangankan saya, kerabat lain dari pihak tante Sinta pun sengaja tak diberi kabar.
”Kan ini surprise buat kakak dan yang lain?” kata Azizah lantas tertawa.
Akhirnya saya tak banyak bertanya. Satu minggu di jantung Malaysia saya habiskan buat berkunjung ke kerabat-kerabat dekat. Saya benar-benar mendapatkan wejangan berharga dari mereka mulai dari memilih calon istri hingga kiat membangun keluarga dari nol. Saya coba pahami perkataan mereka sehingga butuh waktu cukup lama. Memang tak sesuai jadwal, karena seharusnya saya sudah berada di Bangkok beberapa hari lalu. Saya mulai bimbang. Adakah Jessica masih ingat dengan saya. Adakah ia juga calon istri terbaik buat saya, tidak seperti yang diceritakan Ratna. Keesokan harinya, saya berangkat ke Bangkok.
***
Beberapa orang mengatakan, bahwa sudah satu bulan rumah di seberang jalan itu ditinggal penghuninya. Tepat sebulan sebelumnya, di suatu malam, kedua penghuninya bertengkar hebat. Belum pernah mereka dengar pertengkaran semacam itu. Tapi tidak ada tetangga yang berusaha datang atau melerai pertengkaran kedua laki-bini yang sudah sekitar lima tahun berkumpul itu. Mungkin orang-orang sudah tak terlalu menganggap penting atau wah, sebab sudah menjadi sesuatu yang biasa selama beberapa tahun terakhir. Hampir tiap malam.
Rumah itu kosong. Hanya ada seorang jongos yang biasa terlihat membersihkan halaman rumah besar itu tiap pagi. Beberapa waktu terakhir ia selalu bangun lebih pagi karena tumpukan dedaunan makin hari makin banyak saja.
Suatu hari seorang dari tetangga lama yang sudah sekian tahun tak berkabar datang menjenguk. Dulu ia pernah tinggal satu blok dengan pemilik rumah mewah itu. Namun akhirnya ia harus pindah karena beberapa hal. Terutama karena istrinyalah yang meminta. Hanya beberapa jam, ia sudah banyak mendapat cerita warga tentang penghuni rumah tak bertuan itu.
Ia menarik nafas dalam, kemudian menyusuri sepanjang pagar rumah yang bercat mengkilat itu sambil sesekali melirik ke balik palang pintu. Seorang jongos paruh baya menghampirinya.
”Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya sopan.
”Kalau saya boleh tahu, kemana yang punya rumah, Pak?
”Ke luar kota, Tuan” jawabnya pelan. ”Tuan sendiri siapa?”
”Saya Lukman dari Lampung, dulu saya pernah tinggal di rumah itu,” sambil menunjuk sebuah rumah di seberang jalan. ”Kapan kira-kira balik?” ia kembali bertanya.
”Waduh maaf, saya kurang tahu,” keduanya diam sesaat.
”Ya sudah, saya titip pesan kalau beliau datang, tolong bilang saya kemari, itu saja.”
”Baiklah, Tuan.”
Ia segera beranjak, kemudian kembali menyelesaikan urusannya di Jakarta. Sulit menemukan seorang tetangga seperti dia, meski sudah lima tahun tak berkumpul. Namun ia tak pernah lupa sedikitpun kepada Ricky yang pernah membantunya. Ia limabelas tahun lebih tua. Pikirannya matang termasuk dalam berkeluarga. Kini kedua anaknya sudah masuk sekolah menengah.
Awalnya ia berpikir jika Ricky pastinya sudah beranak dan hidup bahagia. Meski tak sempat mendatangi resepsinya namun ia selalu berharap Ricky akan senang dengan istri pilihannya itu, seorang desainer terkemuka di ibu kota. Mengapa ia begitu peduli?
Tentu, lima tahun lalu. Saat istrinya ditimpa sakit-sakitan, Ricky yang membantu. Saat hartanya dikeruk pencuri, Ricky pula yang pertama kali datang. Termasuk ketika hendak berpindah ke Lampung, Ricky lah yang pertama kali berpesan agar tidak jera berkunjung ke Jakarta. Kedua putranya pun begitu akrab dengan sosok Ricky sebagai pemuda mapan yang menyukai anak-anak.
Hanya yang sedikit membuat ia tak mengerti adalah dipecatnya Ratna dari pekerjaannya sebagai pembantu di rumah itu. Tapi ia tak mau tahu. Itu adalah urusan Ricky dengan pembantunya. Ia hanya begitu menyesal mendengar kabar Ricky yang tak hidup bahagia dengan istrinya. Banyak tetangga mengatakan istrinya kerapkali pulang larut malam. Menyalakan klakson mobilnya keras-keras tiap kali datang. Jangankan membantu menyelesaikan urusan rumah, pembantunya saja seringkali disemprotnya dengan perkataan tak mengenakkan.
Akhirnya kerabatnya pun mengisyaratkan Ricky agar menceraikan istrinya. Tapi Ricky tak bersedia. Istrinya yang mendengar campur tangan itu balik tak terima. Ia menghujat Ricky dan keluarganya habis-habisan. Akhirnya pecahlah perang keluarga di rumah itu. Istrinya kabur. Dan Ricky mencarinya entah kemana. Ah, memang sulit menutupi aib keluarga. Sebab kabar buruk tentu lebih cepat menyebar daripada kebaikannya. Dan setiap kesalahan awal, tentu akan berimbas pada kesalahan di akhir yang sulit dielakkan.
***
Saya terkejut, seorang pelayan berdiri di samping saya sambil tersenyum ramah menyodorkan buku menu. Entah sudah berapa lama ia berdiri di situ. Saya tak sempat menanyakannya. Saya katakan bahwa saya tidak terlalu lapar, saya akhirnya memesan segelas minuman dan kentang goreng satu porsi. Dengan sigap seorang pelayan lain datang mengantarkan pesanan saya.
Saya perhatikan mereka. Alangkah bahagianya hati mereka melayani setiap orang yang berkunjung kemari. Muka mereka bersih. Walau kadang dibuat-buat. Tapi bukankah kita tak akan tahu apa yang ada di pikiran mereka. Toh, lambat laun hal itu akan menjadi sebuah kebiasaan dari watak mereka. Bukan selalu kewajiban.
Saya mulai teringat Ratna. Ya, ia begitu piawai menghadapi saya sebagai majikannya. Ia selalu melayani saya. Entah mengapa saya mulai menyesal. Rasanya saya tak pantas membebaninya dengan pekerjaan rumah yang begitu padat meski tak pernah gajinya saya tunggak. Sudah beberapa bulan ini rumah saya tak ada yang merawat. Sedangkan saya sendiri tak mampu mengerjakannya. Saya merindukan Jakarta. Saya merindukan rumah saya yang bersih dan kembali bersinar. Besok, setelah urusan di sini selesai saya langsung kembali ke Jakarta.
Saya sudah tak betah lagi di Bangkok.
***
Seminggu sudah saya tak ke kantor. Tubuh saya agak sedikit kurang sehat. Sudah tiga kali saya ke dokter, namun tak juga mendapatkan jawaban jelas atas penyakit saya. Istri saya pun sudah tiga hari ini tak masuk kerja karena harus menemani saya di rumah. Kata dokter terakhir, sebenarnya saya hanya sedikit stress diakibatkan beban pekerjaan. Jadi selayaknya saya dibawa kepada psikiater saja. Hanya sebatas konsultasi. Awalnya saya tak sepakat. Saya katakan kepada istri saya kalau saya tidak gila.
”Siapa yang bilang Mas ini gila?” kata istri saya, ”Apa salahnya kalau hanya sekedar datang? Makanya jangan terlalu banyak memikirkan pekerjaan! Jangan terlalu suka melamun.”
”Siapa yang terlalu banyak memikirkan pekerjaan?” saya mulai sewot ”Aku hanya memikirkan supaya keluarga kita bahagia, Sayang..!”
”Tuh kan? Lama-lama Mas nanti malah gila beneran.”
”Terserahlah!” dan seperti biasa akhirnya saya mengalah
Hari itu kami pergi ke psikiater. Namun tak ada yang cocok buat saya. Besoknya dua psikiater, namun tak juga mampu menyembuhkan saya. Empat hari kemudian, seminggu kemudian. Entah sudah berapa psikiater yang saya datangi. Tapi tidak ada satupun yang bisa memecahkan masalah psikologis dalam diri saya. Mengapa?
Karena tak ada satupun dari mereka yang mengenal watak perangai saya. Mungkin ini salah satu kekurangan, karena dari sekian banyak teman saya, tak ada seorangpun yang berprofesi sebagai psikiater. Tak ada. Hanya istri saya yang mampu memberikan keteduhan dan ketenangan batin. Istri saya, mantan pembantu saya, yang sekarang memberikan seorang anak kepada saya. Adalah teman sekaligus psikolog buat saya yang tak perlu dibayar dan siap menghabiskan sisa umurnya bersama saya. Terimakasih, Ratna!
Surabaya, April 2009
Maud Khan
Anak-Anak Hujan
Beberapa waktu setelah Panas dilahirkan, di tempat lain lahirlah Hujan. Tak ada yang tahu persis kapan kejadiannya. Jangankan kepala desa, bahkan camat sekalipun tak berani mengira-ngira tanggal kelahirannya itu. Mungkin pikir mereka menebak-nebak hari kelahiran sama halnya dengan menyuruh ibunda Hujan murka. Ibunya memang takut kualat jika mempermainkan tanggal kelahiran. Terutama buat peruntungan anaknya kelak. Sehingga walau diberi embel-embel apa pun, ia tak mau tanggal lahir anak satu-satunya itu ditulis secara ngawur. Pikirnya, lebih baik jika dikosongkan saja.Janda beranak satu itu memang tak tahu kapan anaknya dilahirkan. Di rumahnya tak ada kalender, jam dinding atau apapun yang dapat menjelaskan pergantian waktu. Ia hanya tahu weton. Itupun sebatas diberi tahu tetangga, dan masih terlalu kabur keakuratannya. Tapi apalah artinya weton. Sedang sekarang sudah bukan lagi zaman kerajaan. Baru setelah kira-kira sebulan dirinya melapor ke kepala desa bahwa ia baru saja melahirkan orok. Sejak saat itu, Hujan adalah satu-satunya anak yang tak memiliki data kelahiran jelas di negeri itu. Bahkan mungkin satu-satunya diantara dua milyar lebih penduduk dunia. Tapi untuk sekolah ia sudah dapat rekomendasi dari kepala desa dan kecamatan.
Saat itu ia masih anak-anak, rambutnya terurai lurus sebahu. Jika pagi ia sekolah, siangnya bermain-main dengan teriknya matahari, dan malamnya ia mengaji di surau. Sekolahnya ia selesaikan dengan prestasi yang memuaskan. Bahkan jika dibandingkan saudara-saudara yang lain, Hujan adalah anak yang paling cerdas. Lain dari itu, ia dikenal sebagai anak yang santun dan hormat pada yang lebih tua. Ia tak pernah mengeluh walau diperintah macam apapun oleh ibunya. Sejak kecil ia hanya menurut, dan seperti biasa ia hanya diberi tugas buat mengirim air di sekeliling desa.
Seiring bergantinya waktu, maka Hujan tumbuh sebagai anak yang cakap dan pandai. Ia mulai memiliki keinginan buat melanjutkan sekolah. Tapi apa boleh dikata? Ia tak punya data kelahiran sebagaimana peraturan sekolah-sekolah perkotaan, bahwa tanggal kelahiran harus diisi dengan sebenar-benarnya.
”Tapi ini asli, Pak” kata ibunya meyakinkan panitia pendaftaran.
”Asli bagaimana sih, Bu? Ini masih kosong.”
”Memang seperti itu kok, Pak!” tandas ibunya lagi, ”Dulu di desa ia diterima.”
”Tapi ini kota, Bu. Di sini ada peraturan. Pendataan harus lengkap. Terus bagaimana dia bisa kerja? Bagaimana dia bisa melanjutkan kuliah? Sedang untuk data kelahiran saja tak jelas.”
“Terus bagaimana ini, Pak?”
“Terserah ibu saja, kalau ibu punya uang lebih saya bisa urus,” kata panitia itu sambil tersenyum.
Sama seperti yang dikatakan oleh kades dan camat belasan tahun lalu saat ibu Hujan berniat untuk mengurus Akta Kelahiran anaknya. Tapi bukan ibu Hujan kalau ia tidak berprinsip. Daripada harus menyuap, lebih baik ia menjadikan anaknya sebagai tukang kirim air keliling desa.
Dan dalam sekejap saja, nama Hujan mulai dikenal di seluruh masyarakat. Tidak hanya di desa, bahkan pernah juga sesekali ia diterbangkan ke kota-kota besar buat mengirim air pula. Jadwalnya padat. Tiap hari, tiap jam, ia harus sering berpindah tempat. Jika dulu di rumahnya sepotong kalendar pun tak ada, sekarang untuk mempermudah pemesanan sudah ada pula mesin fax dan telepon yang bisa dihubungi sewaktu-waktu. Ada juga sebuah mobil hasil kredit, yang bisa dipakai sesekali jika ada order yang dirasa jauh berjalan kaki.
***
Lama-lama Hujan risih juga dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Banyak orang rebutan untuk mendapatkan pelayanan Hujan setiap jamnya. Bahkan di beberapa tempat sampai diadakan pelelangan buat satu jam jatah Hujan. Dan yang lebih menjengkelkan, di kota-kota sudah banyak ’calo’ yang berjualan jasa Hujan dengan harga mencekik. Belum lagi sebagian dukun yang menolak Hujan lantaran ada acara pernikahan dan hajatan lainnya.
Tiga hari lalu Hujan didatangi sekelompok orang tak dikenal, mereka langsung mencak-mencak di depan kantornya. Mereka merasa dirugikan lantaran acara karaoke-an yang mereka adakan bubar. ”Hujan harus bertanggung jawab!” teriak mereka. Beberapa menit berselang Hujan keluar. Dan bubarlah barisan demonstran itu kocar-kacir. Dan begitulah bila Hujan sedang marah.
Hujan masih memandangi jadwalnya, daerah mana saja yang harus ia lewati, daerah mana yang pantang ia lalui, yang boleh ia lalui, atau yang boleh ia nikmati pemandangannya buat bermain-main. Ia masih bingung rencana apa yang harus ia pikirkan.
Akhirnya Hujan memutuskan untuk membuat pengumuman melalui surat kabar yang isinya:
1. Hujan meminta maaf atas pelayanan selama ini yang kurang memuaskan. Ini semua lantaran kinerja sekretaris Hujan yang kurang profesional. Tapi dia sudah dipecat, kok.
2. Hujan tidak pernah membanderol harga. Jika ada yang mengatasnamakan Hujan dengan meminta sejumlah uang. Jangan dikasih!
3. Keterlambatan pelayanan akan diganti sesegera mungkin. Dan terakhir,
4. Hujan tidak bertanggungjawab atas segala kerusakan yang disebabkan kelalain kliennya.
Ttd
Hujan
Ternyata iklan ini memantik masalah. Beberapa oknum yang selama ini merasa selalu dirugikan oleh Hujan mulai melapor ke aparat berwajib. Banyak pula perusahaan yang tak setuju dengan iklan promosi Hujan ini, terutama perusahan-perusahaan air yang sejak dulu memang telah dibikin pusing. Karena takut kalah pamor, mereka akhirnya berkonspirasi dengan mendatangi pemerintah, kejaksaan dan kepolisian buat menjegal Hujan dan ibunya ke manapun mereka hendak datang. Dilaporkannya bahwa Hujan itu merupakan usaha ilegal. Tak bersurat. Harus dibasmi.
Singkat kata, dibuatlah penjegalan-penjegalan yang berujung pada larinya Hujan dan ibunya ke negeri orang. Ia sudah tak kembali lagi. Dan ia memang tak akan kembali. Ia sedih. Sudah puluhan tahun diabdikan seluruh hidupnya buat tanah air. Tapi ia malah dibuang.
”Kurang apa aku ini? Kurang apa?” keluhnya di suatu tempat.
”Sudahlah, nak...! tak usah kaupikirkan itu. Sekarang pikirkan dirimu. Mungkin sudah saatnya kau menikah.”
”Tapi siapa yang akan mau menikah denganku?”
”Aku.” tiba-tiba keluarlah suara dari balik dedaunan-dedaunan. Dialah Panas. ”Mungkin kita bisa menjadi pasangan yang serasi,” katanya pula.
”Kau?”
”Ya, aku sudah banyak tahu tentangmu. Nasibmu memang tak seberuntung aku. Mari kuajak kalian ke negeriku. Di sana semua serba mudah, teratur dan tak berbelit-belit seperti di negaramu. Orangnya pun ramah-ramah.”
Sejak saat itu Hujan dan ibunya mulai tinggal di negeri yang nun jauh itu. Dia pun sudah punya KTP walau data kelahirannya kosong, tapi itu tak jadi soal. Dan untuk pertama kalinya menikahlah kedua mempelai itu.
Sekarang mereka sudah beranak pinak, ada yang sama dengan Hujan, ada yang nurun dari Panas, dan ada pula yang mewarisi keduanya. Mereka sekeluarga bisa bekerja dengan leluasa.
***
Akhirnya Hujan rindu juga pada kampung kelahirannya. Banyak sekali email dan sms yang masuk ke handphone-nya menyuruh dia kembali, ia begitu dibutuhkan. Tapi untuk kembali jelas tidak mungkin. Tekadnya sudah bulat untuk tak kembali. Bukankah jika itu dilakukan hanya akan ada intimidasi? Ada pengusiran, penghinaan. Sebenarnya jika dia mau sekedar berkunjung. Bisa saja. Sebab tak perlu repot naik perahu atau mobil butut. Pesawat pun bisa menjadi tumpangan yang jadi pilihan utama.
Lantas bagaimana lagi? sedang di negara asalnya itu tak ada jaminan keamanan transportasi, kalau mati belum tentu dapat ganti rugi, prosedurnya ribet, belum lagi jadwal yang suka molor.
Rupanya ia kasihan juga. Tiap hari ia sering baca di surat-surat kabar tentang hiruk pikuk pejabat yang saling tuduh korupsi , berebut kursi kekuasaan dengan berbagai cara, termasuk menumpuk hutang luar negeri sebanyak-banyaknya. Barang-barang dijual mahal, sedang harga diri diobral murah.
Tak hanya itu, puluhan bencana beberapa bulan terakhir yang sering ia tonton di TV pun tak kalah hebohnya. Mulai dari tanah longsor, angin topan, banjir, kemarau panjang dan sejenisnya. Tapi untuk masalah ini ia masih bisa maklum. Ya, bagaimana tidak harus dimaklumi. Sedang ketiga anaknya pun butuh belajar beserta prakteknya.
”Sudah saya katakan, bahwa ’Kami tidak bertanggungjawab atas segala kerusakan yang disebabkan kelalain kliennya’, dan sampai sekarang peraturan itu masih berlaku.” ucapnya suatu ketika di depan televisi.
Surabaya, 25 Mei 2009
Maud Khan
Semua Karena Kakek
Terkadang cinta memang aneh… Tapi cinta memang tak mampu dirasakan, sebab ia terlalu lembut. Orang sepertiku memang tak pantas memiliki cinta, mengalami, ataupun melihatnya. Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya adakah sebenarnya cinta sejati? Apakah cinta hanya sekedar dongeng belaka yang merupakan hasil dari kegilaan sesama makhluk yang tiada tertahankan? Ah! Apalah cinta itu jika tiada pengharapan untuk menemukan dan mendapatkannya.Kapan aku mengenal cinta? Sejak kecilkah? Di bangku sekolahkah? atau saat aku menuliskan cerita ini? Ah, jika begitu mungkinkah cinta itu tumbuh seiring dewasanya alam pikir kita?
Begitulah kita selalu bercerita. Tentang bagaimana rasanya hidup berdampingan dengan orang yang kita sayangi. Sebagai impian hidup kita. Cita-cita kita. Kita merayu, menggoda, memeluk, mencumbu bahkan jika perlu berbohong demi 'cinta'. Mencari kepuasan hidup untuk sekedar berpamer dengan yang kita miliki. Manusia tumbuh dengan jalan dan likunya, seperti padi yang tumbuh di musim kemarau. Ia akan terus berharap akan hujan, walau mustahil.
Dulu aku berpikir cinta itu adalah perasaan yang lebih terhadap seseorang, diatas yang lain. Sewaktu sekolah, seringkali aku menulis di halaman depan buku dengan kata-kata "I love You" atau "aku cinta kamu". Membuat puisi dan beberapa pantun pendek. Melakukan banyak tindakan bodoh. Melirik beberapa anak perempuan di samping meja belajar kelas. Kemudian melempar selembar kertas yang berisi tulisan konyol sebagai ungkapan perasaan. Tak pernah ada tujuan di sana. Apalagi komitmen. Hanyalah setitik pengaruh lukisan lipstik, tatanan rambut, atau sesuatu yang lebih hormonal tentunya.
Masih teringat betul, betapa seringkali aku melihat tubuh-tubuh perempuan itu menghanyutkanku. Entah sudah berapa kali kulontarkan kata-kata manis merayu dan memanggil mereka dengan beragam keahlian yang kuketahui dari beberapa kawan. Kadang jiwa tak bisa dibohongi, meski tak sepenuhnya suka, namun tatapan awal terkadang lebih membekas. Tetapi, bukankah sesuatu yang berjalan tetaplah memiliki permulaan dan akhir? Sedangkan permulaan tetap saja berawal dari pandangan. Ah, hingga sekarang aku juga tak pernah percaya dengan ’cinta pandangan pertama’.
***
Aku terperanjat! Sepuluh menit lagi aku harus tiba di kampus. Ada beberapa pekerjaan yang perlu kuselesaikan. Sementara itu, baru saja ada kabar tentang kakek yang sakitnya makin parah di kampung. Secepat kilat aku menyambar tas dan motorku, mampir sebentar ke photo copy dan menitipkan proposal kegiatan pada kawan sekelas untuk diserahkan besok. Sore ini aku harus ke kampung menjenguk kakek. Mungkin. Setelah kuliah nanti.
Tak hanya itu. Aku harus menjemput Laela secepat mungkin sebelum dia berangkat sendiri ke kampus. Seperti yang biasa dia lakukan tiap kali aku terlambat menghampirinya. Setelah lima menit perjalanan, kulihat dia masih berdiri tegak, sejajar dengan tiang telepon di sampingnya. Tapi ia tak marah. Dan memang sikap tak pernah marahnya itulah yang selalu membuatku tak berdaya.
"Mengapa lama sekali, Rus?" Ia bertanya penasaran saat aku tiba.
"Barusan aku ketiduran sehabis subuh." jawabku meyakinkan.
"Makanya, tidur jangan malem-malem!" Ia mulai mengingatkan "Nih, lihat! dah mau masuk kan?" Ia menujuk jam tangannya lalu menatapku dengan matanya yang terang laksana bintang di pagi hari itu. Aku hanya tersenyum. Dan kami pun berangkat ke kampus dengan sejuta kebahagiaan seperti biasa.
Ah, tatapan itulah yang setahun lalu membuatku bertekuk lutut. Tatapan matanya penuh makna dan perasaan. Tidak ada sedikitpun cacat dalam dirinya. Raut mukanya selalu cerah. Apalagi kecantikannya itu terkumpul dalam bingkai kerudung putih yang tak pernah ia tanggalkan. Tak pernah pula ia berbesar hati di hadapan orang. Bicaranya sedikit, tak seperti kebanyakan perempuan seusianya. Agaknya perangai itulah yang lebih membuatku tertarik di samping fisiknya yang nyaris sempurna.
Setahun lalu aku mengenalnya di kedai kopi. Kedai itu kecil, jauh dari keramaian. Tempat pemuda biasa berkumpul untuk membicarakan masing-masing pribadinya, urusan perempuan. Kukenal ia saat pertama kali datang ke kedai bersama kakaknya yang sebelumnya kukenal baik. Kedatangan mereka berdua itu membuat pembicaraan beralih. Masalah organisasi. Oooh... Sungguh Membosankan. Kakaknya, Andre, memang penggila dan pecandu organisasi. Selama pembicaraan yang tak menarik itu, aku hanya mampu melepaskan pandangan liarku ke arah Laela. Matanya menangkapku. Ia hanya tersenyum kecil, tak seperti diriku yang banyak cakap. Dan dari situlah besoknya aku berani mengajak makan siang di warung dekat kedai kopi langgananku itu.
***
Setahun bukanlah waktu yang lama, tapi setahun bukan pula waktu yang sebentar untuk mengukur kekuatan 'cinta'. Aku menemukannya sebagai orang yang paham tentang itu. Tak jarang kami mendebatkannya. Baginya cinta dibangun atas dasar rasa percaya. Cinta diracik dengan bumbu kesetiaan, mengerti satu sama lain dan tentu menerima apa adanya. Ah, dasar perempuan! Apapun serba diperhitungkan dan didramatisir. Dasar makhluk sensitif! Tetapi di balik itu aku mengagumi gaya bicaranya. Perlahan, santai dan mampu membikin siapapun yang mendengarnya terhipnotis. Semua perkataanya masuk akal dan aku pun menerimanya. Setidaknya membuat arahku sedikit berubah dalam memahami arti cinta itu sendiri. Untuk memiliki komitmen bersama. Ya, komitmen! Itulah yang aku simpulkan sementara ini.
Di warung dekat kedai kopi langgananku itu. Masih di hari yang melelahkan ini, ia melanjutkan ceramahnya di sela-sela makan siang. Siang itu masih cerah. Secerah wajahnya yang tak terusik walau terkena panasnya hari. Ia menggerak-gerakkan bibir merahnya yang tanpa pewarna sambil memandangku. Ia memang pandai mengarahkan pembicaraan. Walau tak terlalu dipaksa, tetapi telingaku selalu hanyut dalam hidangan yang keluar mulutnya yang indah itu. Tapi saat itu yang menjadi lakon utama adalah aku. Ya, aku.
Aku mulai sampaikan hal-hal penting siang itu. Berbagai hal, kecuali sakit kakek yang sudah begitu parah. Terakhir kukatakan padanya bahwa seorang pecinta harus memiliki keteguhan jiwa agar kedua pihak tak mudah berputus asa menjalani hidup. Tegar menghadapi cobaan-cobaan cinta. Dan entah apalagi. Aku sendiri makin tak mengerti dengan yang kuucapkan. Aku masih melanjutkan. Seorang pecinta sejati harus memiliki kerelaan hati, bahkan untuk berpisah sekalipun. Mengorbankan cintanya. Demi cinta.
"Berpisah? Mengorbankan cinta?" ia bertanya heran.
"Ya, kenapa? Kau masih belum paham?" aku balik bertanya. Namun sama sekali tak merubah raut mukanya saat itu.
"Tidak-tidak, bukan begitu," ia mencoba menenangkan diri, "aku hanya aneh saja.. jika....jika... harus merelakan cinta?. Itu paradoks, mengorbankan cinta demi cinta. Bahkan baru sekarang aku mendengarnya seumur hidupku"
"Tapi bukankah cinta itu pemberian Tuhan? Bukankah kita hanya menerimanya? Bagaimana jika Tuhan mengambilnya kembali? sedang kita berdua belum siap." Ia masih terlihat tenang layaknya batu karang yang tak goyah dihempas gelombang. "Aku hanya tak ingin kita berdua belum siap menerimanya, Lel! Betapa banyaknya manusia-manusia bercinta dan tenggelam dalam cintanya. Tanpa menyadari kuasa Yang Memiliki Cinta. Toh hidup dan cinta bukan kita yang memintanya,” aku mulai serius. Aku coba meyakinkannya. Biasanya ia tak terlalu menanggapi, tapi kali ini tidak.
"Laela.., kau tak tahu maksudku. Begitu cintanya aku. Hingga tak sanggup meninggalkanmu walau sekejap. Tak kan ada yang mampu memisahkan kita, Lel! Kecuali maut. Kalaupun kau mau, ke ujung dunia pun kau akan kudatangi. Tak peduli sekalipun Tuhan yang melakukannya." Kupegang kedua tangannya. Kugenggam erat jari-jemarinya yang lembut bagai jalinan sutera itu. "Tetapi! hidup tidak hanya berjuang menghadapi maut. Bisa saja kematian itu kita dapati semasa hidup bahkan sebelum kita merasakan kehadirannya."
”Salah sendiri, kita hidup diberikan cinta. Mengapa harus diambil kembali?” aku mulai tak sabar.
"Ah, itulah akibatnya jika terlalu banyak membaca buku-buku filsafat, Rus. Kau selalu berbicara tentang hakikat, tentang tujuan atau apalah yang selama ini membuatmu makin aneh." Kulihat ia mulai jengkel dengan kata-kataku. "Kita jalani saja hidup ini seperti kebanyakan orang menjalaninya."
”Ah, kau masih saja tak paham ucapanku.”
"Kau cinta padaku, Rus?"
"Maksudmu?" Aku semakin heran.
"Kau tak akan melupakanku, bukan?
”Jelas.”
Aku terdiam sejenak.
"Ku akan selalu mencintaimu, Laela!"
Ia menatapku dengan penuh haru. Kulihat raut wajahnya sedikit berubah seiring bergesernya jam demi jam. Karang itu mulai terkikis sebab ombak yang tak henti-hentinya menghantam. Kutatap kembali matanya yang berbinar-binar itu. Mata itu seakan-akan berkata "terima kasih, Rus! Terima kasih."
Aku tak menyangka betapa soal cinta ini teramat mengganggu. Aku mengerti jika ia tak lagi meragukan cintaku. Tak seperti dulu saat aku pertama kali mengenalnya di kedai kopi Tapi ia tak pernah tahu bahwa ada sesuatu yang kusembunyikan hingga sekarang. Meski begitu, aku bukanlah pecinta layaknya anak-anak SMP yang tak punya pegangan, harapan dan cita-cita.
”Aku sudah menyiapkan semuanya untuk kita. Ya, termasuk untuk tak bertemu denganmu lagi. Bukankah kita sama-sama demikian?”
Aku hanya mampu bermenung. Ia masih diam. Lama aku menatapnya dengan penasaran yang masih melanda yakinku.
”Ah, betapa aku cinta padamu, Atau mungkin kali ini aku sengaja menjadikanmu sekadar percobaan teori-teori cinta yang baru kudapat tadi itu?” kataku dalam hati.
***
Dua tahun, tiga bulan, lebih lima hari. Aku sedikit tak mampu memahami semua ini. Surat-surat di lantai, email di komputer, sms yang belum terbalas. Semua hampir tak ada artinya buatku. Kata-kata sayang, miss you, love you yang setiap hari terbaca membuatku semakin bimbang. Membuatku benci, benci dengan diriku sendiri.
Dua tahun lebih aku ditinggalnya dalam janji setia yang ia titipkan bersama setangkai mawar buatan tangan. Kuyakin kalimat-kalimat itu ditulisnya dengan kepingan kepercayaan. Dengan bumbu-bumbu cintanya yang dulu pernah diceritakannya padaku. Ah, Ternyata benar apa kata orang. Ketika jarak sudah tak berpihak lagi dengan kita. Ketika rindu hanya dihargai dengan selembar foto dalam bingkai cantik, tulisan, serta kata-kata manis yang melewati kawat telepon tiap pagi. Semua tak ada arti jika belum melihat wajah aslinya yang ayu.
Aku hanya bisa menyesali diriku yang separuhnya telah mengikuti dirinya terbang jauh. Jauh sekali. Ia terbang ke Belanda mencari separuh tubuhnya yang hilang. Separuh tubuhnya yang ada pada Laela. Ia terlalu lama meradang sebab tak mampu menahan keinginannya itu.
Sekarang lengkaplah diriku yang tinggal separuh ini. Yang hanya dipuaskan oleh kata-kata manis. Memandangi bingkai cantik di atas meja. Membaca lembaran-lembaran kertas yang sudah usang. Mengingat-ingat kenangan bersamanya hingga kerutan di dahiku semakin menumpuk. Ya, aku mengingatnya dengan terpaksa. Demi mendiagnosa penyakit rinduku yang sesekali kambuh.
Pernah ia meneleponku tepat tengah malam. Menceritakan indahnya taman kota, memperkenalkan beberapa kawan perempuannya, dari Jepang, India, Mesir. Lantas menyuruhku berbicara dengan ketiganya. Sambil tertawa, bergurau dan bercanda. Nampaknya ia bahagia sekali di sana.
Ternyata kau betul, Laela. Aku terlalu gegabah memaknai cinta kita. Aku terlalu cepat mengambil keputusan tentang keberangkatanmu ke Eropa. Tapi aku punya alasan untuk itu. Kini aku kesepian. Sementara di sana kau banyak bercerita tentangku. Menulis namaku dalam kamus dan di setiap lembaran-lembaran buku harianmu. Kau masih mencintaiku, Laela? Sayang sekali... Kau benar, aku belum siap. Aku memang terlalu banyak bicara cinta. Sedang cintamu benar-benar mulia. Ia teguh. Kau memang menguasai semua topik yang sering kau bicarakan. Kau sempurna. Sedang aku tidak.
Meski berkali-kali kukatakan akan tegar menjalani semuanya. Namun, sekarang aku telah menjalani kematian sebelum aku melihatnya. Persis seperti kataku. Aku tak bisa untuk selalu mengangkat teleponmu, membalas puluhan sms, membuka tumpukan email di komputer atau sekedar membereskan surat-suratmu yang selalu datang tiap minggu.
Aku tak ada beda, layaknya anak-anak sekolahan yang selalu berpikir konyol atas nama perasaan, mengumbar kata cinta, cinta dan cinta setiap pagi dan sore. Tak punya tujuan, apalagi komitmen. Hanyalah pengaruh lukisan lipstik, tatanan rambut dan sesuatu yang lebih hormonal tentunya. Ah, Aku sudah lupa dengan janji kita. Yang kuingat hanya janji bersama perempuan-perempuan yang seringkali menungguiku di terminal, restoran, kampus, tempat hiburan atau bar. Berjalan melewati lorong ke lorong, gang demi gang, mencumbu, memeluk, menggoda, dan merayu. Berpamer kemesraan di depan kawan kost. Bukan untuk memikirkan masa depan kita, cinta sejati, abadi, atau sekedar keteguhan jiwa. Sedang memegang dirimu pun aku tak bisa.
***
Ketukan di pintu rumah membuatku bangkit. Kudapati Pak Badrun, tukang pos yang biasanya mampir di depan pintu tiap minggu itu, berdiri sambil melempar senyumnya. Ia memberikan surat kepadaku. Masih seperti biasa. Ia berlalu dengan sepeda anginnya. Sedang aku masuk kamar tanpa perasaan apapun.
Tiba-tiba bunyi sms mengagetkanku. Dari Andre. Kubaca perlahan.
"Kuharap kau datang ke rumah secepatnya, sore ini Laela akan tiba di Jakarta. Kita sambut kedatangannya. Andre"
"Ya Allah, Laela, kau datang hanya untuk menemuiku?”
Kubuka surat terakhir yang kuterima hari ini. Ya, ia sakit. Sudah parah. Kubuka lagi surat-suratnya yang kusimpan dalam loker. Kubaca semuanya dengan seksama. Ya, ia sudah dua bulan bergelut dengan rindunya, ia benar-benar ingin kembali. Kubuka email, foto-foto kirimannya. Ah, semuanya sudah terlambat. Besok ia akan datang.
"Agaknya inilah yang ku takutkan, Laela,” tak terasa airmataku menetes.
”Aku tak berani melepasmu, tapi aku tak berani berkata jika aku tak mampu.”
Aku sekarang sudah gila. Bahkan lebih dari itu. Kubaca ceritanya satu persatu, cerita harian tentang kuliahnya di Leiden. Cerita tentang indahnya negeri kincir angin. Foto-fotonya di antara rangkaian bunga tulip. Dan tak lupa ceramahnya tentang cinta yang dulu sering membuatku bosan. Aku mempelajarinya seharian. Sorenya, malamnya. Aku masih belajar dari tulisan anehnya itu.
"Rus, Laela sudah sampai di bandara. Kuharap kau cepat datang."
Sekali lagi Andre mengirim sms padaku. Aku masih membaca.
Dan sungguh, kalau saja bukan kakek yang memintanya, semua tak kan seperti ini Laela... Sementara itu, istriku masih menungguiku di pintu kamar dengan perasaan cemburu.
Surabaya, 17 Nopember 2008
Pukul 01.00 WIB
Maud Khan
Perempuan Itu...
Sudah dua bulan kutinggalkan rumah ini. Halamannya mulai kotor dipenuhi dedaunan. Lantainya berdebu. Meski posisi setiap perabotan tak ada yang berubah— sebab kuyakin tak ada seorang pun yang memasuki rumah ini termasuk pencuri—namun tetap saja terlihat berbeda seakan telah bertahun-tahun tak ditempati. Terlalu lama tak dibersihkan karena tak ada yang merawat selama aku pergi. Tapi entahlah, waktu berjalan teramat cepat, mungkin akibat kesibukanku yang tak terbendung. Sementara itu, hingga sekarang aku masih mejadi seorang yang gila dengan pekerjaan. Dulu sebenarnya sempat ada keinginan untuk mencari pembantu, tapi entahlah, kurasa aku masih bisa menangani rumah ini sendiri.Di depan rumah ada sebuah toko yang selalu buka tiap pagi higga larut malam. Toko itu tepat menghadap jalan. Intinya toko itu jelas menghadap rumahku. Seringkali aku duduk di pelataran rumah buat menyaksikan pemandangan luaran yang menurutku kacau tapi menyenangkan.
Tapi ternyata bukan kacau itu rupanya yang membuatku makin betah duduk-duduk di pelataran rumah tiap sore, melainkan seorang gadis penjaga toko yang kiranya tak perlu lagi kuceritakan tentang kecantikannya, saat itu.
Mukanya cerah, rambutnya lurus kemerah-merahan, dan ia tak pernah berpenampilan keterlaluan seperti yang sering dilakukan perempuan seumurnya. Jadi menurutku, dia begitu bersahaja.
Tapi aku bukanlah orang yang pandai mengajak orang buat bicara. Singkatnya, aku bukanlah pemberani buat masalah rayu-merayu atau semacamnya. Meski kadang kurasakan aroma pandangan matanya yang bertemu dengan mataku, tapi aku acuhkan pandangan itu seakan aku hanya tak sengaja memperhatikannya.
Tapi lama-lama aku bosan juga rupanya dengan tingakahku ini, sehingga suatu pagi aku beranikan datang buat membeli barang-barang keperluan kamar mandi. Ah, setidaknya sekadar basa basi. Dan itulah kali pertama aku membeli di tempat itu setelah kira-kira lima bulan aku pindah dari Jakarta.
”Sudah lama kerja di sini?” tanyaku seketika.
”Belum lama,” jawabnya perlahan. Kuperhatikan sekeliling, rupanya belum ada yang datang. Toko masih sepi. Sedang ia masih memandangi kalkulator sambil lalu menghitung-hitung belanjaanku.
”Kamu tinggal di mana?”
”Di situ,” sambil menunjuk ke sebuah gang di balik tikungan. ”tak jauh kok,” katanya pula.
”Hmm, kalau begitu terima kasih, aku masih ada urusan,” kataku, beranjak pergi. Sungguh bukan karena terburu-buru, tapi memang lantaran tak sanggup aku berlama-lama di sana. Seakan ada yang memaksaku untuk segera pulang. Dan hampir selalu itu saja yang terjadi. Selebihnya, aku lebih suka menyapanya saat berangkat kerja, atau saat aku datang dari pekerjaan di sore yang melelahkan. Ya, walau hanya sekadar mengulas senyum dan cukup mengatakan ”mari....” tapi memang begitulah. Ohh, sungguh menggelikan!
***
Sudah dua bulan rumah ini kutinggal. Tentu bukan waktu yang sebentar meninggalkan perempuan penjaga toko yang selama ini kusenangi. Di rumah Badrun, sepupuku yang ada di Malang, memang banyak perkerjaan yang harus diselesaikan. Sehingga tak aneh jika aku harus berlama-lama di kota dingin itu. Tapi bukan itu saja yang membuatnya makin lama.
Lima hari lalu sebelum aku beranjak pulang, Ade, temanku semasa kuliah yang kini tinggal di Solo ternyata sakitnya kambuh. Sudah tiga hari dia tak keluar dari rumah sakit. Jadi dengan sangat terpaksa kusempatkan sejenak menjenguknya walau dia minta ditemani lama-lama. Dan akhirnya aku harus mengalah juga. Dan jika boleh jujur, sebenarnya adik Ade yang berhasil membuatku berhari-hari betah di rumah sakit. Dan memang itulah pusat kelemahanku. Kelemahan yang seringkali dimiliki kebanyakan lelaki.
”Kalau boleh tau, sakit apa kakakmu?” tanyaku ketika itu.
”Aku juga gak tau kak. Sejak pulang kerja dari Surabaya tiba-tiba saja ia tak bangun-bangun dari kamarnya. Nampaknya ia sedang kena penyakit hati.”
”Maksudmu?”
”Biasa, penyakit laki-laki,” katanya sambil tersenyum-senyum ”tapi tak pa kok, bentar lagi juga sembuh. Mungkin dia hanya shock.”
Ternyata benar apa yang dikatakan Rini, ia betul-betul sedang terkena demam cinta. Gadis yang membuat Ade tak berdaya itu kuketahui namanya Astuti. Dia kuliah di Surabaya. Berdasarkan cerita Ade, aku bisa simpulkan bahwa dia adalah perempuan jahanam. Ade yang selama ini sudah setia telah ditinggal kawin seminggu lalu.
Yang membuatku begitu heran, Ade yang selama di Jakarta dikenal sebagai pemburu wanita paling gila rupanya takluk juga ia dibuat Astuti yang lebih gila lagi. Menurut sebagian orang itu karma. Tapi aku tak percaya. Bagiku ini hanya semacam permainan. Dan sebagaimana kebanyakan permainan, kita selalu menjumpai berbagai hal yang kebetulan.
”Sabar...” ujarku, ”orang ganteng sepertimu kan juga tak luput dari ujian?”
Ade hanya diam mendengar perkataanku. Ia masih meringkuk kedinginan yang sama sekali tak kurasakan di ruangan itu.
”Kau sudah punya pacar?” tiba-tiba Ade bertanya.
”Menurutmu?”
”Kau itu tak pantas punya pacar, Lim,” katanya lagi. Aku makin bingung. ”kau tak pantas punya pacar kecuali dia sayang sama kamu.”
”Ah, kau ada-ada saja, De.”
”Betul,” katanya lagi, ”kau itu tampan, baik, berpendidikan, tak pernah bermain perempuan pula.”
”Sudahlah, tak usah banyak memuji,” kataku.
Sejak saat itu aku merasa bahwa memang sudah selayaknya aku mampu menggandeng pasangan. Jangankan pasangan, memberi makan anak bini pun bagiku bukan masalah. Ha, tapi itu kan hanya lelucon saja buat menyenangkan hatiku. Tapi setidaknya membuatku semakin bersemangat.
Sudah dua bulan. Ya, dua bulan aku tak melihat perempuan penjaga toko langganan baruku itu. Perempuan yang membuatku tak perlu jauh-jauh berbelanja. Tapi pagi ini aku belum melihat mukanya barang sekelebat. Aku masih duduk-duduk di depan rumah. Menantikan perempuan penjaga toko yang biasa tersenyum dan menyapu halaman tiap pagi.
Sudah satu jam toko buka. Tap tak juga ia keluar. Barangkali ia sakit. Mungkin. Akhirnya kuberanikan bertanya kepada penjaga yang menurutku belum pernah kulihat sebelumnya.
”Penjaga yang biasanya nunggu di sini kemana mbak ya?”
”Siapa ya?”
”Yang biasa jadi kasir,” kataku lagi.
”Rani apa Tatik?”
Celaka, bahkan namanya pun aku tak tahu. Padahal hari ini aku baru hendak menanyakannya.
”Hmm, saya kurang tahu namanya,”
”Kalau Rani dia hendak kawin,” ungkapnya, ”tuh surat undangannya masih ada. Tapi kalau Tatik dia minggat,” katanya lagi.
”Minggat?” aku mulai heran ”kenapa?”
”Biasa, masalah dengan juragan.” katanya menambahkan, ”juragan di sini agak galak. Entah sudah berapa kali pelayan toko ini dibongkar pasang.” bisiknya.
”Mengapa begitu?”
”Dia tak suka sama pelayan yang suka macam-macam.”
Tiba-tba seorang perempuan paruh baya menghampiri kami. Dari sisi penampilan, aku pastikan dialah yang punya toko. Dan baru sekali ini aku melihatnya. Aku bingung harus memulai darimana pembicaraan ini.
”Ada apa, Ning?” tanya dia pada perempuan yang tadi kuajak bicara.
”Mas yang ini tadi menanyakan Tatik, bu.” katanya sambil menunjuk ke arahku.
”Mengapa dia minggat, Nyonya?” tanyaku memberanikan diri.
”Bukan minggat, tapi dia saya pecat.”
”Dia itu matanya suka melotot kalau ada pemuda-pemuda lewat.” katanya menjelaskan. ”kamu pacarnya?”
Aku terkejut, jangankan pacar, sedang mana Rani dan yang mana Tatik pun aku tak tahu.
”Bbb...bukan. Saya hanya sering lihat dia kerja di sini.” aku masih bingung, ”makanya saya heran waktu dia tak lagi saya lihat.”
”Hati-hati,” katanya pelan mengingatkan, ”kau bisa dijeratnya hanya dengan sekali pandang.”
”Begitukah?”
”Ya, dia itu tak bisa kerja profesional. Keterlaluan. Apalagi kalau malam pas toko ini mau tutup, pasti dia sudah ada yang jemput. Dan selalu saja gantian ’om-om’ yang dibawanya. Terus mau ditaruh di mana muka saya?” tandasnya, ”kalau aku punya anak macam dia, sudah aku bunuh. Amit-amit..”
”Siapa peduli,” pikirku.
Aku mulai tak menikmati pembicaraan. Tanpa banyak cakap aku langsung tinggalkan toko yang mulai sekarang tak kan pernah lagi kumasuki itu. Kurasa ini hanya sebatas sangkaan belaka. Bagaimana tidak?
Sepanjang hari jika aku tak kerja, aku kerap memperhatikan perempuan penjaga toko yang sekarang raib itu. Jika malam kuintip jendela. Dan menurutku tak pernah ada kejadian-kejadian aneh. Aku yakin betul jika gadis yang selama ini kuketahui adalah perempuan baik-baik. Apa yang kumaksud itu Rani? Tapi aku tak melihat cincin tunangan di jarinya.
Aku mulai ragu dengan yang diucapkan ibu pemilik toko itu. Kuambil motor, dan kucoba mencari-cari letak tinggalnya. Kususuri gang demi gang yang menganga setelah tikungan pertama di dekat jembatan. Tapi tak juga kutemukan. Aku heran, bagaimana bisa seorang perempuan lugu yang pernah kulihat ternyata membohongiku.
Kutatap jam tangan, jam duabelas siang. Sudah dua jam rupanya aku hilir mudik bagai orang yang tak tahu jalan. Saat aku mulai istirahat di pinggir jalan tepat disamping pos jaga satpam, tiba-tiba sebuah sedan warna silver berhenti tepat di depanku.
”Hai..” sapanya. Rupanya perempuan penjaga toko itu. Aku terkejut bukan main.
Seorang yang sudah agak tua dan duduk di sebelahnya membuatku lebih kaget lagi. Jelas, jikalau dia bukan perempuan itu mengapa aku harus kaget dua kali?
”Ngapain di situ?” tanyanya lagi sambil keluar dari mobil. Aku menjadi semakin tak bisa berkata apa-apa. Hilang sudah rencana besarku buat mencarinya. Toh tanpa diburu dia sudah muncul bersama bodyguard yang tak pernah aku duga.
”Biasa, cari angin,” jawabku sekenanya.
”Kemana saja lama gak lihat? kirain sudah pindah,” katanya.
”Baru dari luar kota, kamu darimana?”
”Baru saja pulang kuliah.”
”Kuliah?” pikirku. Bukankah dia sering jaga toko seharian?
”Tadi sempat mampir ke tokoku belum?” katanya basa basi, ”lumayan, banyak diskon lho sekarang?”
”Baru saja, aku malah ketemu sama yang punya toko.” kataku yang mulai bertanya-tanya dalam hati, ada hubungan apa dia dengan ’ibu toko’ tadi?
”Oo, jadi habis ketemu mama, gimana? Dia galak nggak? Haha, ayo mampir ke rumah. Tuh dia rumahku,” sambil menunjuk sebuah rumah berpagar putih.
Sialan, ternyata selama ini aku salah mengerti. Seorang penjaga toko yang sering kudapati menghitung belanjaan, rupanya dia putri dari seorang nomor satu di toko itu. Dan tanpa ditanya, aku sudah tahu bahwa pria yang di sampingnya itu adalah sopir pribadinya. Setidaknya sopir keluarga besarnya. Cakap betul dia.
”Gimana? Mau maen gak?”
”Oh, ya. Lain kali saja,” kataku. Percakapanpun berakhir sampai di situ.
Seketika berlalulah kedua orang itu memasuki pagar rumah berhalaman luas itu. Kuperhatikan seorang penjaga membukakan gerbang dan menutupnya kembali. Tapi yang masih membuatku gerah, betapa baiknya dia. Membantu menjaga toko seharian demi memenuhi pekerjaan ibunya. Ah, penilaianku ternyata tetap tak beranjak. Ia masih merupakan orang yang bersahaja di mataku.
***
Malam ini aku sudah menunggunya di taman tempat anak-anak bermain tiap sorenya. Malam ini sepi, tak ada orang berlalu-lalang. Mungkin malas, sebab udara memang cukup dingin. Kecuali dihabiskan buat menghangatkan badan, jarang sekali mereka akan keluar di malam-malam dingin menggigil macam ini.
Belum lima menit, kulihat ia datang dengan dandanan ala kadarnya. Meski begitu tak ada sedikitpun yang kurang pada penampilannya malam ini. Di bawah temaran cahaya lampu yang sedikit redup, kami banyak mengobrol tentang masa lalu, tentang kegemaran masing-masing, juga tentang... ya, keberadaan saat ini.
”Kemana saja dua bulan terakhir?” tanyanya setelah satu jam perbincangan berlalu.
”Menyelesaikan pekerjaan di Malang, terus mampir sebentar ke Solo menemui seorang kawan yang sakit.”
”Sakit?”
”Ya, sakit yang aneh,” jawabku sambil mengernyitkan dahi.
”Berapa lama?”
”Empat sampai lima hari.”
”Kau memang teman yang baik.” katanya memuji.
”Tidak juga,” kataku menyela, ”kau sendiri, ngapain selama dua bulan terakhir?” tanyaku, kulihat ia sedang asyik bermain-main dengan sedotan di mulutnya.
”Banyak,” jawabnya singkat. Kemudian kembali memainkan sedotan di mulutnya. ”Sebulan lalu, aku ketemu seorang yang begitu konyol di salah satu Boutiqe milik tante.”
”Konyol? Maksudnya?”
”Dia berani sekali menggodaku, bahkan sombong sekali dia hendak membeli semua dagangan milik tanteku yang mahal-mahal?”
”Ia sering kesana?”
”Ya, hampir seminggu sekali bahkan.”
”Terus kau biarkan saja dia?”
”Karena jengkel kuajak dia taruhan. Jika mampu membeli lima potong pakaian dari Boutiqe tante, maka dia menang dan boleh mengajakku pacaran. Tapi jika tak bisa, maka dia harus mentraktirku seminggu penuh.”
”Lantas?”
”Dia kalah,” sergahnya, ”aku pikir dia pasti pura-pura tak mampu membelinya, biar bisa traktir aku seminggu penuh. Dan itu benar-benar dia tepati.”
”Ditepati?” aku makin tak percaya.
”Tapi tau nggak di hari terakhir traktirannya itu?” ceritanya semakin bersemangat, ”dia sudah nyiapin surprise buat aku.”
”Terus?”
”Tapi karena aku tak mau kecolongan, maka aku kasih dia surprise duluan. Aku bilang bahwa minggu depan aku hendak kawin. Aku berikan undangan palsu buat dia,” ungkapnya sambil tertawa, ”selesai, dech!” Ia masih tertawa lepas
Dan memang, sebenarnya tanpa ditanya aku sudah sedikit tahu akhir cerita itu. Tapi aku tak mau ingkari, bahwa aku menyukainya. Hanya hingga sekarang aku tak perlu menanyakan siapa namanya. Buatku, itu akan membikin hubungan kita nantinya menjadi renggang. Bahkan hingga sekarang aku masih saja alergi mendengarnya.
Ya, nama yang kuperoleh dari penjaga baru di tokonya sore tadi. Dan aku tak akan menanyakan atau menyebut-nyebutnya. Nama itu, Astuti. Nama yang masih kuanggap sebagai nama ’jahanam’ dalam memoriku.
Surabaya, 30 Mei 2009
Maud Khan
Kau (hanya sebuah cerita)
Hafid masih merancang apa yang ia ingin sampaikan di pikirannya. Di tepi pantai yang jarang dikunjungi, ia duduk menghadap ke laut seakan ada yang dinantinya. Tiga hari ini ia sakit-sakitan. Badannya sedikit lebih kurus daripada biasa. Tapi hari itu telah memaksa ia bangkit. Entahlah, sepertinya kehidupan akan dimulai di sana. Dan memang, dialah yang memilih tempat itu sebagai persinggahan.Hari itu mungkin hari yang menyenangkan, tapi setidaknya memberinya sedikit harapan. Sebagai hari pelepasan, hari penentuan dimana ia akan bahagia atau tersiksa. Dan tentu hari itu akan menjadi hari yang tak terlupakan pula. Pikirnya.
Seminggu lalu, di pinggir jalanan kota yang hiruk pikuk. Dengan seutas senyum dan seuntai kata kosong tak berarti, ia coba melawan ketidakberanian yang menumpuk bagai gundukan tanah liat di tenggorokannya.
“Laela, agaknya sudah lama kita berdiam diri dalam kebohongan yang begitu besar. Bahkan hingga sekarang aku sendiri tak mampu menebak apa yang ada di pikiranmu,” ia coba mengawali pembicaraan.
“Maksudmu?”
“Aku begitu takut tentang persangkaanmu padaku selama ini. Dan tentu aku ragu akan itu, Laela,” ia masih memandangi perempuan di depannya itu dengan perasaan yang campur aduk, “tidakkah kau merasa bahwa sudah begitu lama aku hidup dengan kegundahan?”
“Kegundahan apa yang kau maksud, Hafid?”
“Kegundahan yang selama ini kau buat,”
“Mungkin itu hanya perasaanmu saja,” Laela coba menutupi dirinya, “Kau tak pernah mengerti apa yang aku pikirkan…,”
“Itu karena kamu tak pernah berterus terang, Laela,” Hafid mulai memotong, “kau selalu berbicara tentang ini, tentang itu, tapi tak pernah kau bisa putuskan keduanya, kau selalu membuat alasan untuk mengalihkan semua tentang hubungan kita. Kau tak pernah hiraukan perasaanku. Ya, seperti yang sudah kau ketahui selama ini.”
“Entahlah, aku hanya selalu merasa bingung, Hafid. Maaf…!”
Keduanya terdiam. Tak kuasa Hafid meneruskan pembicaraan yang tak berujung itu. Ia sadar bahwa tak ada guna ia paksakan perasaannya buat seseorang yang tak pernah ia ketahui kedalaman hatinya. Tak pernah ia memegang jiwanya. Merasakan bau mulutnya yang mengeluarkan aroma kasih atau sayang yang begitu tulus ikhlas.
Terakhir kali, dari hubungan yang tak bertaut itu. Mereka bercengkerama, bersendagurau diantara pepohonan pinus yang tegak menjulur ke ubun-ubun langit. Saling memandang satu sama lain, sebagaimana dua orang yang sudah hilang kesadaran akan sekeliling. Tiba-tiba seorang perempuan yang tak begitu jauh umurnya datang menghampiri mereka. Dengan muka sedikit masam, ia mengisyaratkan kepada gadis yang sedang asyik itu bahwa hari sudah sore. Ia harus pulang.
Pemuda itu terdiam. Dan seperti biasa, dalam hatinya ia akan mengutuk habis-habisan tingkah perempuan yang sok arogan itu. Ya, ia bukanlah apa atau siapanya. Tak lebih dari seorang perempuan yang hanya iri, atau… dan entahlah, mungkin hanya seorang yang amat dipercaya keluarganya. Tapi bukankah, menebar muka masam tidaklah patut buat seorang ia?
***
Hafidz masih menghadap ke laut. Tak dapat ia tenangkan gejolak yang menggebu dalam dirinya. Degup jantungnya bergerak kencang. Sudah sejam, ia tak melihat seorang pun muncul. Ia hendak kembali, tapi memperlambat laju kakinya, sambil menatap, kalau-kalau… yang ditunggunya itu akan hadir.
Dan sebagai perjanjian awal yang membingungkan, ia mulai pasrah, bahwa Laela memang tiada cinta akan ia, sekalipun pernah, cinta itu tak lagi tulus. Atau ia sibuk? Ia masih saja membuat pledoi yang sekiranya menguntungkan buatnya. Walau tiada pasti, ia tetap saja meyakini akan cinta itu. Sebab hanya dari sanalah energi hidupnya muncul.
Atau mungkin, ada yang melarangnya datang? Perempuan itu. Tapi bukankah ia tak selalu bersama Laela. Terkecuali saat melabraknya di kebun pinus, perempuan itu hanya sesekali menemani Laela jika ada acara besar atau saat bepergian keluar kota. Namun begitu, bisa saja ia yang membujuk Laela agar tak pernah lagi menemuinya. Ia masih berpikir.
Ia mulai gunakan fikiran sehatnya. Dan meski hanya dengan selembar surat, ia tahu betul. Bahwa pembelaan tak lagi berarti buat dirinya. Ia ingat beberapa potong kata yang ia tulis tiga hari lalu;
…Dan jikalau kau putuskan untuk akhiri semua ini, maka tak perlu kau datang. Karena itu akan membuatku semakin sakit. Cukuplah, ketidakhadiranmu itu sebagai jawaban ‘tidak’ buatku. Walau demikian, aku akan setia menungguimu hingga matahari terbenam, sebagaimana dahulu kita habiskan sekian waktu itu di sana…
Kemudian ia mulai bersemangat. Di kejauhan nampaklah sesosok perempuan yang dinanti-nanti itu. Ia masih mengira-ngira barangkali ia salah terka sebagaimana telah banyak gadis-gadis yang disangkanya Laela tapi lambat laun berubah dan benar-benar menipu penglihatannya.
Ia perhatikan gadis yang berjalan ke arahnya itu. Dan… kali ini ia tak salah. Laela yang ditunggunya telah tiba dengan muka yang begitu rupawan. Ia lena seakan kejatuhan mutiara untuk kali kedua semenjak ia menjumpainya kali pertama di pelataran balai desa. Senang hatinya tak dapat dikira. Cinta yang dinantinya telah di depan mata.
Keduanya masih berdiri berjauhan. Hafid memandangi gadis itu dengan muka yang sedikit yakin namun penuh kecemasan. Memandang wajahnya, hilang sudah susunan-susunan kalimat yang ia bangun berhari-hari. Ia memang tak pandai membujuk. Ia pandai berkata-kata, tapi tidak di depannya. Semuanya menjadi hambar dan kosong. Hening pada menit-menit awal. Dan tak ada yang berani memecah kebuntuan itu.
Akhirnya Hafid mengajaknya duduk, keduanya menghadapi luasnya laut. Tak kuasa untuk saling pandang, dan masih menikmati deburan ombak di pantai. Alangkah teduhnya…
“Rasanya tak pantas jika kau yang harus mengawali,” Hafid coba melawan ketidakberanian dalam dirinya.
“Kau tak perlu membuang-buang waktumu, Hafid. Kau yang mengajakku kemari, bukan?”
“Ya, dan kau pasti datang,” Hafid coba menghibur dirinya. “Setidaknya menunjukkan jika kau memiliki perasaan kepadaku.”
“Perasaan itu…..” jawab Laela, “tak perlu lagi kau sebut-sebut.”
“Lalu kau sebut itu apa? Selama ini kita selalu habiskan waktu bersama. Tak ada laki-laki yang mendekatimu, bukan? Semua orang tahu bahwa kita ini…,” matanya masih sayu memandangi ombak, pupus perkataannya, seakan anak panah yang ia lepaskan melewati sasaran. ”Aku tau betul, aku yang mencintaimu lebih dulu. Kau pernah katakan, bahwa kita akan jalani apa adanya… dan kurasa telah sekian tahun lamanya...”
“Tapi aku rasa itu bukan cinta, Hafid. Aku takut dengan itu. Mungkin itu hanyalah khayalan kita…, atau perasaanmu yang berlebih, yang aku sendiri tak bisa membendungnya.”
Ucapan Laela benar-benar menusuk ulu hatinya. Tak dapat ia sangka jika kedatangannya itu hanyalah penyampaian sebuah ketakutan. Takut? Bukankah dengan datang kesana, sudah mengisyaratkan bahwa dirinya masih menyimpan rasa?
“Ah, kupikir kau mencintaiku, Laela…” ia mulai mengeluh.
“Maafkan aku…. aku tak pernah sadar jika terlalu memberikan harapan buatmu. Kadang aku merindukanmu, tapi terkadang aku sadar jika kerinduan itu hanya sebatas perasaan yang tak ada lebihnya sedikit jua. Kau lelaki baik, mungkin itulah yang membuatmu lebih dimataku daripada laki-laki lain. Tapi bukan berarti aku kemudian akan… !!” Laela masih ragu dengan apa yang dikatakannya, “anggaplah kebersamaan kita selama ini sebagai sesuatu yang biasa terjadi dalam pertemanan.”
“Betapapun alasanmu itu… entah karena sabab-musabab lain yang tak pernah kita harapkan. Aku tak tahu akan jadi apa diri ini,” ia terdiam sejenak, “walau demikian, tak ada alasan buatku untuk berhenti mencintaimu.”
Hafid terdiam. Karam rasanya bumi ini. Walau ia melihat air, menatap ombak. Tapi tak ada apapun yang melintas dikelopak matanya, selain tatapan kosong. Ingin sekali ia luapkan semua kemarahan dalam dadanya. Tapi kemudian ia sadar, jika selama ini ia terlalu egois. Mungkin ia sendiri yang terlalu yakin. Atau ia sengaja dipermainkan sebagai yang terkorbankan dalam lakon tak berujung ini. Ia coba mencari titik celah dari keputusasaannya. Ah, Jika saja ia ketahui bahwa terdapat sesuatu yang menghalangi, dan dengan sedikit keyakinan akan cinta yang ia temui.
Ia tahu betul jika Haji Djalal tak kan pernah secara cuma-cuma menerima dirinya sebagai seorang yang akan mempersunting anak perempuannya itu, lantaran hidupnya yang tak berharta atau berpangkat. Tapi itu tak bisa menjadi pembelaan, sedang mengambil hati putrinya pun ia tiada sanggup. Dibuat ia sanggup pun, ia harus pula melawan sanak kerabat lain yang ingin mempertemu-jodohkan anak lelaki mereka dengan putri sematawayang itu.
Tetapi apalah yang dinantinya? Bukan berjodoh atau bertunangan. Tetapi hanya kejujuran akan cinta itu yang ia harap. Sebab kejujuran akan menimbulkan keberanian. Tapi entahlah, sedang tiga bulan ini Laela selalu berusaha menjauhinya. Tak pernah ada alasan. Mereka tak pernah bisa bersua, walau sebentar.
“Kemana saja kau minggu-minggu terakhir ini?” Laela coba meredakan suasana.
“Jika pun engkau mengetahuinya, nampaknya tak akan membuat alasan untuk mencintaiku,” ia menarik nafas panjang.
“Mengapa kau berkata demikian?”
“Entahlah. Sepertinya terlalu jauh aku melangkahkan kaki dalam babak ini. Tak ada yang kukerjakan sedikitpun, selain kesia-siaan buat memenuhi hasrat cintaku ini…” Hafid tepekur. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil. Ia masih memegangnya. “Kau lihat. Aku mendapatkannya dengan tetesan keringatku di pagi sore. Sebab kuyakin kau akan menyukainya. Tapi… tampaknya percuma,” ia tertawa kecil sebagai kekecewaannya yang dalam.
Laela semakin bingung. Tak dapat ia sembunyikan rasa harunya melihat benda itu. Ya, sebuah cincin. Ia takjub. Hanya saja rasa takjub itu sebatas timbul bagai kilatan yang akhirnya meluluhlantakkan perasaannya. Kemudian ia menunduk lesu, memandangi buih-buih pasir yang sesekali tergerus ombak. “Sebegitu jauhkah, Hafid?” pikirnya.
Selama ini tak pernah ia berterus terang mengenai keadaan dirinya. Ia mulai merasa bersalah. Mungkin buatnya, membikin Hafid senang, atau menghargai perasaan cinta dia, baginya sudah cukup. Tapi rupanya Hafid menganggapnya sebagai suatu jawaban ‘ya’ dalam memorinya. Ya, untuk mengarungi hidup bersama. Ya, buat menghabiskan sisa-sisa hidup dalam kebahagiaan. Ya, ia sendiri terlalu jauh melangkah.
Ingin ia luruskan perasaannya pada laki-laki yang mencintainya itu. Tapi, ia tak mampu memutuskan bahwa dirinya juga cinta. Dan walau ia buat dirinya cinta, secinta-cintanya, sebesar apapun cinta itu. Maka ia takut, jika sekali-kali cinta itu akan melukainya dan melukai Hafid pula. Sebab ia baru berikatan. Ikatan yang pantang ia rusak hanya karena cinta seorang Hafid. Ikatan yang ia buat dengan kesadaran penuh, tanpa paksaan siapapun kecuali dirinya sendiri. Ikatan yang ia teguhkan, walau ia tahu wajah Hafid selalu hadir di matanya.
Hafid, ia telah banyak memberikan kesejukan, telah banyak menghibur dirinya disaat sedih merajau. Telah banyak memberikan waktu dari separuh hidupnya yang demikian terbelenggu oleh jaman. Ia menangis, ia menyesal.
“Laela…” panggil Hafid lirih, “sudah, tak usah kau risaukan itu. Aku rasa semua sudah cukup. Tak perlu ada yang dipikirkan lagi. Aku juga tak ingin salahkan kau jika memang tiada mencintaiku. Hanya yang kusesalkan, kau tak pernah katakan itu sebelumnya.”
“Entahlah, aku benar-benar merasa bodoh,” ia masih menangis.
Sungguhpun, Hafid merasa bahwa semua sudah tamat. Tak ada harapan lagi. Skenario yang dibuatnya malam demi malam harus terhenti pada bagian ini. Ia marah. Ia sedih. Tapi ia juga merasa lega. Hanya ia tak ingin semua berakhir seperti ini. Sedikitnya, ia ingin mengakhiri hari yang melelahkan ini dengan beribu kenangan. Dibuat benci pun, ia tak bisa. Terlalu besar cinta itu sehingga tak ada tempat buat kebencian ataupun dendam. Apalagi cintanya begitu tulus suci.
“Aku hanya ingin membuat diriku begitu yakin dengan perkataanmu.”
“Maksudmu?”
“Aku belum melihat kejujuran.”
“Kau meragukanku?”
“Coba kau pegang ini,” Hafid menyodorkan cincin itu.
“Tidak!”
“Kau pegang saja!” sergahnya pula, “tak apa, tak usah kau pakai.”
Dengan tangan gemetar, diambillah oleh Laela cincin itu. Dan benar, benda itu membuatnya begitu lena. Ada rasa yang menyelinap di sela-sela pikirannya. Cincin mungil bermata merah, tak usah dikira beraga harganya. Matanya masih berkaca-kaca, tak percaya dengan apa yang dipegangnya. Ia semakin menyesal. Hafid menangkap perasaan itu.
“Laela,” kata Hafid, “aku ingin kau meyakinkanku dengan begitu jelas. Kau tak perlu tahu bagaimana aku berjuang mendapatkan cincin itu. Itu hanya setitik dari sekian besarnya rasa cinta ini buatmu. Aku juga tak ingin nyatakan bahwa aku harus miliki dirimu jika memang kau cinta. Aku tak kan paksakan cinta ini sebab aku memang tak pantas, cukuplah ungkapan cinta darimu itu akan menjadi obat buatku di siang malam. Karena tak ada obat yang lebih mujarab bagi seorang pencinta sepertiku, kecuali diriku tahu bahwa kau benar-benar mencintaiku. Walau tak bisa milikimu. Tapi jika kau tak cinta, maka yakinkan aku. Bantulah diriku yang lemah ini untuk tak lagi memikirkanmu.”
“Lalu, apa yang harus kulakukan?”
“Aku ingin, kau simpan benda itu, jika memang kau menaruh perasaan yang sama kepadaku. Atau, kau lemparkan cincin itu ke dasar laut, sebab kuingin engkaulah orang terakhir yang memegang cincin tersebut. Apapun akhirnya.”
Lama Laela termenung. Terlalu lemah jiwanya. Goyah perasaannya diantara khayal dan nyata. Jika menyimpannya, mengapa menjadi suatu keharusan? Atau membuangnya, bukankah percuma? Dan akan menyakitinya pula. Terlalu dalam perasaan hatinya. Nampaknya ia tiada sanggup melakukan kedua pilihan itu.
“Haruskah kulakukan diantara pilihan itu?” tanya Laela di tengah kebimbangannya, “tak adakah pilihan lain?”
“Aku hanya menginginkan kepastian, Laela. Buanglah rasa takutmu, buanglah apapun yang sekarang membelenggu perasaanmu! Ungkapkan apa yang ada di hatimu!”
“Tapi haruskah aku…”
“Cincin itu tak berarti apa-apa lagi mataku, Laela!”
“Tapi aku tak mungkin membuangnya, Hafid. Ini hakmu!”
“Itu hakmu sekarang. Semua keputusan ada padamu.”
“Tidak!”
“Lakukanlah!”
“Aku tak bisa!”
Laela berusaha kembalikan cincin itu dengan paksa. Hafid menolaknya. Ia tetap bersikeras pada perkmintaannya. Mereka saling menolak dan tak ingin memegangnya. Walau begitu, akhirnya sampai pula benda itu di tangan Hafid.
“Aku tak kuasa melakukannya,” Laela menangis.
“Kau merasa kasihan? Seberapa besarkah rasa kasihanmu itu buatku?” tanya Hafid heran.
“Sebenarnya apa maumu? apakah dengan begitu semuanya menjadi lebih baik buat dirimu? kau egois!”
“Kau bertanya apa mauku? aku tahu betul apa maumu, Laela…“ Tiba-tiba, “Aaaaaagggghh….” Hafid melempar cincin itu ketengah lautan. Diringi gemuruh riuh ombak yang merawankan hati dan jiwanya. Matanya memandang jauh. Lenyap sudah. Ia hempaskan semua beban itu tepat di penghujung sore. Ia kecewa.
Laela terkejut bukan kepalang, tak disangkanya Hafid akan melakukan pekerjaan itu dengan tangannya sendiri. Ia menatap Hafid dengan persangkaan yang aneh. Lama ia perhatikan laki-laki yang pernah singgah di kehidupannya itu. Sambil bertanya-tanya, mungkin ia sudah….
“Kau ini gila!!” teriaknya sambil memukul-mukul ke arah Hafid, “kau gila, gila gilaaa!!!!”
“Ya, aku memang gila!!!” jawab Hafid dengan suaranya yang tak kalah lantang, “tapi aku tak ingin hidup dengan kemunafikan dan kepalsuan!!”
“Ya aku tahu itu!!” tangannya masih mendorong-dorong tubuh Hafid yang sudah limbung.
“Lantas??? apa aku salah?” teriak Hafid.
“Tapi mengapa kau membuangnya???” mereka mulai saling teriak.
“Karena kau tak pernah berani memutuskan!!!”
“Karena kau berikan aku pilihan yang bodoh!!!”
“Itu karena kau terlalu lemah!!”
“Tapi aku memang tak berniat membuangnya, Hafid!!!”
“Itu pun karena kau tak berani melakukannya sendiri!!!”
“Kau jahat, Hafid! Kau jahat!!!”
Laela mulai pergi meninggalkan Hafid yang…, entahlah! Ia tiada lagi mengenal pemuda itu. Dan sekarang, barulah ia merasa kehilangan seseorang.
“Ya, aku memang jahat!!! Itulah sebabnya kau tak pernah pantas buatku. Kau memang perempuan terbaik yang pernah kutemui…. Kau perempuan terbaik!!!” teriaknya sambil menunjuk ke arah Laela yang telah lalu.
Laela mempercepat laju jalannya. Ia tak ingin menoleh kebelakang. Hafid masih mengikutinya.
“Apa kau bilang?? Aku jahat??? Hah?? Kau bilang aku jahat? Kau yang jahat, Laela! Kau….. perempuan terburuk yang pernah kukenal. Kau….??” ia berhenti sejenak, “tapi aku akan selalu mendoakanmu Laela. Sebab aku cinta kau. Walau kau jahat. Aku sadar sekarang jika aku telah mencintai perempuan yang salah selama bertahun-tahun. Terlalu lama kau bohongi aku!!! Laela….kau dengar aku??”
Laela masih tak menoleh. Ia larut dalam tangis. Semakin menjauh dari pandangan mata Hafid.
Surabaya, 15 September 2009
Diberdayakan oleh Blogger.
Trending now
-
oleh: Mahfud Bagi pembelajar sejarah, terutama yang beragama Islam (dan lebih khusus lagi bagi para guru sejarah pemula) topik manusia purba...
-
Berdirinya Budi Utomo pada 1908, Pencetusan Sumpah Pemuda 1928, serta Peristiwa Reformasi tahun 1998 Membuktikan Bahwa Peran Mahasiswa Tidak...
-
UNTUKMU YANG JAUH DI SANA saat kutatapkan penglihatan ini bintang-bintang berkilauan gemerlapnya, menghiasi malam yang dilanda ...
-
Salah satu kebiasaan buruk saya yang hingga sekarang sulit dihilangkan adalah melamun. Bila ada waktu kosong di sela-sela pekerjaan, maka ta...
-
Aku Kau ingin tau siapa aku? Aku adalah seorang yang akrab bersama malam Dengan sebatang rokok yang menempel di bibir keringku ...
Popular Posts
-
oleh: Mahfud* “Sepanjang sejarah, Iran dikenal sebagai bangsa besar yang mampu menguasai wilayah Timur Tengah−termasuk di dalamnya Babylonia...
-
Pemuda itu, namanya Halim. Wajahnya biasa saja, tapi matanya sering menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Bila kau cukup lama duduk be...
-
UNTUKMU YANG JAUH DI SANA saat kutatapkan penglihatan ini bintang-bintang berkilauan gemerlapnya, menghiasi malam yang dilanda ...











