Latest blog posts

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Cina dan Perangkap Kelebihan Produksi


Oleh: Mahfud


Selama hampir tiga dekade terakhir, Cina menjelma menjadi pusat manufaktur dunia. Dari ponsel, elektronik rumah tangga, tekstil, hingga kendaraan dan teknologi energi baru, hampir tidak ada sudut pasar global yang tidak disentuh produk-produk Cina. Keunggulan ini dibangun dari skala produksi raksasa, investasi besar-besaran, integrasi rantai pasok yang efisien, serta era globalisasi yang membuka pasar seluas-luasnya. Namun, justru dari keberhasilan inilah muncul persoalan yang kini semakin sulit disembunyikan, yairtu kelebihan kapasitas produksi di tengah dunia yang tidak lagi sepenuhnya mau membeli.


Masalahnya bukan karena Cina kehilangan kemampuan teknologi atau daya produksi. Justru sebaliknya. Kapasitas manufaktur Cina berkembang jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan permintaan global. Di banyak sektor pabrik-pabrik dibangun dengan asumsi bahwa pasar dunia akan terus menyerap barang dalam jumlah besar seperti dua puluh tahun lalu. Padahal, lanskap global telah berubah. Globalisasi yang dulu memberi ruang luas bagi ekspor kini bergeser menuju proteksionisme, subsidi industri domestik, dan nasionalisme ekonomi.


Yang menarik, negara-negara lain belajar cepat dari pengalaman Cina. Banyak negara yang dulu hanya menjadi pasar, kini berusaha menjadi produsen. India adalah contoh paling jelas. Ia sengaja membangun industri nasional, melindungi pasar dalam negeri, dan tidak ragu menutup diri dari impor jika dianggap mengancam kemandirian. Vietnam dan Thailand, meski menerima investasi asing, perlahan membentuk basis manufaktur sendiri. Korea dan Jepang sudah lama melindungi industrinya. Bahkan negara-negara kecil sekalipun mulai berpikir bahwa ketergantungan jangka panjang pada barang impor adalah risiko strategis.


Di titik ini, keunggulan lama Cina mulai tergerus. Barang-barang yang dahulu hanya bisa diproduksi di Cina dengan harga murah kini bisa dibuat di banyak tempat. Ponsel, misalnya, tidak lagi eksklusif. Perakitan dan produksi komponen kini tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Mobil dan kendaraan listrik juga bukan monopoli. Hampir semua negara industri besar kini ingin punya pabrik sendiri. Artinya, kelebihan produksi Cina tidak lagi otomatis menemukan pasar.


Sejak Cina mengalihkan pandangan ke negara berkembang seperti Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. Ternyata pasar-pasar ini memiliki keterbatasan nyata. Daya beli tidak sebesar Eropa atau Amerika Serikat, infrastruktur tidak selalu mendukung, dan dalam kasus Amerika Latin, kedekatan geografis serta hubungan ekonomi dengan AS dan Kanada justru membuat ruang Cina tidak seluas yang dibayangkan. Pasar ini penting, tetapi tidak cukup untuk menyerap limpahan kapasitas industri Cina.


Di sisi lain, tekanan juga datang dari dalam negeri. Melemahnya sektor properti menggerus konsumsi domestik, padahal konsumsi seharusnya menjadi penyeimbang ketika ekspor melambat. Rumah tangga menjadi lebih berhati-hati, investasi swasta tertahan, dan negara harus terus menopang industri melalui subsidi. Dalam kondisi seperti ini, kelebihan pabrik bukan lagi aset, melainkan beban yang menekan harga, menurunkan margin, dan berpotensi memicu pengangguran terselubung.


Apakah ini berarti Cina akan runtuh? Tidak. Tetapi Cina tampaknya memasuki fase sulit yang panjang. Ini bukan krisis yang dramatis, melainkan krisis struktural yang berjalan perlahan. Dunia tidak lagi membutuhkan satu “pabrik raksasa”, karena hampir semua negara kini ingin menjadi produsen bagi dirinya sendiri. Dalam dunia yang semakin sempit dan protektif, keunggulan produksi massal berubah menjadi tantangan besar, bagaimana menjual ketika semua orang juga ingin memproduksi.


Terakhir, persoalan Cina bukan terletak pada kurangnya teknologi atau modal, melainkan pada ketidakseimbangan antara kapasitas dan permintaan global. Ketika semakin banyak negara kecil maupun besar memilih jalan kemandirian, kelebihan produksi tak lagi bisa diselesaikan hanya dengan ekspor. Di sinilah Cina berada sekarang. Bukan di ambang kehancuran, tetapi di persimpangan sejarah ekonominya sendiri.

DPR, Parpol, dan Masyarakat: Tiga Pilar yang Harus Berubah

Oleh: Mahfud

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sudah lama mendapat label sebagai lembaga yang tidak populer. Survei demi survei menempatkan DPR di posisi bawah soal kepercayaan publik. Banyak orang melihat DPR hanya sibuk rapat, lambat bekerja, dan sering terlibat kasus korupsi. Bahkan ketika ada anggota yang rajin, kerja itu jarang terlihat langsung oleh masyarakat.

Secara kolektif anggota DPR juga harus sadar bahwa kerja mereka selalu disorot masyarakat sama seperti kerja eksekutif. Bagi kebanyakan orang, DPR dan pemerintah dianggap sama-sama “pejabat” yang punya tanggung jawab langsung terhadap rakyat. Karena itu, tidak heran jika publik sering membandingkan kinerja DPR dengan eksekutif yang jelas terlihat hasilnya di lapangan. Sehingga DPR pun dituntut memberi kontribusi yang terasa bukan sekedar “tukang stempel” kebijakan pemerintah.

Fungsi legislasi, pengawasan, dan anggaran harus dijalankan serius. Kalau tiga fungsi ini diperkuat, publik akan melihat DPR punya arti. Transparansi dan integritas menjadi kunci agar kepercayaan bisa kembali dibangun.

Demonstrasi yang terjadi belakangan ini seharusnya menjadi alarm keras bagi DPR sebagai lembaga. Suara protes di jalanan menunjukkan ada jarak yang makin lebar antara wakil rakyat dengan rakyat yang mereka wakili. Ketidakpuasan publik yang tumpah dalam bentuk aksi massa bukan hanya kritik sesaat, tetapi tanda bahwa DPR perlu berbenah serius. Jika aspirasi masyarakat terus diabaikan, maka legitimasi DPR akan semakin runtuh, dan lembaga ini hanya akan semakin kehilangan wibawa di mata publik.

Partai Politik dan Kaderisasi

Tanggung jawab perbaikan DPR tidak bisa hanya dibebankan pada anggota yang sudah terpilih. Partai politik adalah pintu masuk utama. Masalahnya, selama ini partai hanya sibuk berburu kursi. Kualitas kader sering terabaikan. Yang penting populer, punya modal besar dan bisa menang, Cukup.

Hadirnya wajah baru DPR yang berasal dari kalangan artis dan publik figur tentu sah-sah saja, tapi publik tahu betul: menjadi terkenal tidak otomatis membuat seseorang siap mengurus legislasi. Di mana arena DPR akhirnya hanya menjadi arena belajar atau menghabiskan waktu untuk adaptasi. Sementara itu, politisi berpengalaman atau ahli kebijakan justru sulit bersaing atau terlempar dari persaingan.

Pemilu 2024 memberi gambaran jelas bagaimana partai-partai politik berebut kursi di DPR dengan segala cara. Persaingan berlangsung keras, penuh intrik, dan tidak sedikit yang memakai cara-cara kotor seperti politik uang serta kampanye hitam. Situasi ini bahkan disebut sebagian pengamat sebagai salah satu yang terburuk dibanding pemilu-pemilu sebelumnya, karena orientasi partai benar-benar sempit: bukan kualitas wakil rakyat, melainkan semata-mata jumlah kursi di Senayan.

Partai politik sebenarnya punya modal besar berupa jejaring yang tersebar dari tingkat desa hingga pusat. Dengan jaringan seluas itu, seharusnya partai mampu menyaring dan mengkader orang-orang berkualitas, bukan sekadar figur yang populer atau bermodal logistik besar. Memang prosesnya tidak instan, tetapi kalau tidak dimulai sejak sekarang, partai akan terus terjebak pada pola lama: mengusung calon instan demi mengejar kursi, lalu sibuk berkilah saat kadernya terjebak korupsi. Dengan kaderisasi jangka panjang, partai bisa melahirkan politisi yang betul-betul layak dipercaya rakyat bukan sekedar DPR yang penuh wajah populer tapi minim gagasan.

Masyarakat dan Politik Uang

Tidak adil juga kalau hanya DPR dan partai yang diminta berubah. Masyarakat sebagai pemilih juga punya andil besar. Survei menunjukkan bahwa politik uang masih kuat. Ada yang mengaku menerima uang atau sembako dari calon, dan memilih calon itu. Tidak sedikit calon pemilih menerima uang dari beberapa caleg, sehingga ia secara rasional akan memilih uang paling besar atau caleg yang disukainya. Praktik ini membuat politik kita sulit sehat. Selama uang bisa membeli suara, calon berkualitas akan kalah oleh calon bermodal.

Celakanya, caleg-caleg bermodal ini tahu bahwa sekurang-kurangnya separuh dari modal yang ia gelontorkan akan menguap di timses atau para calon pemilihnya. Budaya “tilep” ini mengharuskan seorang calon legislatif harus menyiapkan minimal 2-3 kali modal untuk bisa memenangkan pertarungan menuju senayan ini.

Jadi, mari kita sudahi menganggap pemilu sebagai pesta lima tahunan untuk mencari uang cepat. Pemilu adalah kesempatan memilih wakil rakyat yang benar-benar bisa memperjuangkan kepentingan bersama. Kalau pemilih hanya melihat siapa yang memberi uang atau siapa yang populer, maka wajah DPR akan selalu sama, penuh patronase dan pragmatisme.

Masyarakat harus lebih berani menolak politik uang. Patronase berbasis tokoh lokal juga harus dipertanyakan. Jangan lagi memilih karena tekanan atau kedekatan pribadi. Pilihlah karena kualitas, gagasan, dan rekam jejak.

Perubahan DPR tidak mungkin terjadi kalau hanya menunggu kesadaran anggota DPR sendiri. Partai politik harus sungguh-sungguh menyeleksi kader terbaik, dan masyarakat harus kritis dalam memilih. Kalau tiga pilar ini bergerak bersama, DPR yang sadar diri, partai yang serius, dan masyarakat yang cerdas, barulah demokrasi kita bisa sehat.

Kalau tidak, lima tahun ke depan akan sama saja, DPR tetap dianggap lembaga yang tidak dipercaya, partai terus pragmatis, dan rakyat kembali kecewa.

Celakanya, caleg-caleg bermodal ini tahu bahwa sekurang-kurangnya separuh dari modal yang ia gelontorkan akan menguap di timses atau para calon pemilihnya. Budaya “tilep” ini mengharuskan seorang calon legislatif harus menyiapkan minimal 2-3 kali modal untuk bisa memenangkan pertarunga

Bekas Merah (Cerpen)

Pemuda itu, namanya Halim. Wajahnya biasa saja, tapi matanya sering menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Bila kau cukup lama duduk bersamanya, dalam diam yang cukup panjang, siapapa pun akan mulai merasakan hawa yang aneh: seperti kabut yang tak tebal, tapi dingin, menyelinap pelan-pelan ke pori-porimu. Bukan karena ia pendiam, bukan pula karena ia banyak berpikir. Tapi karena ada yang menggantung dalam dirinya, seperti kerikil yang tertinggal di dasar cangkir kecil, tapi cukup mengganggu tiap teguk hidupnya.

Ia kuliah di fakultas hukum. Itu bukan pilihannya, tetapi kehendak ayahnya. Ayah yang, sejak Halim kecil, lebih sering diam ketimbang bicara. Sehari-hari ia bekerja di sawah, membawa cangkul, menanam padi, menggiring bebek. Bila ia pulang, tak ada cerita. Hanya rokok yang dibakar perlahan, lalu habis dalam senyap.

Mereka tinggal di sebuah dusun kecil yang seperti tak pernah berubah sejak masa penjajahan. Pohon randu masih berdiri di halaman, kandang ayam tak pernah kosong dari bau kotoran, dan radio tua di sudut rumah hanya sebagai pajangan, rusak, tapi sudah puluhan tahun tetap di situ, seperti ada berita yang masih ditunggu. Di dinding tergantung foto hitam putih: seorang lelaki kurus berpeci, berdiri kaku di samping sepeda onthel. Itulah kakeknya. Lelaki yang lenyap satu malam, dijemput sekelompok tentara dan orang-orang kampung yang sedang marah, tanpa surat, tanpa kata perpisahan, tanpa nisan.

Halim tahu kisah itu sejak menginjak remaja. Dari bibir tetua kampung yang berbicara pelan dan berputar-putar, seolah takut udara bisa jadi saksi. Katanya, kakeknya dulu “orang partai.” Entah partai apa. Zaman itu, orang bisa diseret hanya karena ikut rapat RT atau menyimpan koran salah terbitan. Yang jelas, suatu malam kira-kira di bulan Desember, truk tentara datang, kakeknya keluar rumah, lalu dibawa. Sejak itu, tak ada jejak. Hilang. Menguap.

Ayahnya, yang saat itu baru delapan tahun, menyaksikan sendiri peristiwa itu. Tapi ia tidak pernah bercerita banyak. Ia menanamnya dalam dada, seperti menanam benih yang tak diinginkan, tapi terus tumbuh. Keheningan ayah, lama-lama, menjadi warisan yang juga tumbuh pada Halim. Diam itu menular, seperti penyakit yang tak diobati, lalu menjalar pelan-pelan ke generasi berikutnya.

Namun suatu hari, ketika Halim lulus SMA, ayahnya berkata lirih, “Kuliah, Lim. Kau harus kuliah.”

Itu saja. Tanpa penjelasan. Tapi Halim tahu, dalam kalimat pendek itu ada harapan yang terlalu lama dikubur. Mungkin itulah bentuk perlawanan ayahnya terhadap waktu yang mencuri bapaknya. Mungkin ia ingin Halim jadi orang, sebagaimana bapaknya tak sempat jadi siapa-siapa.

Dan Halim pun kuliah. Ia belajar hukum. Ia tahu, hukum tak bisa membawanya menemukan kubur kakeknya, tapi mungkin bisa membuatnya mengerti kenapa negeri ini bisa sekejam itu terhadap rakyatnya sendiri. Ia membaca undang-undang, pasal-pasal, dan sejarah yang dibungkus seperti dongeng hitam-putih. Tapi tiap kali sampai ke tahun 1965, hatinya tercekat.

Setiap tanggal satu Oktober, ketakutan yang tak berwujud menyelinap lagi ke tubuhnya. Ia tidak hidup di zaman ketika film propaganda ditonton wajib di lorong-lorong gelap, ketika kata “komunis” lebih mematikan dari peluru. Tapi bayangannya tetap terasa. Seperti tangan tua yang menggenggam pergelangan kaki, menahan langkah, walau tak kelihatan.

Pernah, dalam diskusi kelas, temannya berkata enteng, “Ah, soal PKI itu sudah selesai. Itu cerita lama.”

Halim hanya diam. Tapi dalam dadanya ada sesuatu yang meletup.

“Tidak,” katanya dalam hati. “Belum selesai. Karena kami masih hidup dengan yang hilang itu. Dengan nisan yang tak ada. Dengan cerita yang tak lengkap.”

Kadang Halim membayangkan, kakeknya masih hidup entah di mana, mungkin di balik semak yang tak dikenal, berjalan tertatih menembus pagi yang dingin, menggigil di balik baju kumal sambil menahan perut yang kosong. Ia membayangkan tubuh renta itu dipaksa bekerja, menggali tanah, memanggul batu, atau sekadar menyapu halaman yang bukan miliknya. Apakah kakeknya pernah tertawa? atau paling tidak tersenyum?

Lalu dalam kekalutan itu ia seperti melihat kakeknya keluar dari semak. Pelan, sambil menyeret-nyeret kakinya, matanya sembunyi-sembunyi melihat sekeliling. Ia menyelinap melewati kawat berduri, bajunya tersangkut, darah menetes, dan tiba-tiba: DORR!

Halim terlonjak. Napasnya memburu. Itu hanya suara knalpot motor dari ujung jalan, tapi jantungnya berdetak seperti baru lari dari penjara. Ia menyeka keringat, menunduk. Lamunannya telah menelanjanginya. Dan di sana, di tengah denyut siang yang sepi, ia merasa kakeknya baru saja mati sekali lagi, dalam kepalanya sendiri.

“Mungkin kakekku mati saat itu juga,” pikir Halim dalam gelisah membayangkan penjemputan itu, “jadi ia tidak perlu merasa bersalah karena tak pernah bisa kembali. Ia tidak perlu merindukan anaknya. Ia tidak perlu sempat tua di tempat asing, lalu menanggung pedih yang tak pernah habis. Ia tidak perlu menjadi hantu.”

Mungkin itu yang terbaik. Kakeknya sudah lama mati. Selesai!

Tapi luka sejarah tak pernah benar-benar sembuh. Ia seperti tulang patah yang dibetulkan seadanya. Bisa jalan, tapi sakitnya tetap ada, apalagi saat hujan turun.

Sekarang, di sudut ruang tamu kecil, Halim menatap foto kakeknya. Wajah itu tenang. Seperti tahu bahwa suatu hari nanti, cucunya akan menanyakan ke mana ia dibawa. Dan tak ada siapa-siapa yang bisa memberi jawaban. Sebab negeri ini bukan tempat untuk menjawab. Ia hanya pandai menghapus dan menghadirkan lagi sejarah dengan bekas merah yang tak pernah selesai

Maud Khan 2019

Pertanyaan Usang

“Kapan menikah?”

Kalimat itu seperti jam dinding yang tak pernah mati, berdetak di kepala tiap kali aku pulang ke rumah. Terkadang dari mulut tetangga yang bahkan tak hafal namaku, kadang dari paman jauh yang lebih sering mengirim broadcast dakwah daripada kabar pribadi. Tak jarang dari teman sendiri yang datang membawa pasangannya—bukan dalam niat menyombongkan, tapi tetap saja menyisakan perasaan: mengapa aku belum?

Sebenarnya, aku pun bertanya hal yang sama. Tapi dengan nada yang berbeda. Bukan “kapan menikah?” dengan tanda tanya. Melainkan “kapan menikah...” dengan titik tiga di ujungnya.

Sebab menikah, bagiku, bukan sekadar peristiwa. Ia bukan hanya soal menggenggam tangan seseorang di pelaminan dan makan-makan di depan kamera. Menikah, seperti yang kudengar dari para pembaca makna dan penjaga sunyi, adalah sebuah perjalanan panjang: menggenggam dunia yang tak selalu ramah bersama-sama.

Kahlil Gibran pernah menulis: “Biarlah ada ruang dalam kebersamaanmu, dan biarkan angin langit menari di antara kalian.” Mungkin itulah sebabnya aku merasa, cinta yang dewasa tidak lahir dari tekanan. Ia butuh ruang. Ia perlu waktu. Ia hanya akan tumbuh dari hati yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Tapi di luar sana, suara-suara itu tak henti bergaung. “Menikah itu ibadah.” “Menikah biar nggak sendirian terus.” “Menikah, biar ada yang ngurus kamu.”
Dan aku hanya tersenyum. Kadang angguk-angguk, meski hati tak sepenuhnya sejalan.
Karena mengapa lebih banyak orang bertanya “kapan menikah?” dibanding “apa kau butuh pekerjaan?”
Mengapa tak ada yang bertanya, “apa kau butuh uang?”

Padahal, menikah butuh lebih dari cinta. Ia butuh kerja. Butuh mental yang kuat dalam menghadapi realitas. Mungkin butuh konseling. Butuh saling memaafkan bahkan sebelum ada kesalahan. Menikah bukan soal cukup umur atau mapan secara ekonomi. Ia soal siap atau tidak berbagi ruang, berbagi luka, berbagi waktu, berbagi diam yang tidak selalu nyaman.

Saat ini, aku sedang merajut semua yang berserakan—potongan-potongan hidup yang tercecer di jalan panjang bernama pencarian. Bukan karena aku tak ingin menikah. Tapi karena aku ingin, ketika nanti seseorang itu datang, aku telah cukup mengenal diriku sendiri agar tak mencintainya dalam kebingungan.

Aku percaya, setiap cinta yang besar harus diberi ruang tumbuh dalam kesabaran. Sebab bukan pertemuan yang menciptakan keutuhan, tapi kesiapan untuk menampung luka-luka kecil yang akan datang setelahnya. Dan itu, bukan perkara siapa yang datang lebih dulu. Tapi siapa yang mau tinggal saat cahaya padam.

Aku tidak sedang menunda. Aku sedang mematangkan musim. Karena dalam hidup, ada hal-hal yang hanya indah bila datang tepat waktu—seperti hujan pertama setelah kemarau panjang.

***

Kadang aku membayangkan, andai ada seorang perempuan yang datang, duduk bersamaku di bangku taman yang sepi. Ia tak perlu cantik seperti yang disarankan dunia. Ia hanya perlu mengerti, bahwa aku sedang menata ulang jalan hidup yang sudah lama tergerus hujan.

Aku tak ingin menjadi orang yang salah memulai, hanya karena merasa dikejar. Atau merasa sendirian. Atau demi membungkam pertanyaan yang terus menerus datang. Menikah bukan pintu keluar dari kesepian. Ia adalah pintu masuk menuju komitmen, kerja sama, dan kadang—konflik yang kita pilih sendiri.

Mungkin suatu hari, saat semua cukup tenang, dan hatiku telah berhenti mencari bentuk cinta yang ideal, aku akan menjawab pertanyaan itu dengan yakin. Bukan dengan senyum hambar, bukan dengan gumaman “belum tahu.” Tapi dengan langkah nyata.
Dan mungkin, pada hari itu, tak ada lagi yang perlu bertanya,
karena jawabannya akan hadir tanpa perlu diucapkan.

Maud

Probolinggo, 2013

Beberapa Jam Setelah Pesan yang Panjang itu

Pesanmu panjang bahkan terlalu panjang, datang tiba-tiba. Bukan karena isi, maksud atau siapa yang mengirim. Tapi aku menjadi heran, karena baru pertama aku menerima "sms" sepanjang itu. Telepon genggamku terseok-seok karena huruf-huruf kecil itu tak pernah habis. Kubaca sekali, dua kali, tiga kali, berkali-kali sehingga dapat mafhum kata demi kata. Atau sekedar meyakinkan bahwa "sms" itu tak salah orang.

Sebenarnya ingin aku membalas pesan panjangmu dengan beberapa kata saja, tak perlu berbelit. Cukup menekan beberapa huruf, selesai. Kupikir ini sepele. Tak perlu memeras otak apalagi menyita waktu berhargaku yang akhir-akhir ini sudah terbuang percuma. Tapi rupanya aku tertarik. Aku mulai sedikit memikirkan... "apa yang harus kutulis?"

Aku tidak suka menulis terlalu banyak. Bahkan buat mengisi blog atau kolom catatan saja aku tak pernah sempat. Tapi beberapa orang bisa melalui ini. Mereka terbiasa menulis dan membiarkannya tergeletak diatas meja atau bahkan dibuang begitu saja tanpa berharap akan sesuatu yang lebih "menghasilkan". Aku menyukai cara berpikirmu, simpel, cerdas tapi tidak serawut. Setidaknya menurutku.

Jujur, aku tidak pernah ingin terlibat dengan apapun, siapapun. Pertemuan dengan dia dan kau adalah sebuah kebetulan dan sebenar-benarnya kebetulan. Aku tak pernah tau sejauh mana aku mengenal kalian. Aku hanya bisa bersyukur bisa terlanjur berkumpul pada lingkaran kekonyolan kecil ini.

Dua tahun lalu,  di ibu kota. Saat semua mata tertuju pada kalian, di ruangan itu, hening. Setelah beberapa bait sajak terseret dan beberapa lagi hilang. Aku ingin katakan bahwa "kalian adalah pasangan duet yang serasi".
Sejak itulah aku mulai bersahabat dengan laki-laki aneh itu. Ada beberapa cerita kecil, kisah kecil dan beberapa lelucon kecil yang menghinggapi kami. Termasuk pada beberapa bait yang hilang itu.

Tetapi dia, si Broer itu... Ya, si Broer. Penyair kondang itu, yang terkenal angkuh di panggung dengan puisi-puisi cemerlangnya bahkan tak bisa jujur dengan dirinya sendiri. Ia juga suka membual sepertiku meski mungkin tak separah aku. Bisa kau bayangkan bagaimana jika kami berkumpul. Bahkan kerikil-kerikil di sekitar kami pun ikut beterbangan mendengar derai tawa yang tak kunjung hilang itu. Jika ada orang asing, kami akan disangka gila.

Sesekali aku memancing dan mengarahkan pembicaraan pada hal-hal berbau romantis. Tapi bukan karena dia tidak romantis, justru karena romantis, dia semakin menggila, kata-katanya membakar langit, beberapa bagian lagi ia hilangkan. Pernah kupaksakan untuk membongkar isi kepalanya, tapi kosong, sepertinya sudah ia simpan pada bagian lain.

Kau tahu, Jika sebentar lagi dia hendak menikah. Dan tahukah kau? Dari siapa aku mendengar kabar itu? Bahkan si Broer pun tak pernah bersedia membuka mulutnya atau mengetik beberapa pesan pendek dan mengabariku. Hanya ada kawan yang kebetulan berkawan denganku sudi memberitahuku soal itu.

Lalu, hanya karena sekelumit cerita itu kau mengirimiku pesan begitu panjang??? Atau ada beberapa orang lagi yang menjadi sasaran pesan panjangmu seperti "Vivi" atau yang lain atau bahkan si Broer juga?

Hmm... sepertinya aku mulai lelah. Buat apa kuteruskan. Sedang si Broer sudah menutup cerita setelah menemukan Utari-nya. Begitu pula kau yang lebih dulu menemukan tokoh Broer idamanmu. Sedang aku, hanya figuran yang berputar-putar, tenggelam dalam elegi hidupku sendiri. Dan sekali lagi menjadi korban SMS panjang.

Semoga cerita ini masih menemukan sekuel-nya.....

Surabaya, Okt 2010


Kamar Sebelah (Cerpen)

Rafi mulai menghitung hari dengan rasa jemu yang semakin pekat. Ia tinggal di kamar kost nomor tujuh, sebuah bilik sempit di gang sempit pula seukuran lemari baju keluarga kecil. Dinding-dindingnya kurus, mudah sekali mengantar suara dari kamar sebelah. Kipas angin tua berdengung sepanjang malam, dan udara pengap Surabaya bulan September membuat napas terasa seperti mendaki tangga tanpa akhir. Belum genap sepekan sejak kepindahannya ke rumah kost kecil di gang sempit daerah Kalimas, ia mulai merasakan jenuh yang menyesakkan.

Namun, bukan hanya pekerjaan yang mengusik ketenangannya. Dari kamar sebelah, tiap malam terdengar batuk panjang dan berat. Awalnya Rafi merasa terganggu. Dinding tipis kost itu seolah tak mampu meredam suara apapun. Tapi lama-kelamaan, batuk itu seperti panggilan yang asing: nyaring namun menyiratkan luka. Ada kesedihan yang samar di dalamnya. Bukan sekadar gangguan, melainkan tanda dari sesuatu yang lebih dalam.

Kamar itu dihuni seorang pria. Umurnya sekitar tiga puluh tujuh, mungkin lebih. Tubuhnya agak kurus, kulitnya cokelat kegelapan seperti baru terkena sinar matahari. Setiap pagi, ia keluar lebih dulu, berangkat dengan langkah tenang menuju pelabuhan, katanya bekerja sebagai kuli angkut. Ia jarang bicara, hanya tersenyum kecil setiap kali berpapasan. Anehnya, ia tak tampak seperti kuli. Baju-bajunya rapi, jam tangannya mahal, sejenis merek yang biasa dilihat lewat kaca etalase toko arloji.

Rasa ingin tahu akhirnya mendorong Rafi untuk bertanya pada penjual somay di depan gang. Dari lelaki tua itu, ia mendapat secuil kisah.

"Mas Jati itu sudah tiga tahun tinggal di situ," ujar penjual somay sambil meracik pesanan. "Orangnya baik, tenang. Tapi ya... hidupnya berat."

Rafi mengangguk pelan. Malam itu, batuk dari kamar sebelah terdengar lebih lama dari biasanya. Seakan ada beban yang tak habis-habis ditumpahkan lewat suara serak itu.

Beberapa hari kemudian, secara tak sengaja mereka berbicara. Hanya obrolan ringan di depan kamar, namun dari cara Mas Jati menatap, tampak ada kepercayaan yang hendak ia bagi. Beberapa hari setelahnya, ia bahkan mengajak Rafi makan.

"Anggap saja traktiran kecil. Habis gajian," katanya. Suaranya tenang, sedikit berat.

Di warung sederhana itu, cerita yang selama ini tertutup mulai terbuka.

Dulu, katanya, ia tinggal di rumah besar. Ayahnya seorang pengusaha hotel, ibunya perempuan yang lembut dan penuh kasih. Tapi dunia berubah ketika ibunya wafat, dan sang ayah menikah lagi dengan perempuan beranak satu. Tak lama berselang, sang ayah pun meninggal dunia. Dari sanalah semuanya mulai runtuh. Keluarga besar ayahnya menuduh ia bukan anak kandung, hanya anak angkat yang tak berhak atas apapun.

"Katanya aku hanya anak pungut," ujarnya perlahan. "Ibu dan Bapak mengangkatku karena mereka tak punya anak. Tapi setelah mereka tiada, siapa peduli? Aku disuruh pergi."

Ia pergi tanpa harta, hanya membawa beberapa koper berisi pakaian dan jam tangan yang kini masih dikenakannya, satu-satunya barang berharga yang tersisa dari kehidupan lamanya. Kuliah yang sempat dijanjikan pun sirna. Ia berpindah-pindah, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu kota ke kota berikutnya. Hingga akhirnya ia tiba di Surabaya.

Kadang, saudara tirinya datang membayarkan uang kost dan memberinya sedikit uang makan. Tapi selebihnya, hidup ia jalani sendirian. Batuk yang terdengar tiap malam itu adalah hasil dari tubuh yang tidak terbiasa kerja kasar, tapi tetap dipaksa oleh kebutuhan hidup.

Malam itu, di bawah lampu neon yang temaram, Rafi memandang kamar sebelah. Suara batuk kembali terdengar, pelan, serak, nyaris seperti bisikan.

Dan entah mengapa, dalam keremangan itu, Rafi merasa kecil. Ia yang mengeluh karena panas dan brosur yang ditolak orang-orang, ternyata masih lebih beruntung. Ada manusia lain di dinding sebelah, yang bertahun-tahun bertahan hanya dengan sisa-sisa kasih yang pernah ia kenal.

Kadang, derita bukan untuk diadu siapa lebih parah. Tapi untuk menyadari bahwa di dunia ini, luka punya banyak suara. Salah satunya, terdengar setiap malam... dari kamar sebelah.

Surabaya, Maret 2010

Tak Berkesudahan

Sedikitpun tiada pernah terbersit dalam benakku menjalani hidup yang dijalari pikiran macam ini. Tapi pantaskah kita mengeluh? sedang keluhan tidak akan menyelesaikan semuanya. Hidup selalu butuh keputusan, apapun itu. Aku sadar, jika keadaan menentukan seberapa banyak pilihan kita. Kemudian kita akan berdalih dengan berbagai cara bahwa... kita tak ada pilihan.
Hmmm, rupanya ketersediaan maaf pada diri sendiri pun terbatas. Kala kepasrahan telah memuncak, tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali memaki dan mengumpat pada diri yang penuh rasa bersalah.
"Tuhan, aku butuh petunjuk-Mu atas semua ini. Biarlah semua termakan waktu, tetapi percayalah jiwaku masih bertunduk pada-Mu."
Kemudian cahaya yang melintas hilang sudah, entah kapan ia akan datang lagi. Benar-benar pertobatan yang sia-sia. Seiring dengan berjaannya hari, aku terpaku meratap dan melamun dengan dalih-dalihku yang tak berkesudahan. Ternyata aku masih menginginkan dia.

Maud Khan
di Suatu malam... Lupa
Diberdayakan oleh Blogger.

Trending now

Popular Posts