Latest blog posts

Kamar Sebelah (Cerpen)

Rafi mulai menghitung hari dengan rasa jemu yang semakin pekat. Ia tinggal di kamar kost nomor tujuh, sebuah bilik sempit di gang sempit pula seukuran lemari baju keluarga kecil. Dinding-dindingnya kurus, mudah sekali mengantar suara dari kamar sebelah. Kipas angin tua berdengung sepanjang malam, dan udara pengap Surabaya bulan September membuat napas terasa seperti mendaki tangga tanpa akhir. Belum genap sepekan sejak kepindahannya ke rumah kost kecil di gang sempit daerah Kalimas, ia mulai merasakan jenuh yang menyesakkan.

Namun, bukan hanya pekerjaan yang mengusik ketenangannya. Dari kamar sebelah, tiap malam terdengar batuk panjang dan berat. Awalnya Rafi merasa terganggu. Dinding tipis kost itu seolah tak mampu meredam suara apapun. Tapi lama-kelamaan, batuk itu seperti panggilan yang asing: nyaring namun menyiratkan luka. Ada kesedihan yang samar di dalamnya. Bukan sekadar gangguan, melainkan tanda dari sesuatu yang lebih dalam.

Kamar itu dihuni seorang pria. Umurnya sekitar tiga puluh tujuh, mungkin lebih. Tubuhnya agak kurus, kulitnya cokelat kegelapan seperti baru terkena sinar matahari. Setiap pagi, ia keluar lebih dulu, berangkat dengan langkah tenang menuju pelabuhan, katanya bekerja sebagai kuli angkut. Ia jarang bicara, hanya tersenyum kecil setiap kali berpapasan. Anehnya, ia tak tampak seperti kuli. Baju-bajunya rapi, jam tangannya mahal, sejenis merek yang biasa dilihat lewat kaca etalase toko arloji.

Rasa ingin tahu akhirnya mendorong Rafi untuk bertanya pada penjual somay di depan gang. Dari lelaki tua itu, ia mendapat secuil kisah.

"Mas Jati itu sudah tiga tahun tinggal di situ," ujar penjual somay sambil meracik pesanan. "Orangnya baik, tenang. Tapi ya... hidupnya berat."

Rafi mengangguk pelan. Malam itu, batuk dari kamar sebelah terdengar lebih lama dari biasanya. Seakan ada beban yang tak habis-habis ditumpahkan lewat suara serak itu.

Beberapa hari kemudian, secara tak sengaja mereka berbicara. Hanya obrolan ringan di depan kamar, namun dari cara Mas Jati menatap, tampak ada kepercayaan yang hendak ia bagi. Beberapa hari setelahnya, ia bahkan mengajak Rafi makan.

"Anggap saja traktiran kecil. Habis gajian," katanya. Suaranya tenang, sedikit berat.

Di warung sederhana itu, cerita yang selama ini tertutup mulai terbuka.

Dulu, katanya, ia tinggal di rumah besar. Ayahnya seorang pengusaha hotel, ibunya perempuan yang lembut dan penuh kasih. Tapi dunia berubah ketika ibunya wafat, dan sang ayah menikah lagi dengan perempuan beranak satu. Tak lama berselang, sang ayah pun meninggal dunia. Dari sanalah semuanya mulai runtuh. Keluarga besar ayahnya menuduh ia bukan anak kandung, hanya anak angkat yang tak berhak atas apapun.

"Katanya aku hanya anak pungut," ujarnya perlahan. "Ibu dan Bapak mengangkatku karena mereka tak punya anak. Tapi setelah mereka tiada, siapa peduli? Aku disuruh pergi."

Ia pergi tanpa harta, hanya membawa beberapa koper berisi pakaian dan jam tangan yang kini masih dikenakannya, satu-satunya barang berharga yang tersisa dari kehidupan lamanya. Kuliah yang sempat dijanjikan pun sirna. Ia berpindah-pindah, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu kota ke kota berikutnya. Hingga akhirnya ia tiba di Surabaya.

Kadang, saudara tirinya datang membayarkan uang kost dan memberinya sedikit uang makan. Tapi selebihnya, hidup ia jalani sendirian. Batuk yang terdengar tiap malam itu adalah hasil dari tubuh yang tidak terbiasa kerja kasar, tapi tetap dipaksa oleh kebutuhan hidup.

Malam itu, di bawah lampu neon yang temaram, Rafi memandang kamar sebelah. Suara batuk kembali terdengar, pelan, serak, nyaris seperti bisikan.

Dan entah mengapa, dalam keremangan itu, Rafi merasa kecil. Ia yang mengeluh karena panas dan brosur yang ditolak orang-orang, ternyata masih lebih beruntung. Ada manusia lain di dinding sebelah, yang bertahun-tahun bertahan hanya dengan sisa-sisa kasih yang pernah ia kenal.

Kadang, derita bukan untuk diadu siapa lebih parah. Tapi untuk menyadari bahwa di dunia ini, luka punya banyak suara. Salah satunya, terdengar setiap malam... dari kamar sebelah.

Surabaya, Maret 2010

1 komentar:

  1. Kabar baik!!!

    Nama saya teddy dan saya dari Jawa Tengah Indonesia dan alamat saya KP. KADU RT 10 RW 04 KEL SUKAMULYA KEC CIKUPA KAB TANGERANG BANTEN, Saya baru saja menerima pinjaman Rp 3 Miliar (Small Business Admintration (SBA) dari Perusahaan Pinjaman Dangote setelah membaca artikel dari Lady Jane Alice (ladyjanealice@gmail.com) dan Mahammad Ismali (mahammadismali234@gmail.com) tentang cara mendapatkan
    pinjaman dari Perusahaan Pinjaman Dangote dengan tingkat bunga 2% tanpa lisensi atau biaya gurantor, saya baru saja melamar melalui email dan ikhlas selama prosesnya, awalnya saya takut mengira itu seperti penipuan perusahaan peminjaman sebelumnya, tetapi yang mengejutkan saya ini nyata bahwa saya juga berjanji akan memberi tahu lebih banyak orang, percayalah itu nyata 100%, pelamar lain dari negara lain juga dapat bersaksi.

    Email Perusahaan Pinjaman Dangote Melalui email: Dangotegrouploandepartment@gmail.com

    Email saya: teddydouble334@yahoo.com

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Trending now

Popular Posts